Dolar AS Tembus Rp18.000, Bos Pengusaha Minta Tolong Ini ke Pemerintah

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani, buka bunyi mengenai pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Pelemahan Rupiah tembus ke level psikologis baru ialah Rp 18.000/US$.

Menurut Shinta pelemahan nan terjadi dalam beberapa bulan terakhir membikin dampaknya semakin terasa pada sektor riil. Hal itu mulai dirasakan sejak awal tahun saat nilai tukar berada di kisaran Rp 16.800/US$, pada awal Januari, tembus Rp 17.000/US$ di akhir kuartal I, sebelum terus mengalami pelemahan hingga Rp 18.000/US$.

"Artinya, bumi upaya telah menghadapi tekanan nilai tukar ini secara berjenjang selama beberapa bulan terakhir, sehingga dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa," kata Shinta, melalui pesan singkat, Kamis (4/6/2026).

Untuk itu menurut Shinta, pengusaha berambisi pemerintah untuk terus menjaga macroeconomic credibility dan market confidence Indonesia melalui koordinasi kebijakan nan kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor riil.

"Stabilitas nilai tukar menjadi sangat penting, namun pada saat nan sama perlu diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk menurunkan beragam komponen high cost economy nan selama ini membebani bumi usaha, mulai dari biaya logistik, energi, perizinan, hingga cost of compliance nan tetap relatif tinggi" tuturnya.

Selain itu pengusaha juga memahami langkah nan sudah dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas makroekonomi. Seperti, keputusan Bank Indonesia untuk meningkatkan BI Rate sebesar 50 pedoman poin menjadi 5,25% dapat dipahami sebagai langkah pre-emptive stabilization policy untuk menjaga stabilitas rupiah. Serta mengendalikan akibat inflasi, serta mempertahankan market confidence di tengah meningkatnya tekanan pasar finansial dunia dan akibat geopolitik nan tetap tinggi.

Selain itu menurut Shinta, pengusaha juga meyakini esensial ekonomi Indonesia tetap mempunyai daya tahan nan baik. Namun dalam situasi seperti sekarang, efektivitas kebijakan stabilisasi juga perlu diimbangi dengan langkah-langkah nan bisa menjaga daya tahan sektor riil.

"Stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Karena itu, selain menjaga stabilitas nilai tukar, diperlukan pula kebijakan nan dapat mengurangi tekanan biaya usaha, memperkuat suasana investasi, menjaga kelancaran arus perdagangan dan logistik, serta meningkatkan daya saing industri nasional agar proses stabilisasi ekonomi dapat melangkah tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan dan pembuatan lapangan kerja," tuturnya.

Pengunjung menukar duit di tempat penukaran duit di Money Changer Ayu Masagung area Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Pengunjung menukar duit di tempat penukaran duit di Money Changer Ayu Masagung area Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pengunjung menukar duit di tempat penukaran duit di Money Changer Ayu Masagung area Kwitang, Jakarta, Rabu, (3/6/2026). Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.926 per dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Efek Dolar AS Tembus Rp18.000 ke Pengusaha

Menurutnya, bagi bumi usaha, tantangan utamanya bukan hanya pada level nilai tukarnya, tetapi pada akibat nan ditimbulkan terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, dan kepastian berusaha. Terlebih 70% sektor industri nan berjuntai pada impor bahan baku.

Artinya, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi.

Shinta menjabarkan bahwa tekanan besar diantaranya dirasakan oleh industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, otomotif, serta beragam sektor nan tetap mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.

"Kondisi ini semakin berat lantaran bumi upaya juga tetap menghadapi biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan nan relatif tinggi. Dengan kata lain, saat ini pelaku upaya menghadapi tekanan berlapis alias externally driven cost pressure nan cukup signifikan," kata Shinta.

Lebih lanjut, dari sisi aktivitas usaha, dampaknya mulai terlihat melalui penurunan optimisme pelaku industri. Dari datanya PMI manufaktur nan kembali masuk area kontraksi sejak juli 2025 dan tren penurunan Indeks Kepercayaan Industri menunjukkan bahwa sektor riil sedang menghadapi fase nan lebih menantang.

"Apalagi pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini ketika sebagian (10 subsektor) manufaktur tumbuh di dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, dan 4 subsektor manufaktur diantaranya alami kontraksi," kata Shinta.

Lebih lanjut menurut Shinta, bumi upaya sudah melakukan beragam langkah mitigasi atas akibat pelemahan nilai tukar ini.

"Banyak perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze, pengendalian biaya non-esensial, penundaan ekspansi dan investasi baru, diversifikasi pasar, serta memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi hedging untuk mengelola akibat nilai tukar," katanya.

Menurutnya, saat ini pengusaha berfokus untuk menjaga business continuity sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya nan meningkat.

(emy/wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News