ilustrasi(Antara)
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) berkomitmen mempercepat pengembangan ekosistem biohidrogen sebagai bagian dari strategi perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional. Langkah ini memanfaatkan potensi besar biomassa Indonesia nan mencapai 80 juta ton per tahun.
Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa pengembangan hidrogen rendah karbon ini bermaksud untuk mendukung dekarbonisasi sekaligus memperkuat ketahanan daya nasional. Sebagai subholding daya primer PT PLN (Persero), PLN EPI sekarang memperluas fokusnya tidak hanya pada daya fosil, tetapi juga pada molekul daya hijau.
"PLN EPI bekerja memastikan seluruh molekul daya nan dibutuhkan pembangkit tersedia. Ke depan, kami tidak hanya berbincang daya fosil, tetapi juga biomassa, bioenergi, hidrogen, dan amonia," ujar Hokkop dalam aktivitas Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Senin (28/7).
Optimalisasi Potensi Biomassa dan Limbah Sawit
Hokkop mengungkapkan bahwa dari total potensi 80 juta ton biomassa per tahun, tetap terdapat sekitar 60 juta ton nan dapat dikembangkan menjadi produk daya rendah karbon. Biomassa tersebut tidak hanya digunakan untuk program co-firing PLTU, tetapi juga sebagai bahan baku biohidrogen, biochar, biogas, hingga biomethane.
Selain biomassa padat, Indonesia mempunyai sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit (PKS) nan menghasilkan limbah palm oil mill effluent (POME). Limbah ini dinilai sebagai sumber potensial untuk pengembangan biogas dan biohidrogen nan dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan perkebunan.
Inisiatif PLN EPI Sejak 2022:
- Pembangunan ekosistem biomassa berbareng pemerintah daerah, golongan tani, dan BUMDes.
- Pengembangan compressed biogas (CBG) berbasis limbah sawit.
- Inisiatif waste to energy dan produksi biochar.
- Kerja sama dengan lebih dari 16 mitra strategis untuk rantai pasok bioenergi.
Roadmap Menuju Komersialisasi 2030
Dalam peta jalan (roadmap) perusahaan, PLN EPI menempatkan hidrogen dan amonia sebagai pilar upaya masa depan. Tahap pengembangan teknologi bakal dilakukan secara berjenjang pada periode 2026-2030, nan meliputi:
- Studi kepantasan (feasibility study).
- Proyek percontohan (pilot project).
- Uji coba pemanfaatan pada pembangkit listrik sebagai fondasi komersialisasi.
Hokkop menekankan bahwa keberhasilan ekosistem ini memerlukan kerjasama lintas sektor, mulai dari penyedia teknologi hingga lembaga pembiayaan. "Tantangannya adalah membangun ekosistem nan kuat agar potensi biomassa Indonesia menjadi fondasi industri hidrogen rendah karbon," tambahnya.
Dalam jangka panjang, pengembangan ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan internal PLN, tetapi juga mendorong dekarbonisasi di sektor industri berat seperti semen, baja, dan petrokimia, serta membuka kesempatan pasar hidrogen di tingkat regional. (Ant/E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·