Ekonomi Hijau Jadi Kunci Capai Target Pertumbuhan 8 Persen

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ekonomi Hijau Jadi Kunci Capai Target Pertumbuhan 8 Persen Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Nizhar Marizi, (tengah).(MI/Naufal Zuhdi)

PEMERINTAH menempatkan ekonomi hijau sebagai salah satu strategi utama untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada 2029. Namun, sasaran tersebut memerlukan support investasi nan lebih besar serta peningkatan keahlian ekspor secara signifikan.

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Nizhar Marizi, mengatakan pemerintah telah mengintegrasikan prinsip ekonomi hijau ke dalam beragam arsip perencanaan pembangunan, mulai dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) hingga Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

“Untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029, kebutuhan nan diperlukan cukup besar. Konsekuensinya, kudu ada tambahan investasi sekitar 17% dari tingkat investasi nan selama ini dilakukan. Selain itu, ekspor juga perlu tumbuh lebih dari 11% per tahun dibandingkan capaian saat ini,” kata Nizhar di Jakarta, Selasa (2/6).

Menurutnya, ekonomi hijau tidak hanya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pembangunan berjalan secara berkepanjangan dengan tetap menekan emisi gas rumah kaca.

Nizhar menjelaskan visi pembangunan jangka panjang Indonesia mencakup dua sasaran nan sejalan dengan konsep ekonomi hijau, ialah mendorong Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi sekaligus menurunkan intensitas emisi karbon.

“Kita mau pendapatan masyarakat meningkat dan Indonesia menjadi negara maju. Artinya, produk domestik bruto alias GDP kudu terus tumbuh. Namun di sisi lain, kita juga mempunyai sasaran untuk menurunkan intensitas emisi. Jadi GDP naik, tetapi tingkat emisinya justru berkurang,” terangnya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemerintah menyiapkan dua jalur utama transformasi ekonomi hijau. Jalur pertama adalah melakukan dekarbonisasi terhadap sektor-sektor ekonomi nan sudah ada saat ini, terutama sektor daya nan menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.

“Haluan pertama adalah mentransformasi aktivitas ekonomi nan ada agar menjadi lebih rendah karbon. Ini terutama dilakukan melalui dekarbonisasi sektor energi,” jelas dia.

Sementara jalur kedua adalah menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru nan berbasis pada kekayaan alam dan kelebihan Indonesia. Pemerintah menilai potensi keanekaragaman hayati nan dimiliki Indonesia dapat menjadi fondasi bagi pengembangan sektor ekonomi masa depan nan lebih berkelanjutan.

“Kami juga mau menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Caranya dengan memberikan nilai tambah nan lebih tinggi terhadap kekayaan alam Indonesia, terutama keanekaragaman hayati nan sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal,” pungkasnya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia