ilustrasi(Antara)
Pelemahan rupiah secara teori disebut dapat meningkatkan daya saing ekspor lantaran nilai produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar global. Namun, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyebut kondisi saat ini tidak otomatis menciptakan windfall bagi eksportir. Windfall dalam ekspor adalah untung luar biasa dan tak terduga nan dinikmati oleh eksportir alias negara akibat lonjakan nilai komoditas dunia alias aspek eksternal lainnya.
"Banyak industri nasional tetap berjuntai pada impor bahan baku, mesin, dan energi, sehingga pelemahan rupiah justru meningkatkan biaya produksi. Margin eksportir akhirnya ikut tergerus," ungkap Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia Erwin Aksa kepada Media Indonesia, Rabu (3/6).
Selain itu, lanjutnya, di tengah perlambatan ekonomi global, permintaan pasar internasional juga belum cukup kuat untuk menyerap kenaikan ekspor secara signifikan.
"Jadi pengaruh positif kurs tidak sebesar siklus-siklus sebelumnya, terutama bagi sektor manufaktur nan struktur produksinya tetap sangat tergantung impor," papar Erwin.
Karena itu, kata dia, nan dibutuhkan saat ini bukan hanya stabilitas nilai tukar. "Tetapi juga penguatan industri hulu domestik, efisiensi logistik, deregulasi perdagangan, dan diversifikasi pasar ekspor agar neraca perdagangan Indonesia lebih sehat dan berkelanjutan," jelasnya.
Pihaknya pun meletakkan perhatian serius pada keahlian surplus perdagangan April 2026 nan turun menjadi hanya US$0,09 miliar dan merupakan level terendah dalam 72 bulan terakhir.
Erwin menyebut perihal itu menunjukkan tekanan terhadap keahlian ekspor nasional semakin nyata di tengah perlambatan permintaan dunia dan meningkatnya impor domestik.
Ia menyebut ada beberapa perihal nan memengaruhi keahlian tersebut. Pertama, nilai sejumlah komoditas unggulan Indonesia mengalami koreksi dibanding periode boom sebelumnya. Sementara volume ekspor manufaktur juga belum pulih sepenuhnya akibat lemahnya permintaan dari pasar utama dunia.
"Kedua, impor bahan baku dan peralatan modal mulai meningkat seiring kebutuhan industri dan proyek strategis dalam negeri, sehingga menekan surplus perdagangan. Ketiga, biaya logistik dunia dan ketidakpastian geopolitik tetap memengaruhi efisiensi perdagangan internasional," kata Erwin.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat sebagai nan terendah dalam 72 bulan terakhir. Surplus perdagangan peralatan pada periode tersebut hanya sebesar US$89,1 juta alias sekitar Rp1,59 triliun (kurs Rp17.860 per dolar AS), jauh lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Jadi surplus April 2026 ini merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020 alias selama surplus 72 bulan berturut-turut,” ujar Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini dalam rilis daring, Selasa (2/6).
Surplus April tersebut juga turun tajam dibandingkan Maret 2026 nan mencapai US$3,32 miliar alias sekitar Rp59,30 triliun, serta lebih rendah dibandingkan April 2025 nan sebesar US$160 juta alias sekitar Rp2,86 triliun. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·