Dolar AS Diprediksi Jebol ke Rp 18.000

Sedang Trending 5 hari yang lalu

Jakarta -

Tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bakal terus bersambung hingga pekan depan. Bahkan, nilai tukar mata duit Paman Sam ini diperkirakan bisa tembus level Rp 18.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan rupiah hingga di atas Rp 18.000 dapat terjadi antara akhir minggu ini hingga pekan depan. Menurutnya mata duit Garuda berpotensi bakal terdepresiasi hingga Rp 18.200 per dolar AS.

"Untuk nilai rupiah dalam minggu ini jika tidak kena minggu depan ya itu Rp 18.000 sudah di depan mata. Karena saya memandang jika Rp 18.000 ini tembus, kemungkinan besar ya ini bakal menuju di Rp 18.200," kata Ibrahim kepada detikcom.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah tidak semata dipicu aspek teknikal maupun kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), melainkan persoalan struktural pada perekonomian nasional. Salah satunya dia menyoroti defisit neraca transaksi melangkah nan tetap berjuntai pada impor energi, terutama minyak mentah.

"Di APBN itu (harga minyak) US$ 70 per barrel, rupiahnya di 16.500. Tetapi sekarang rupiahnya sudah di nomor anggap saja Rp 17.900, kemudian minyak mentahnya bukan di US$ 70 tapi di atas US$ 90. Pemerintah kudu mengeluarkan dolar nan cukup besar. Sedangkan impor minyak mentah ini 85% itu larinya subsidi. Nah sehingga apa? Ini beban, tekanan bagi pemerintah untuk menutupi defisit ini," tutur Ibrahim.

Belum lagi dari sisi pasar modal, banyak perusahaan-perusahaan asing di Tanah Air perlu membagikan dividen alias bagi hasil untung perusahaan terhadap pemilik saham. Hal itu membikin permintaan dolar dalam negeri ikut naik nan kemudian mendorong pelemahan rupiah lebih jauh.

"Sudah kita kekurangan dolar, kemudian beban dividen nan kudu dibagikan terhadap para investor, terutama penanammodal asing di perusahaan-perusahaan nan listing di bursa, di pasar modal. Nah ini membikin satu kegaduhan tersendiri," ucap Ibrahim.

Sementara itu, dari pasar logam mulia, Ibrahim menyebut nilai emas bumi tetap bergerak naik turun di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Sementara nilai dolar terhadap rupiah terus menguat, mendorong penanammodal memindahkan aset mereka dari emas ke dolar untuk mencari untung dari momentum pelemahan mata duit Garuda ini.

"Dana nan tadinya mereka investasikan di logam mulia, di emas digital, mereka pindahkan. Kenapa? Momentum untuk mendapatkan untung secara jangka pendek itu ada di indeks dolar, bukan di logam mulia," ujarnya.

Masih belum cukup, kebijakan pemerintah terbaru mengenai rencana ekspor satu pintu melalui BUMN baru, Danantara Sumberdaya Indonesia alias DSI, membikin penanammodal asing banyak meragukan kepastian izin di Indonesia. Pada akhirnya membikin mereka banyak beranjak ke negara lain.

"Ekspor satu pintu melalui DSI ini membikin kegaduhan. Memang secara jangka panjang bagus, lantaran pemerintahan di luar negeri pun sama, di Eropa juga sama seperti itu. Tapi lantaran dalam kondisi nan tidak baik-baik saja saat ini ekonomi, ini membikin kegaduhan tersendiri," jelas Ibrahim.

"Pemerintah betul bahwa dengan satu pintu ini kemungkinan besar tidak bakal ada kebocoran untuk ekspor ilegal. Karena selalu tidak sesuai secara kertas dan secara teknis itu berbeda. Tetapi ini pun juga menjadi beban tersendiri, terutama bagi perusahaan-perusahaan tambang nan sudah melakukan perjanjian kerja jangka pendek maupun jangka menengah, jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri," sambungnya.

Senada dengan Ibrahim, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai nilai tukar rupiah bakal terus mengalami pelemahan. Sehingga besar kemungkinan dolar bakal semakin 'ngamuk' hingga tembus ke level Rp 18.000.

Namun nan menjadi masalah adalah, jika nilai mata duit Garuda ini sudah lebih dari Rp 18.000 per dolar AS, maka kemungkinan besar pelemahan bakal terus terjadi hingga ke level Rp 19.000 per dolar AS.

"Jadi apalagi bukan Rp 18.000, tapi level psikologis setelah Rp 18.000 ke Rp 19.000, pelemahannya bakal jauh lebih sigap lantaran pemisah psikologisnya memang sudah menembus," tuturnya.

Lebih lanjut menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah ini banyak didorong oleh sentimen negatif para investor, khususnya asing, atas kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini. Salah satunya soal rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia alias DSI.

Menurutnya langkah ini memang betul dilakukan untuk menekan praktik transfer pricing dan under invoicing nan marak terjadi. Namun kebijakan ini diluncurkan begitu sigap sehingga menimbulkan opini pemerintah Indonesia mudah mengambil kebijakan secara drastis dan menimbulkan ketidakpastian aturan.

"Ini perubahannya terjadi begitu cepat, diumumkan begitu cepat. Sebelumnya apalagi belum ada sosialisasi ataupun pembahasan misalnya dengan para pelaku usaha. Sehingga ini juga menurunkan minat berinvestasi di Indonesia," jelasnya.

Bersamaan dengan itu, Bhima menilai saat ini pelaku pasar tetap mencermati kondisi fiskal domestik dan efektivitas sejumlah program pemerintah, nan mana kondisi ini dapat mempengaruhi persepsi penanammodal terhadap stabilitas ekonomi nasional.

"Ada kekhawatiran defisit APBN-nya tetap bakal terus melebar lantaran ada beban biaya subsidi energi, dan juga ada beban dari program-program populis alias program mercusuar Prabowo seperti MBG, Kopdes Merah Putih nan pengaruh ekonominya tetap diragukan tapi anggarannya cukup besar," papar Bhima.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance