Jakarta, CNBC Indonesia - Kartel minyak paling berpengaruh di dunia, OPEC+, dilaporkan telah mengambil keputusan produksi pertama mereka tepat setelah Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengundurkan diri. Keputusan ini diambil di tengah ketegangan perang antara AS-Israel dengan Iran nan tetap terus mengganggu pasokan minyak dunia di area Teluk.
Mengutip laporan info Reuters, sebanyak tujuh negara personil utama eksportir minyak mentah telah sepakat untuk meningkatkan sasaran produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari (bpd) untuk bulan Juni mendatang. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas pasar daya dunia meskipun salah satu produsen terbesarnya baru saja hengkang.
Keputusan penambahan produksi ini merupakan respon lanjutan setelah UEA, nan memegang pangsa pasar sekitar 13,5% di organisasi tersebut, menarik diri dari OPEC dan aliansi OPEC+ pada 1 Mei 2026. Pihak Abu Dhabi menyebut keputusan tersebut sebagai pilihan strategis nan berdaulat untuk memberikan elastisitas lebih besar atas produksi minyak nasional mereka.
"Langkah ini menandakan bahwa OPEC+ terus mengambil pendekatan upaya seperti biasa meskipun ada keputusan Abu Dhabi," ujar salah satu sumber internal, dikutip Senin (4/5/2026).
Sumber tersebut menambahkan bahwa kenaikan produksi bulan Juni ini bakal serupa dengan kenaikan bulan lampau sebesar 206.000 bpd, namun kali ini dikurangi dengan jatah pangsa milik UEA. Saat ini, OPEC tetap beranggotakan Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait, Aljazair, Libya, Nigeria, Gabon, Guinea Khatulistiwa, Republik Kongo, dan Venezuela, dengan Rusia sebagai sekutu utama dalam format OPEC+.
Namun, kenaikan produksi sebesar 188.000 bpd ini dinilai sebagian besar pengamat tetap berkarakter simbolis. Hal ini dikarenakan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz tetap terganggu parah akibat bentrok Iran, nan secara otomatis memangkas ekspor dari personil kunci seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.
Kampanye pengeboman oleh AS-Israel terhadap Iran dan penutupan jalur air nan biasanya menangani seperlima perdagangan daya dunia tersebut telah memukul telak nomor produksi. Pada Maret lalu, total produksi minyak semua personil rata-rata hanya 35,06 juta bpd, ambruk sebesar 7,7 juta bpd dibandingkan level pada Februari.
Menanggapi keluarnya Emirat dari kartel, ahli bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Moskow menghormati keputusan kedaulatan negara tersebut. Peskov juga menegaskan bahwa Rusia tidak mempunyai niat untuk meninggalkan grup dan membantah spekulasi bahwa langkah UEA bakal menjadi akhir bagi eksistensi OPEC+.
"Rusia tidak mempunyai niat untuk meninggalkan golongan ini," tegas Peskov menanggapi kekhawatiran pecahnya aliansi produsen minyak tersebut.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·