Efek Nocebo Membuat Obat Justru Menciptakan Rasa Sakit Menjadi Nyata

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi wanita menghindari rasa sakit. Foto: Generated by AI

Fenomena ini bukan klenik alias sugesti murahan. Ia adalah kejadian biologis nan terukur, mempunyai sistem neurologis nan jelas, dan sekarang menjadi salah satu subjek penelitian paling menarik dalam bumi pengetahuan obat dan ilmu jiwa klinis. Namanya pengaruh nocebo—kebalikan dari pengaruh plasebo nan lebih banyak dikenal orang.

Apa Itu Efek Nocebo?

Jika pengaruh plasebo terjadi ketika seseorang membaik lantaran dia percaya pengobatannya bakal bekerja meski nan diberikan hanya pil gula, pengaruh nocebo adalah kebalikannya—seseorang mengalami indikasi negatif nan nyata lantaran dia mengharapkan alias mengantisipasi perihal jelek bakal terjadi, apalagi ketika tidak ada unsur aktif nan menyebabkannya.

Istilah ini berasal dari bahasa Latin, nan mana nocebo berfaedah "aku bakal menyakiti" berlawanan dengan placebo yang berfaedah "aku bakal menyenangkan." Efek nocebo sudah diakui organisasi ilmiah sejak 1960-an, tetapi baru dalam dua dasawarsa terakhir, penelitiannya berkembang pesat seiring dengan kemajuan dalam bagian pencitraan otak dan neurobiologi.

Bagaimana Otak Menciptakan Rasa Sakit nan Tidak "Seharusnya" Ada?

Mekanisme pengaruh nocebo melibatkan dua jalur utama di dalam otak. Jalur pertama adalah sistem respons stres ketika seseorang mengantisipasi sesuatu nan buruk. Amigdala bagian otak nan memproses rasa takut mengaktifkan sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal) dan memicu pelepasan hormon kortisol. Kortisol nan meningkat secara tiba-tiba dapat menciptakan beragam indikasi bentuk nyata, termasuk mual, sakit kepala, debar jantung tidak teratur, dan kelelahan.

Ilustrasi sakit kepala. Foto: Shutterstock

Jalur kedua melibatkan kolesistokinin hormon nan berkedudukan dalam transmisi sinyal antar-sel saraf. Penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi nyeri secara aktif meningkatkan kadar kolesistokinin di otak, nan pada gilirannya meningkatkan persepsi terhadap rasa sakit. Ini tidak sekadar "merasa sakit" secara psikologis perubahan kimia, tetapi juga betul-betul terjadi dan dapat diukur melalui pemindaian otak fungsional.

Peran Brosur Obat dan Cara Dokter Berbicara

Salah satu pemicu pengaruh nocebo nan paling sering diabaikan adalah langkah info medis disampaikan. Ketika seseorang membaca pamflet obat nan mencantumkan 30 pengaruh samping nan mungkin terjadi, otak langsung masuk ke mode waspada. Semakin panjang daftar pengaruh samping nan dibaca, semakin tinggi kemungkinan seseorang melaporkan salah satu dari pengaruh tersebut setelah meminum obatnya.

Penelitian nan dipublikasikan dalam jurnal Psychological Bulletin menemukan bahwa langkah master menyampaikan info kepada pasien secara signifikan memengaruhi apakah pengaruh nocebo bakal terjadi alias tidak. Dokter nan menyampaikan info pengaruh samping dengan nada mengkhawatirkan condong mempunyai pasien nan lebih banyak melaporkan keluhan dibandingkan master nan menyampaikan info nan sama dengan nada netral dan meyakinkan.

Di era media sosial, masalah ini semakin kompleks. Seseorang nan bakal memulai pengobatan bisa dengan mudah menemukan ratusan testimoni negatif tentang obat tersebut di forum kesehatan online. Masing-masing testimoni memperkuat ekspektasi negatif nan akhirnya meningkatkan akibat pengaruh nocebo secara bermakna.

Dilema Etis nan Tidak Mudah Diselesaikan

Ilustrasi tenaga medis. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Fenomena ini memunculkan dilema etis nan serius dalam praktik medis. Di satu sisi, master dan tenaga kesehatan mempunyai tanggungjawab etis untuk memberikan informed consent, menginformasikan segala kemungkinan pengaruh samping kepada pasien sebelum pengobatan dimulai. Di sisi lain, info nan terlalu rinci tentang pengaruh samping justru bisa memicu pengaruh nocebo nan membikin pasien merasa sakit tanpa karena farmakologis nan nyata.

Para peneliti sekarang mengusulkan pendekatan nan disebut contextualized informed consent, sebuah langkah menyampaikan info pengaruh samping nan tetap jujur dan lengkap, tetapi dibingkai dalam konteks nan lebih positif dan proporsional.

Misalnya, alih-alih mengatakan "obat ini bisa menyebabkan mual pada sebagian orang," pendekatan nan lebih baik adalah "sebagian besar pasien mentoleransi obat ini dengan baik; sebagian mini mungkin merasakan sedikit ketidaknyamanan di awal nan umumnya mereda dalam beberapa hari."

Rasa sakit nan diciptakan oleh ekspektasi negatif adalah rasa sakit nan nyata secara biologis bukan rekaan, bukan lebay, dan bukan sekadar "pikiran-pikiran saja." Memahami kejadian ini tidak berfaedah meremehkan keluhan pasien, tetapi membuka kesadaran bahwa dalam setiap proses penyembuhan, kondisi mental dan kepercayaan seseorang adalah bagian dari obat itu sendiri.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan