
Beda donor darah dengan donor plasma. (Foto: Freepik)
DONOR darah selama ini identik dengan jarak waktu tertentu sebelum seseorang bisa kembali mendonorkan darah. Namun, gimana dengan donor plasma?
Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes., Sp.PK., Subsp. B.D.K.T. (K), Subsp. K.V. (K), menjelaskan donor plasma mempunyai beberapa perbedaan dengan donor darah biasa. Bahkan, di sejumlah negara, donor plasma bisa dilakukan lebih sering, ialah setiap dua minggu sekali.
“Untuk donor plasma itu banyak di negara-negara memberikan batas bahwa kita apalagi bisa donor plasma dua minggu sekali,” ujar dr. Teguh dalam International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026 berbareng Takeda, Rabu 7 Oktober 2026.

1. Apa Itu Plasma dan Manfaatnya?
Menurutnya, interval donor nan lebih sering membikin plasma nan dikumpulkan juga berpotensi lebih banyak. Dengan begitu, manfaatnya untuk pasien nan memerlukan terapi berbasis plasma juga semakin besar.
“Artinya apa? Artinya kita bisa memberikan sesuatu untuk pasien itu dengan lebih banyak, lebih sering,” ujar dr. Teguh.
Lantas, sebenarnya untuk apa plasma nan didonorkan? dr. Teguh menjelaskan, darah terdiri dari komponen seluler dan plasma. Plasma merupakan bagian cair dari darah nan mengandung beragam zat, terutama protein.
Plasma bisa langsung digunakan untuk transfusi, misalnya dalam corak fresh frozen plasma (FFP) alias cryoprecipitate. Namun, pemanfaatannya tidak berakhir sampai di situ.
Plasma juga bisa diproses melalui fraksionasi untuk menghasilkan beragam produk obat nan lebih spesifik untuk mengobati penyakit langka. Di antaranya albumin, imunoglobulin seperti IVIg dan SCIG, serta aspek pembekuan seperti aspek VIII dan IX.
2. Produk Hasil Pengolahan Plasma
Produk hasil pengolahan plasma ini dikenal sebagai Produk Obat Derivat Plasma (PODP). Produk tersebut kemudian digunakan untuk membantu pasien dengan kondisi medis tertentu. Albumin, misalnya, dapat diberikan kepada pasien nan mengalami kadar albumin rendah alias hipoalbuminemia.
“Plasma ini pun sebenarnya bisa diolah menjadi beragam macam derivatnya alias komponen-komponen kecilnya nan lebih spesifik,” jelas dr. Teguh.
Sementara imunoglobulin seperti IVIg dapat digunakan pada pasien dengan kondisi autoimun maupun kondisi jangkitan tertentu. Adapun aspek pembekuan seperti aspek VIII dibutuhkan pasien hemofilia.
Kebutuhan terhadap produk-produk ini juga tidak selalu hanya sekali. Pada pasien tertentu, terapi berbasis PODP perlu diberikan secara rutin sehingga kesiapan plasma kudu terus dijaga.
“Teman-teman pasien nan memerlukan komponen-komponen nan merupakan PODP itu biasanya kebutuhannya bukanlah hanya sekali butuh, tapi bakal menjadi kebutuhan nan terus-menerus,” ujar dr. Teguh.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·