Jakarta -
Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, nan dulu menjadi sumber penghidupan bagi para pedagang, sekarang mulai kehilangan daya tariknya. Kini pengguna ramai-ramai mulai meninggalkan pasar nan membikin omzet para pedagang jatuh.
Penurunan omzet nan mencapai lebih dari 80% lebih memaksa para pedagang mau tak mau menguras sisa tabungan hasil jerit payah di masa kejayaan pasar, hingga kudu menumpuk utang demi memperkuat hidup dan menjaga usahanya tetap berdiri.
Kondisi ini seperti nan dirasakan oleh salah satu pedagang kosmetik dan produk kecantikan di pasar tersebut, Farid. Di mana menurutnya pasar ini sempat mengalami masa kejayaan pada awal tahun 2000an hingga menjelang 2019 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, Farid mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp 5 juta per hari dari hasil berdagang di pasar. Bahkan pada masa-masa kejayaannya itu, dia bisa membeli rumah dan menyisihkan hasil dagangannya dari tabungan.
"Dulu sekitar 2014 alias 2015 saya bisa beli rumah, cash ya. Jadi kita nabung terus beli rumah cash. Untung kita nggak nyicil kan, pinjam duit ke bank buat rumah. Kalau nggak mungkin sudah nggak sanggup bayar saya," kata Farid saat ditemui detikcom di lokasi, Senin (21/9/2026).
Namun berbeda jauh dengan kondisi saat ini, Farid mengatakan hasil dagangan hanya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar. Sampai-sampai duit nan dimilikinya saat ini sudah tidak cukup lagi untuk melakukan perbaikan jika ada kerusakan di rumah.
"Sekarang rumah sudah bocor, genting bocor gitu kan, nggak bisa kita perbaiki. Karena kan uangnya sudah lenyap buat kita makan, nan krusial kan bisa makan dulu," terangnya.
Beruntung saat toko kosmetik dan produk kecantikannya tetap ramai pengguna Farid tidak banyak menghabiskan uangnya. Selain untuk membeli rumah dan dua motor nan tetap dimilikinya, dulu dia lebih banyak menabung lantaran tahu 'roda pasti berputar'.
"Ke pangkas tabungan, ya pasti sudah kemakan. Saya justru bisa memperkuat lantaran tetap ada itu. Tapi ya saya juga ada ambil KUR buat putaran modal jual beli di sini," tutur Farid.
"Jadi sekarang gimana kita imbangin pakai tabungan sama KUR buat perputaran modal sama memperkuat hidup. Kalau kelak memang di sisi sudah nggak kuat, ya mau nggak mau selesaikan KUR-nya dulu baru tutup. Soalnya itu jatuhnya utang kan," paparnya.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dia apalagi sudah berfikir untuk menjual sejumlah aset untuk menutup angsuran upaya ke bank. Hal ini dilakukan agar dirinya tak terus terlilit oleh utang jika usahanya betul-betul sudah tak bisa dipertahankan.
"Sekarang ada rumah saja mau dijual. Kendaraan saya sih motor jika boleh jual ada dua motor jadul, Supra saya 125, sama Beat nan tahun 2013 alias 2014 itu sampai sekarang belum ganti," pungkas Farid.
(igo/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·