Pagi itu, dua anak bersiap berangkat ke sekolah. Keduanya mengenakan seragam merah putih, membawa tas di punggung, dan sama-sama mempunyai cita-cita. Bedanya, nan satu hanya perlu naik pikulan umum melewati jalan nan mulus. Setibanya di sekolah, dia belajar di ruang kelas nan nyaman dengan akses internet nan cepat. Sementara itu, di bagian Indonesia nan lain, seorang anak kudu melangkah cukup jauh melewati jalan nan rusak, apalagi terkadang menyeberangi sungai agar bisa sampai ke sekolah.
Mereka sama-sama lahir di Indonesia. Sama-sama menghafal Pancasila. Sama-sama bermimpi untuk meraih masa depan nan lebih baik. Namun, sejak langkah pertama menuju sekolah, mereka sudah memulai perjalanan dengan kondisi nan berbeda.
Sering kali kita bangga memandang pembangunan di Indonesia. Jalan tol terus bertambah, gedung-gedung tinggi berdiri, transportasi semakin modern, dan beragam proyek besar terus berjalan. Semua itu tentu menjadi tanda bahwa Indonesia terus berkembang. Namun, di kembali beragam kemajuan tersebut, ada satu pertanyaan nan rasanya perlu kita renungkan berbareng ialah apakah pembangunan itu betul-betul sudah dirasakan secara merata?
Sampai hari ini, kesenjangan pembangunan tetap menjadi tantangan nan nyata. Sebagian wilayah menikmati akses pendidikan, jasa kesehatan, internet, dan kesempatan ekonomi nan lebih baik. Di sisi lain, tetap ada wilayah nan kudu berjuang untuk mendapatkan jasa dasar nan semestinya bisa dinikmati oleh semua penduduk negara.
Bukan berfaedah masa depan seseorang ditentukan oleh tempat dia dilahirkan. Namun, perbedaan akses sejak mini dapat memengaruhi kesempatan nan dimilikinya di masa depan. Ketika ada anak nan dapat belajar dengan akomodasi lengkap, sementara anak lain tetap kudu berjuang hanya untuk sampai ke sekolah, maka kesenjangan itu bukan lagi sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga tentang kesempatan.
Padahal, setiap anak Indonesia mempunyai kewenangan nan sama untuk belajar, tumbuh, dan mengejar cita-citanya. Karena itu, pembangunan semestinya tidak hanya diukur dari banyaknya jalan tol, gedung tinggi, alias proyek nan sukses diselesaikan. Pembangunan juga perlu diukur dari seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh mereka nan selama ini tetap berada di pinggir perhatian.
Pada akhirnya, pembangunan bukan hanya soal membangun kota-kota besar, tetapi juga memastikan bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun mereka tinggal, mempunyai kesempatan nan sama untuk berkembang. Sebab, Indonesia tidak bakal betul-betul maju jika tetap ada anak-anak nan kudu memulai perjuangannya dari garis nan berbeda.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·