Donald Trump Klaim Kendalikan Selat Hormuz, Iran: Bohong

Sedang Trending 1 jam yang lalu
 Bohong Ilustrasi.(Magnific)

MILITER Iran pada Kamis secara tegas membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump nan mengeklaim telah mengendalikan Selat Hormuz. Teheran menyebut klaim tersebut sebagai kebohongan dan menegaskan bahwa jalur air strategis itu sepenuhnya berada di bawah kendali Iran.

"Klaim tiruan Amerika Serikat bahwa kapal-kapal melewati Selat Hormuz secara normal, tidak lebih dari ketidakejujuran dan fabrikasi," ujar Ebrahim Zolfaghari, ahli bicara komando pusat militer Iran, Khatam-al Anbiya.

Dalam video nan disiarkan televisi pemerintah, Zolfaghari menekankan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah manajemen penuh Republik Islam Iran. Ia menyatakan bahwa tidak ada kapal komersial alias tanker nan dapat melintas dengan kondusif tanpa izin dan pengawasan dari angkatan bersenjata Iran.

Iran mempertahankan kendali atas Hormuz, nan merupakan jalur pipa daya vital dunia, sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada 28 Februari. Selama periode ini, Teheran mewajibkan setiap kapal untuk memperoleh izin dan bayar biaya transit sebelum menggunakan jalur tersebut.

Klaim 'Dinding Baja' Donald Trump

Bantahan keras Teheran ini muncul setelah Donald Trump mengunggah pernyataan di platform Truth Social pada Rabu (12/8). Trump mengeklaim bahwa AS mempunyai kendali total atas Selat Hormuz dan beriktikad untuk mempertahankannya.

"Blokade Angkatan Laut kita disebut oleh semua orang sebagai Dinding Baja dan tidak ada nan bisa dilakukan Iran untuk mengatasinya," tulis Trump dalam unggahan tersebut.

Namun, klaim tersebut langsung dipatahkan oleh sejumlah pejabat tinggi Iran. Hossein Taeb, kepala pasukan paramiliter Basij di bawah Garda Revolusi, menyatakan bahwa negara tersebut terus melangkah dalam keamanan penuh lantaran kendali atas selat tersebut tetap di tangan mereka.

Salah Perhitungan Intelijen AS

Diplomat tinggi Iran, Abbas Araghchi, turut berkomentar melalui platform X. Ia menilai AS melakukan kesalahan kalkulasi nan besar mengenai situasi di Selat Hormuz.

"AS telah lama salah menghitung lantaran kegagalan intelijen. Contoh kasus: Perang terhadap Iran. Sekarang, kesalahan kalkulasi nan lebih besar lagi terjadi di Selat Hormuz," kata Araghchi.

Senada dengan itu, personil komisi keamanan nasional parlemen Iran, Behnam Saeedi, menegaskan bahwa jalur tersebut tertutup bagi kapal-kapal milik AS dan Israel. Ia menyatakan bahwa kapal-kapal dari rezim Zionis tidak bakal mempunyai kewenangan untuk melintas dalam kondisi apa pun, baik di masa perang maupun damai.

Konteks Jalur Baru: Iran dan Oman dilaporkan tengah melakukan pembicaraan untuk menetapkan rute baru melalui selat tersebut. Namun, negosiasi belum difinalisasi. Teheran menegaskan bahwa rute baru sekalipun tidak bakal membuka jalur air tersebut secara otomatis selain AS memenuhi tuntutan Iran. (AFP/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia