Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pengelola Ragunan telah menyepakati adanya kenaikan nilai ke depannya. Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, mengungkapkan, rencana penyesuaian tarif diambil untuk meningkatkan akomodasi dan jasa di area Ragunan.
Dimaz menilai, tarif Rp 4.000 untuk dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak kurang relevan dengan pendapatan penduduk Jakarta saat ini.
"Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat," ujar Dimaz dalam keterangannya, Sabtu (5/9).
Maka dari itu, Dimaz mengungkapkan, Komisi C DPRD DKI Jakarta berencana melakukan penyesuaian tarif masuk Ragunan di nomor Rp 10.000.
Menurutnya, nomor Rp 10.000 tetap logis dan ramah di kantong jika dibandingkan dengan beberapa lokasi wisata di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
"Tarif sekarang paling mahal Rp 4.000. Rencana bakal dinaikkan menjadi Rp 10.000, tetapi tetap terus kami kaji perihal angka," tutur dia.
Dalam kesempatan nan sama, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menilai, penyesuaian tarif memang perlu dilakukan untuk membenahi beragam sarana dan prasarana di Ragunan.
Salah satu perihal nan bisa ditingkatkan jika adanya penyesuaian tarif adalah tingkat keamanan kandang. Kenneth menilai, tetap ada beberapa kandang nan tingkat keamanannya perlu diperhatikan.
"Beberapa waktu lampau ada anak nan terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berambisi standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif," ungkap Kenneth.
Kenneth mengatakan, penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Sebab, APBD tetap menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70 persen.
"Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa berdikari secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain nan lebih membutuhkan," ujar dia.
Selain itu, Kent juga membeberkan sejumlah catatan pertimbangan kritis dari hasil inspeksi lapangan nan dilakukan pada Kamis sore.
Menurut dia, penambahan pendapatan dari penyesuaian nilai tiket masuk kudu dialokasikan pada aspek-aspek vital, seperti perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, hingga program pemuliaan satwa. Dan juga kesejahteraan pegawai dan unsur pendukung Ragunan juga kudu bisa diprioritaskan nantinya.
"Kondisi satwa kudu tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan nan saat ini belum mempunyai pasangan, kita sorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun hewan agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga kudu diperhatikan. Semua ini memerlukan biaya nan tidak sedikit," imbuhnya.
Penambahan pemasukan nan diterima pengelola Ragunan dari penyesuaian nilai tiket masuk juga dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah master hewan.
Kata Kent, jumlah master hewan di Taman Margasatwa Ragunan belum sebanding dengan jumlah satwa nan berjumlah lebih dari 2.200 satwa.
"Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah master hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan master hewan kudu menjadi perihal prioritas nan wajib dilakukan," pungkasnya.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·