Efisiensi Operasional Dongkrak EBITDA Perusahaan di Tengah Penurunan Pendapatan

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Efisiensi Operasional Dongkrak EBITDA Perusahaan di Tengah Penurunan Pendapatan Alat berat milik BUMA tengah beroperasi.(Dok.Buma Internasional)

PT BUMA Internasional Grup Tbk (BUMA International Group/DOID) mencatatkan pemulihan keahlian pada semester I 2026. Perseroan sukses membukukan pertumbuhan untung sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) serta memperkuat arus kas bebas di tengah penurunan pendapatan akibat berakhirnya sejumlah perjanjian pertambangan.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, pendapatan perseroan tercatat sebesar US$693 juta alias turun 5% dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Penurunan tersebut dipengaruhi berakhirnya perjanjian di sejumlah letak tambang di Indonesia dan Australia serta proses penurunan aktivitas (ramp-down) pada beberapa operasi lainnya.

Meski demikian, BUMA International Group bisa meningkatkan EBITDA sebesar 8% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$69 juta dari sebelumnya US$64 juta. Perseroan juga memangkas rugi bersih menjadi US$50 juta alias menyusut 37% dibandingkan rugi bersih US$80 juta pada semester I 2025.

Perbaikan tersebut ditopang oleh peningkatan efisiensi operasional, optimasi tenaga kerja, disiplin shopping modal, serta strategi pengelolaan aset nan meningkatkan keandalan armada pertambangan.

Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, mengatakan beragam langkah transformasi operasional nan dijalankan sejak tahun lampau mulai memberikan hasil positif meskipun perusahaan tetap menghadapi tekanan dari kenaikan nilai bahan bakar.

“Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa beragam langkah nan telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, apalagi di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan nilai bahan bakar nan signifikan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/8).

Menurut Iwan, momentum perbaikan semakin terlihat sepanjang kuartal kedua. Hal itu tercermin dari meningkatnya keandalan armada, produktivitas nan lebih tinggi, hingga kenaikan volume produksi.

“Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur nilai bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas,” katanya.

Dari sisi operasional, volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) pada kuartal II meningkat 10% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 97 juta bank cubic meter (BCM). Sementara itu, produksi batu bara naik 20% menjadi 17 juta ton.

Perseroan juga mencatat peningkatan utilisasi armada melalui perbaikan tingkat kesiapan perangkat berat, penurunan waktu henti (downtime), serta meningkatnya produktivitas alat. Kondisi jalan tambang nan lebih baik dan pengelolaan lampau lintas operasional nan lebih efektif turut mempercepat siklus kerja armada sehingga mendukung peningkatan produksi.

LANGKAH EFISIENSI
Di sisi lain, BUMA tetap menghadapi tekanan dari kenaikan nilai bahan bakar. Biaya bahan bakar per BCM meningkat akibat lonjakan nilai solar sepanjang tahun berjalan. Namun demikian, perusahaan sukses menekan konsumsi bahan bakar per BCM melalui perbaikan kondisi jalan angkut dan peningkatan perilaku berkendara operator.

Efisiensi juga terlihat pada shopping modal (capital expenditure/capex) nan turun drastis menjadi US$37 juta dari US$111 juta pada semester I tahun lalu. Penurunan tersebut didukung optimasi armada dan pengalihan aset dari letak tambang nan telah selesai beroperasi.

Langkah tersebut mendorong arus kas bebas (free cash flow) meningkat signifikan menjadi US$39 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan US$5 juta pada periode nan sama tahun lalu.

Selain memperbaiki keahlian keuangan, BUMA International Group juga mencatat kemajuan pada aspek keberlanjutan. Intensitas emisi perusahaan turun 4% dibandingkan kuartal pertama 2026, sementara kontribusi pendapatan dari batu bara nontermal mencapai 20% dari total pendapatan grup.

Melalui anak usahanya, PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), perseroan juga memperluas program pendidikan vokasi nan membuka akses bagi tenaga kerja muda Indonesia untuk bekerja sebagai Specified Skilled Worker di Jepang melalui training dan sertifikasi nan terintegrasi dengan mitra penempatan kerja internasional. (E-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia