Ekonom Prediksi Rupiah Mulai Menguat Pekan Ini, Ini Faktor Pendorongnya

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Petugas penukaran duit menunjukkan duit Rupiah di sebuah gerai penukaran mata duit di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Pergerakan nilai tukar rupiah diproyeksi berkesempatan menguat pada pekan ini. Kurs rupiah saat ini berada di Rp 17.802 per dolar AS pada Senin (1/6) pukul 14.46 WIB berasas info Bloomberg.

IRRD Economist Bank Tabungan Negara (BTB), Myrdal Gunarto, memproyeksi nilai tukar rupiah pada pekan ini berkesempatan menguat ke kisaran Rp 17.686 hingga Rp 17.724 per dolar AS.

Ia menilai, penguatan tersebut didukung oleh berakhirnya aspek musiman permintaan dolar AS pada akhir bulan.

“Kalau saya lihat sih, untuk pekan ini harusnya kita menguat ya. Bisa kembali lagi ke sekitar (Rp) 17.724 sampai maksimal-maksimalnya itu 17.686 (per dolar AS). Antara itu,” ucap Myrdal saat dihubungi oleh kumparan, Senin (1/6).

Selain itu, dia menyatakan meski permintaan dolar untuk kebutuhan pembayaran dividen tetap cukup tinggi, tekanannya diperkirakan tidak sebesar nan terjadi pada Mei lalu.

Di samping itu, volatilitas indeks global, posisi indeks dolar AS, serta tekanan dari nilai minyak bumi juga dinilai mulai mereda.

“Terutama ya setelah kita lihat adanya kemungkinan perjanjian tenteram antara Iran, Amerika Serikat, maupun juga adanya realita jika nilai minyak sekarang sudah terus mengalami penurunan harga,” jelas Myrdal.

Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong aliran modal asing kembali masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga mendukung penguatan rupiah.

Myrdal melanjutkan, sentimen pasar saat ini juga condong memasuki fase risk on, nan tercermin dari menurunnya volatilitas indeks global, melemahnya indeks dolar AS, dan nilai minyak nan lebih rendah dibandingkan dua pekan sebelumnya.

“Dan di sisi nan lain juga spread antara yield Indonesia dengan Amerika juga tetap lebar, nan tenor 10 tahun tetap di atas 220 pedoman poin. Jadi itu nan membikin rupiah kita menguat,” lanjut Myrdal.

Petugas penukaran duit menghitung duit Rupiah di sebuah gerai penukaran mata duit di Jakarta (12/5/2026). Foto: Bay Ismoyo/AFP

Pelemahan Masih Mungkin Terjadi

Meski demikian, Myrdal menilai pelemahan rupiah tetap dapat terjadi andaikan terdapat sejumlah aspek penghambat. Salah satunya adalah proses konversi kurs asing hasil ekspor nan belum melangkah lancar. Selain itu, permintaan dolar untuk kebutuhan repatriasi dividen kepada penanammodal asing juga tetap berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah.

“Sama sisanya paling dari potensi adanya money outflow. Itu pun jika kondisi pasar finansial domestik jelek ya, lantaran nan (hasil) MSCI ini kemungkinan sih tetap ada sisa-sisanya (efeknya),” tutur Myrdal.

Menambahkan Myrdal, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, menilai arah rupiah pekan depan bakal sangat ditentukan oleh apakah pasar mulai memandang perbaikan struktur suku kembang dan kurva imbal hasil Indonesia pasca kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps.

Menurutnya, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan suku kembang merupakan langkah nan tepat guna meredam tekanan terhadap rupiah. Meski demikian, dia menilai upaya tersebut perlu didukung oleh penyesuaian di pasar obligasi agar efektivitasnya dalam memperkuat nilai tukar dapat lebih optimal.

“Saya memandang rupiah mempunyai kesempatan menguat, tetapi ada syarat krusial nan kudu dipenuhi. Pasar kudu memandang bahwa kenaikan BI-Rate sebesar 50 bps betul-betul tercermin dalam struktur imbal hasil Indonesia,” ujar Fakhrul kepada kumparan.

Katanya, kurva imbal hasil saat ini tetap relatif datar dan belum sepenuhnya mencerminkan arah kebijakan pengetatan moneter nan ditempuh BI. Menurutnya, dalam kondisi normal, kenaikan suku kembang semestinya diikuti peningkatan imbal hasil obligasi, terutama pada tenor jangka panjang, sebagai gambaran akibat nan lebih tinggi, ekspektasi inflasi, serta premi waktu (term premium) nan meningkat.

Karyawan menghitung duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

“Ketika tenor satu tahun dan sepuluh tahun sama-sama berada di sekitar 6,7 persen, pasar menerima sinyal nan membingungkan. Di satu sisi Bank Indonesia mengatakan stabilitas nilai tukar menjadi prioritas dan meningkatkan suku kembang 50 bps. Namun di sisi lain pasar obligasi belum menunjukkan penyesuaian nan sejalan dengan pesan tersebut,” jelasnya.

Menurut Fakhrul, selama kondisi ini berlangsung, penanammodal dunia bakal condong mempertanyakan apakah kebijakan pengetatan moneter betul-betul bakal dipertahankan dalam jangka waktu nan cukup panjang. Akibatnya, akibat positif kenaikan suku kembang terhadap rupiah menjadi tidak maksimal.

Ia menilai salah satu aspek nan membikin rupiah belum bisa menguat lebih sigap adalah lantaran pasar belum memperoleh insentif nan cukup untuk menempatkan dananya pada aset berdenominasi rupiah dalam jangka panjang.

“Bank Indonesia sudah melakukan bagiannya. Sekarang pasar perlu memandang penyesuaian di sisi kurva imbal hasil. Kalau long end mulai bergerak naik dan kurva kembali mencerminkan kondisi esensial nan sehat, saya memandang kesempatan penguatan rupiah menuju Rp 17.300 apalagi Rp 16.800 per dolar AS menjadi jauh lebih besar,” imbuh Fakhrul.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan