Ilustrasi(Dok Magnific)
GALON guna ulang tidak boleh dipakai terus-menerus sampai bertahun-tahun. Pesan itu disampaikan master Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Djaja Surya Atmadja, Ph.D., saat membahas akibat unsur kimia rawan Bisphenol A alias BPA dalam bungkusan galon guna ulang polikarbonat. Menurut dr. Djaja, pemisah usia pakai galon bukan sekadar persoalan tampilan bentuk alias kebersihan kemasan.
Semakin lama galon polikarbonat digunakan dan berulang kali melalui proses distribusi, pencucian, pengisian ulang, serta penggunaan oleh konsumen, semakin besar pula potensi terjadinya peluruhan BPA dari tembok galon ke dalam air minum. Karena itu, pemisah usia pakai menjadi bagian krusial dalam upaya mengurangi paparan BPA kepada konsumen.
Menurut dr. Djaja, pemisah penggunaan galon guna ulang maksimal dipakai satu tahun. Setelah itu, galon semestinya ditarik dan diganti, bukan terus berputar dari satu konsumen ke konsumen lain.
“Isi ulangnya itu tidak boleh dipakai lebih dari setahun… Karena pelan-pelan dia (BPA) bakal melarut ke dalam itu,” ujar dr. Djaja dikutip dari keterangan tertulis nan diterima, Senin (8/6).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa usia galon menjadi aspek nan tidak bisa diabaikan dalam pembahasan BPA. Semakin lama sebuah galon berada dalam siklus penggunaan, semakin lama pula BPA mempunyai kesempatan untuk terlepas dari material polikarbonat dan beranjak ke air nan dikonsumsi masyarakat.
Persoalannya, konsumen nyaris tidak pernah tahu usia galon nan mereka terima. Saat membeli air minum dalam galon, konsumen hanya memandang airnya bening dan galonnya tetap bisa digunakan. Padahal, galon itu bisa saja sudah berulang kali keluar-masuk pabrik, dipakai di banyak rumah, lampau kembali lagi ke pasar.
Akibatnya, konsumen tidak mempunyai langkah untuk mengetahui apakah galon nan diterima tetap berada dalam masa pakai nan kondusif alias justru sudah terlalu lama beredar. Padahal, jika usia galon terus bertambah tanpa pengendalian nan ketat, akibat peluruhan BPA nan disampaikan para mahir menjadi semakin relevan untuk diperhatikan.
Djaja menyebut, galon lama tetap banyak ditemukan. Bahkan, ada galon nan dipakai sampai belasan tahun. Ini nan menurutnya perlu menjadi perhatian serius, lantaran galon nan terlalu lama digunakan bisa mengalami perubahan bentuk dan berpotensi meningkatkan akibat peluruhan BPA.
“Kemarin belum lama tuh ada survei, rupanya sampai ada nan 11 tahun, ada nan 13 tahun tetap dipakai isi ulang. Itu sampai bolak-balik, sampai galonnya itu buram,” kata dr. Djaja.
Temuan adanya galon berumur 11 hingga 13 tahun menunjukkan bahwa sebagian galon dapat beredar jauh melampaui pemisah satu tahun nan disarankan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan krusial mengenai besarnya kesempatan paparan BPA pada galon-galon nan telah digunakan berulang kali selama bertahun-tahun.
Galon nan sudah buram, banyak goresan, alias tampak aus memang bisa menjadi tanda bahwa bungkusan itu sudah terlalu lama digunakan. Namun, akibat tidak selalu terlihat dari luar. Air tetap bisa tampak normal, tidak berwarna, dan tidak berbau. Karena itu, kontrol usia pakai tidak boleh hanya dibebankan kepada konsumen.
Menurut dr. Djaja, produsen sebenarnya punya ruang untuk mengontrol perihal tersebut. Sebab, sistem galon guna ulang membikin galon selalu kembali ke pabrik setelah dipakai. Di titik itulah produsen bisa mengecek, memilah, menarik, dan mengganti galon nan sudah lewat masa pakai.
“Sebenarnya itu bisa dikontrol. Setelah dipakai, kan galon kita balikin, itu dibawa ke pabrik lagi kan. Sebenarnya nggak boleh lebih dari setahun. Mestinya sama produsennya ditarik, diganti sama nan baru,” tandasnya. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·