Ekonom Sebut Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh, Tapi Waspada Risiko Fiskal

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Prasasti Center Piter Abdullah menilai perekonomian Indonesia tetap berada dalam kondisi baik meski dibayangi sejumlah risiko. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi nasional tetap positif, namun pemerintah perlu mewaspadai tekanan pada sektor fiskal dan arus modal di tengah turbulensi ekonomi global.

Hal itu disampaikan Piter dalam obrolan nasional berjudul Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting alias Rentan? nan digelar Forum Masyarakat Indonesia Emas (Formas) berbareng Universitas Tarumanagara (Untar), Jumat (17/7/2026).

"Saya mau mengatakan perekonomian Indonesia masih, dengan tanda kutip, baik-baik saja. Terlepas dari perdebatan angka, kita sepakat ekonomi Indonesia pada kuartal pertama dan kedua tetap tumbuh positif," ujar Piter.

Menurut dia, laju pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di kisaran 5 persen, baik sedikit di bawah maupun di atas nomor tersebut. Namun, dia menegaskan kata "masih" menjadi penekanan lantaran terdapat sejumlah persoalan nan kudu segera diantisipasi.

Salah satu akibat nan disoroti adalah kondisi neraca pembayaran, khususnya pada neraca modal dan finansial nan sekarang mengalami defisit.

Padahal, kata Piter, selama ini defisit transaksi melangkah biasanya ditutup oleh surplus pada neraca modal dan finansial melalui masuknya arus investasi. Kondisi saat ini justru menunjukkan aliran modal keluar akibat meningkatnya persepsi risiko.

"Kalau sekarang nan mengalami defisit justru neraca modal dan finansial, artinya aliran modal keluar. Kenapa modal keluar? Itu disebabkan oleh aspek risiko," jelasnya.

Selain itu, Piter juga menyoroti kondisi fiskal nan perlu mendapat perhatian serius. Menurut dia, lebih dari sepertiga anggaran dalam APBN digunakan untuk bayar kembang dan angsuran pokok utang sehingga ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas.

"Kalau diibaratkan rumah tangga, lebih dari sepertiga penghasilan hanya untuk bayar cicilan. Artinya, ruang shopping untuk program-program pembangunan menjadi berkurang," katanya.

Piter menilai tantangan terbesar Indonesia bukan semata-mata berasal dari gejolak ekonomi global, melainkan gimana pemerintah mengelola perekonomian domestik.

"Nah, jika dikaitkan dengan pertanyaan apakah kita rentan alias kuat menghadapi turbulensi global, saya mau mengatakan kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kondisi global. nan kudu kita pikirkan adalah gimana kita mengelola perekonomian kita sendiri," ujarnya.

Menurut Piter, arah kebijakan pemerintah, pengelolaan risiko, dan penyelenggaraan program pembangunan bakal menentukan keahlian Indonesia menghadapi beragam tantangan ekonomi ke depan.

"Kalau itu dikelola dengan baik, saya kira kita bisa melewati beragam turbulensi global," ucapnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita
↑