Ekonomi Singapura Melambat Jadi 5,7 Persen pada Kuartal II 2026

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi gedung perkantoran di Singapura. Foto: harhar38/Shutterstock

Pertumbuhan ekonomi Singapura melambat pada kuartal II 2026 meski tetap ditopang kuatnya permintaan terhadap teknologi kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) nan mendorong sektor manufaktur.

Mengutip Straits Times pada Selasa (14/7), Kementerian Perdagangan dan Industri (Ministry of Trade and Industry/MTI) Singapura melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,7 persen secara tahunan pada periode April-Juni 2026.

Angka itu lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 6,3 persen pada kuartal I 2026.

Secara kuartalan setelah disesuaikan secara musiman, ekonomi Singapura tumbuh 1,1 persen, juga melambat dari pertumbuhan 1,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Perlambatan terutama terjadi pada sektor bangunan nan hanya tumbuh 6,2 persen secara tahunan, turun dari 12,9 persen pada kuartal I.

Sementara, sektor perdagangan besar dan eceran, transportasi, serta pergudangan tumbuh 6,3 persen, lebih rendah dibandingkan 9,3 persen pada kuartal sebelumnya.

Di sisi lain, sektor manufaktur tetap menjadi penopang utama ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 12,2 persen, meningkat dari 8 persen pada kuartal I. MTI menyebut keahlian didorong oleh meningkatnya produksi di industri elektronik dan rekayasa.

Namun, industri kimia dan biomedis justru mengalami kontraksi akibat terganggunya pasokan bahan baku sebagai akibat bentrok di Timur Tengah.

Kinerja perdagangan juga tetap menunjukkan tren positif. Ekspor domestik nonmigas (non-oil domestic exports/NODX) Singapura melonjak 38,4 persen pada Mei dibandingkan periode nan sama tahun lalu, setelah naik 24,4 persen pada April.

Meski demikian, prospek ekonomi Singapura tetap dibayangi ketidakpastian akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Memanasnya kembali bentrok antara AS dan Iran mendorong nilai minyak kembali naik ke atas USD 80 per barel setelah sebelumnya sempat turun ke USD 71 per barel usai kesepakatan gencatan senjata.

Senior Economist Oxford Economics, Sheana Yue mengatakan ekspor berbasis AI diperkirakan tetap bakal menjadi mesin utama pertumbuhan Singapura pada paruh kedua tahun ini.

"Dampak lanjutan ini biasanya bakal menekan shopping rumah tangga, investasi bisnis, serta sektor transportasi dan jasa perdagangan pada kuartal-kuartal mendatang. Meski demikian, permintaan AI dan posisi Singapura dalam rantai pasok regional bakal membikin ekspor tetap menjadi mesin utama pertumbuhan," ujarnya.

Oxford Economics memproyeksikan ekonomi Singapura tumbuh 3,4 persen sepanjang 2026, berada di kisaran atas proyeksi MTI sebesar 2-4 persen.

Kepala Ekonom Grup RHB Bank, Barnabas Gan mengingatkan bahwa selain akibat geopolitik, perlambatan investasi AI juga dapat menjadi ancaman bagi ekonomi Singapura.

"Perlambatan investasi AI nan lebih tajam dari perkiraan bakal mengurangi permintaan dunia terhadap semikonduktor dan produk elektronik, sehingga menekan ekspor, produksi industri, dan permintaan eksternal Singapura," kata Gan.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan