Jembatan gantung menujur Air Terjun Cunca Wulang nan menewaskan dua visitor asal Austria, pada (24/5/2026) lalu.(MI/Marianus Marselus)
KEPALA Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) Petrus Antonius Rasyid, kembali menjalani pemeriksaan di Polres Manggarai Barat, Selasa (2/6). Pemeriksaan tersebut berangkaian dengan penyelidikan tata kelola lokasi wisata di Air Terjun Cunca Wulang nan menewaskan dua visitor asal Austria, pada (24/5) lalu.
Petrus diperiksa oleh interogator Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Manggarai Barat. Pemeriksaan ini merupakan nan kedua kalinya sejak kejadian ambruknya jembatan gantung di area wisata Cunca Wulang pada 24 Mei 2026 lalu. Sebelumnya, dia telah dimintai keterangan oleh interogator tindak pidana umum.
Usai pemeriksaan, Petrus mengatakan bahwa interogator tetap mendalami tugas pokok dan kegunaan Disparekrafbud dalam pengelolaan lokasi wisata di Kabupaten Manggarai Barat.
"Hari ini saya dimintai keterangan oleh interogator Tipikor. Pemeriksaan tetap berkarakter awal, baru menggali mengenai tugas pokok dan kegunaan dinas secara keseluruhan. Untuk substansi nan lebih detail, silakan ditanyakan langsung kepada interogator agar tidak terjadi perbedaan informasi," ujarnya kepada wartawan.
Menurut Petrus, pemeriksaan tersebut berangkaian dengan kewenangan dan tanggung jawab dinas dalam pengelolaan destinasi wisata, termasuk aspek pengawasan dan tata kelola nan menjadi perhatian penyidik.
"Yang pasti, pemeriksaan hari ini dilakukan oleh Unit Tipikor. Mungkin mereka sedang memandang ada alias tidaknya dugaan tindak pidana korupsi. Karena itu, saya belum bisa menjelaskan lebih jauh sebelum ada kejelasan dari pihak penyidik," katanya.
Ia mengaku tidak mengingat secara pasti jumlah pertanyaan nan diajukan penyidik. Namun, sebagian besar pertanyaan berangkaian dengan identitas, riwayat pekerjaan, serta penjabaran tugas pokok dan kegunaan dinas berasas izin nan berlaku.
"Saya tidak hafal jumlah pertanyaannya. Pemeriksaan dimulai dari info diri, riwayat pekerjaan, kemudian masuk ke penjabaran tugas pokok dan kegunaan sesuai peraturan nan ada. Karena cukup banyak, prosesnya juga menyantap waktu," ujarnya.
Petrus juga mengungkapkan bahwa interogator menyinggung hasil monitoring nan dilakukan petugas Disparekrafbud di area Air Terjun Cunca Wulang beberapa hari sebelum tragedi terjadi. Namun dia mengaku belum mempelajari secara rinci laporan tersebut.
"Saya memang mendengar ada teman-teman nan turun melakukan monitoring ke lapangan dan hasilnya sudah direkap. Namun lantaran banyak arsip nan kudu dipersiapkan, saya belum sempat mendalami satu per satu. Informasinya monitoring dilakukan pada hari Jumat, sementara saya tetap menjalankan tugas di luar wilayah dan baru kembali pada hari Sabtu. Hari Minggu kejadian itu terjadi," ungkapnya.
Meski demikian, Petrus memastikan seluruh arsip nan dibutuhkan interogator bakal disiapkan andaikan diperlukan dalam proses penyelidikan.
"Hasil monitoring memang sudah ada, tetapi saya belum mempelajari secara detail. Jika nantinya dibutuhkan untuk penjelasan alias permintaan keterangan oleh kepolisian, tentu bakal kami siapkan," tegasnya.
Ia menambahkan, hasil penyelidikan nantinya bakal menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah wilayah dalam memperbaiki pengelolaan lokasi wisata di Kabupaten Manggarai Barat.
"Kalau kelak sudah ada kejelasan, tentu bakal menjadi bahan pertimbangan bagi kami untuk memperbaiki pengelolaan seluruh lokasi wisata nan ada di Kabupaten Manggarai Barat, baik nan dikelola pemerintah maupun oleh pihak pengelola lainnya," katanya.
Petrus juga mengonfirmasi bahwa pemeriksaan kali ini merupakan nan kedua sejak kasus tersebut mencuat ke publik.
"Ini pemeriksaan kedua. Sebelumnya saya diperiksa oleh interogator tindak pidana umum, dan sekarang oleh interogator tindak pidana korupsi," ujarnya. (MM/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·