Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa kejadian El Nino nan menguat dengan sangat sigap bakal mendominasi pola cuaca global. Kondisi ini diperkirakan memicu cuaca ekstrem di beragam bagian dunia.
Dalam pembaruan terbarunya nan dirilis Jumat, badan cuaca Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa kejadian suasana periodik tersebut meningkatkan akibat gelombang panas, kekeringan, dan banjir di seluruh dunia. Peringatan ini muncul ketika sejumlah negara di Afrika dan Eropa sedang menghadapi kebakaran rimba besar, sementara musim monsun menimbulkan kekacauan di beragam wilayah Asia Selatan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan El Nino tidak lagi menjadi ancaman nan bakal datang, tetapi sudah berjalan dan memperburuk kondisi global.
"El Nino bukan hanya berada di depan pintu kita, tetapi sudah berada di dalam rumah dan meningkatkan suhu," kata Guterres, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini baru permulaan.
"Ini baru pemanasan. El Nino semakin menguat, menambah bahan bakar bagi planet nan sudah terbakar," ujarnya.
WMO memperkirakan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah bakal melonjak lebih dari 2,9 derajat Celsius di atas normal. Pemanasan nan tidak biasa ini diperkirakan mengganggu sistem cuaca dunia dan mendorong lonjakan suhu di beragam kawasan.
Suhu panas terus bersambung di Manila, Filipina pada Sabtu, (27/4). Sebagian wilayah tetap mengalami cuaca sangat panas akibat kejadian El Nino dengan indeks panas tertinggi mencapai 48 derajat celsius. (REUTERS/Eloisa Lopez) Foto: Suhu panas terus bersambung di Manila, Filipina pada Sabtu, (27/4). Sebagian wilayah tetap mengalami cuaca sangat panas akibat kejadian El Nino dengan indeks panas tertinggi mencapai 48 derajat celsius. (REUTERS/Eloisa Lopez)
Guterres mendesak seluruh negara untuk mempercepat tindakan suasana lantaran akibat El Nino sekarang berjumpa dengan perubahan suasana nan disebabkan oleh aktivitas manusia. Ia secara unik menyebut ekspansi penggunaan bahan bakar fosil sebagai aspek utama nan memperparah krisis iklim. Karena itu, Guterres menyerukan penghentian segera proyek-proyek baru batu bara, minyak, dan gas.
WMO memproyeksikan suhu di atas normal bakal terjadi di nyaris seluruh wilayah daratan dunia. Sinyal panas paling ekstrem diperkirakan melanda Afrika, Eropa Selatan, anak benua India, Asia Timur, dan Amerika Selatan.
Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan bahwa meskipun El Nino terus dipantau secara ketat, peringatan awal kudu diikuti dengan tindakan nyata dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk melindungi masyarakat nan rentan.
"Prakiraan itu sendiri tidak mencegah bahaya, manusialah nan melakukannya," kata Saulo.
"Keputusan nan kita ambil hari ini bakal menentukan akibat nan kita alami besok," tambahnya.
Para intelektual memperingatkan bahwa El Nino tahun ini berpotensi mencapai intensitas rekor ketika mencapai puncaknya pada paruh kedua tahun ini. Namun, mereka menekankan bahwa proyeksi model komputer tetap mengandung ketidakpastian.
(wur/wur)
[Gambas:Video CNBC]
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·