Dolar AS Tembus Rp17.600, Bos Mebel Bilang RI Perlu Belajar dari China

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS menjadi peringatan serius bagi industri nasional. Kalangan pengusaha mebel menyebut gejolak kurs menunjukkan industri dalam negeri tetap rentan terhadap tekanan dunia akibat tingginya beragam biaya produksi domestik.

Kondisi tersebut menjadi salah satu argumen pelaku industri belajar langsung ke sejumlah area industri di China seperti Shandong dan Xiamen.

Pelajaran terbesar dari China bukan hanya soal teknologi maupun skala pabrik nan besar, melainkan kedisiplinan ekosistem industri nan bisa menjaga efisiensi dari hulu hingga hilir.

"Yang paling terasa di sana bukan hanya soal skala industri, tetapi kedisiplinan ekosistem produksi, efisiensi logistik, penguasaan mesin, kecepatan supply chain, dan produktivitas tenaga kerja," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).

"Hal-hal seperti inilah nan sebenarnya kudu diperkuat di Indonesia agar industri kita lebih tahan menghadapi gejolak kurs maupun tekanan global," tukasnya.

Industri nan mempunyai produktivitas tinggi dan rantai pasok efisien bakal lebih bisa memperkuat saat dolar AS melonjak. Efisiensi tersebut membikin kenaikan biaya produksi tidak terlalu membebani pelaku usaha.

"Ketika sebuah industri mempunyai produktivitas tinggi, logistik efisien, mesin modern, dan supply chain cepat, maka biaya produksinya menjadi jauh lebih kompetitif. Dalam kondisi kurs dolar naik sekalipun, tekanan terhadap biaya tetap bisa diredam lantaran ada efisiensi di banyak sisi," katanya.

Sebaliknya, pelemahan rupiah bakal sigap terasa berat bagi industri nan tetap dibebani beragam inefisiensi. Mulai dari logistik mahal, pasokan bahan baku lambat, kembang tinggi, hingga izin nan berubah-ubah disebut menjadi masalah utama.

Abdul Sobur mengatakan gimana pemerintah dan bumi upaya bergerak dalam membangun industri. Kawasan industri, pelabuhan, daya hingga pendidikan vokasi disebut dipersiapkan secara serius untuk menopang produktivitas.

"Kami memandang di China ada mentalitas industrial governance nan sangat kuat. Pemerintah pusat hingga wilayah bergerak relatif selaras untuk memastikan industri tumbuh. Kawasan industri dipersiapkan serius, pelabuhan efisien, prasarana terhubung, daya dijaga, vokasi diperkuat, perizinan dipercepat, apalagi pengembangan teknologi dan mesin mendapat support nyata. Dunia upaya dibuat konsentrasi bertumbuh dan meningkatkan produktivitas," katanya.

Indonesia sebenarnya mempunyai modal besar untuk bersaing, mulai dari bahan baku hingga pasar domestik nan kuat. Namun, tantangan klasik seperti biaya logistik dan produktivitas tenaga kerja dinilai tetap menjadi halangan utama. Pelemahan rupiah semestinya menjadi momentum untuk memperkuat fondasi industri nasional agar tidak terus berjuntai pada aspek eksternal.

"Karena itu HIMKI memandang momentum pelemahan rupiah ini kudu menjadi pengingat bahwa daya saing industri nasional tidak bisa hanya berjuntai pada aspek eksternal seperti kurs alias booming komoditas. nan jauh lebih krusial adalah membangun good governance industri secara menyeluruh, mulai dari kepastian regulasi, efisiensi birokrasi, penguatan teknologi, pendidikan vokasi, sampai budaya produktivitas nasional," katanya.

Sebagai informasi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin dalam pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).

Merujuk info Refinitiv, rupiah pada pukul 10.20 WIB melemah 1,15% ke level Rp17.660/US$. Tekanan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi ini, ketika rupiah dibuka melemah 0,97% di posisi Rp17.630US$.

Posisi rupiah saat ini juga semakin menjauh dari penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (13/5/2026), sebelum libur panjang. Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.460/US$.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News