
Anak sekolah. (Foto: Freepik)
ORANGTUA perlu melakukan sejumlah langkah pencegahan ketika anak tetap kudu berguru di tengah penyebaran influenza A. Pasalnya, seseorang nan sudah terkena influenza A belum tentu langsung menunjukkan gejala, tetapi tetap berpotensi menularkan virus kepada orang lain.
Dokter Spesialis Anak dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K), dalam aktivitas Morning Zone di Youtube Okezone ungkap langkah-langkahnya. Ada sejumlah langkah nan perlu diperhatikan, dari cuci tangan hingga ventilasi di ruang kelas.
1. Cegah Penularan Influenza A di Sekolah
dr. Yogi menjelaskan dugaan bahwa virus hanya menular ketika seseorang sudah mengalami indikasi merupakan perihal nan keliru. Setelah virus masuk ke tubuh, terdapat masa inkubasi sebelum indikasi muncul.
Menurutnya, masa penularan justru dapat berjalan sebelum seseorang mengalami gejala. Risiko penularan disebut tinggi mulai sekitar satu hari sebelum indikasi muncul hingga beberapa hari setelahnya.
Artinya, anak nan terlihat sehat dan belum menunjukkan keluhan belum tentu bebas dari akibat menularkan virus. Kondisi tersebut menjadi perhatian unik di lingkungan sekolah nan mempertemukan banyak anak dalam satu ruangan.
“Jadi salah satu nan seringkali kita salah kaprah adalah berpikir virus ini menular pada saat indikasi timbul. Padahal tidak,” ujar dr. Yogi.
“Jadi setelah kita ketularan, masa inkubasi mulai dari virus masuk sampai ada gejala, mungkin sekitar 1-4 hari. Nah kemudian masa penularan justru itu terjadi tinggi-tingginya 1 hari sebelum indikasi timbul hingga kira-kira 5-7 hari setelahnya. Artinya apa? Artinya pada saat kita berada dalam satu organisasi nan orangnya ramai, dan kita juga enggak tahu siapa nan sudah terpapar. Maka teman-teman alias anak-anak nan belum bergejala itu bisa saja sudah mulai menularkan,” lanjutnya.
2. Anak Sakit Sebaiknya Tidak Dipaksakan Masuk Sekolah
Salah satu langkah krusial nan perlu diterapkan adalah adanya kebijakan sekolah nan memungkinkan anak maupun pembimbing nan sedang sakit untuk tidak masuk sekolah. Menurut dr. Yogi, ketidakhadiran lantaran sakit sebaiknya tidak diberikan hukuman selama disertai info nan jelas dari orangtua alias pihak terkait.
Kebijakan tersebut dinilai penting. Pasalnya, memaksakan anak nan sedang bergejala untuk tetap masuk sekolah justru dapat meningkatkan akibat penularan kepada teman-temannya.
“Harus ada kebijakan nih di sekolah. Kalau anak sakit, jika pembimbing sakit, maka boleh untuk tidak masuk cukup menginformasikan tanpa ada sanksi. Gitu ya. Kadang-kadang kan sekarang mungkin disiplin boleh, oke,” jelas dr. Yogi.
“Tapi dalam kondisi seperti ini, jika dipaksakan anak nan bergejala untuk masuk, maka akibat penularannya tentu lebih besar,” lanjutnya.
3. Biasakan Anak Mencuci Tangan
Kebersihan tangan juga menjadi salah satu bagian krusial dalam pencegahan penularan virus di sekolah. Karena itu, sekolah perlu memastikan tersedianya akomodasi untuk mencuci tangan.
Jika akomodasi cuci tangan dengan air mengalir tidak memungkinkan tersedia di setiap tempat, penggunaan cairan pembersih tangan dapat menjadi alternatif. Anak juga perlu diajarkan kapan kudu membersihkan tangan.
Misalnya setelah batuk alias bersin, setelah menyentuh barang nan digunakan bersama, serta sebelum dan sesudah makan. Kebiasaan sederhana tersebut perlu dilakukan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah.
“Kemudian akomodasi cuci tangan itu tidak selalu tersedia. Tolong dipastikan di tiap ruang kelas, misalnya ada akomodasi cuci tangan,” tutur dr. Yogi.
“Kalau tidak memungkinkan cuci tangan dengan air mengalir, maka cuci tangan kering kan juga bisa dikerjakan, diajarkan di sekolah, kita kapan cuci tangan. Misalnya sesudah batuk, lenyap itu cuci tangan. Setelah kita menyentuh benda-benda nan sering dipakai oleh orang banyak, kita cuci tangan. Sebelum makan, sesudah makan kita cuci tangan,” sambungnya.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·