Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Bambang Ismawan mengungkapkan sejumlah tantangan nan dihadapi industri batu bara, terutama di tengah situasi geopolitik dunia nan tetap bergejolak.
Meski demikian, dia mengatakan keahlian PTBA pada semester I 2026 tetap menunjukkan hasil positif. Laba perusahaan tercatat sekitar Rp2,65 triliun, alias meningkat sekitar 215% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.
"Alhamdulillah tadi seperti nan disampaikan bahwa untung kita naik secara signifikan 215% lah kurang lebihnya menjadi Rp2,65 triliun. Dan menurut saya kenaikan ini kan tidak semata-mata lantaran nan bukan keadaan nan biasa-biasa saja. Tetapi tentu ini lantaran keahlian keras semua tenaga kerja di PT Bukit Asam," kata Bambang dalam aktivitas Closing Bell CNBC Indonesia, dikutip Senin (14/9/2026).
Setidaknya, Bambang menjelaskan terdapat tiga aspek utama nan menjadi tantangan sekaligus memengaruhi biaya dalam industri batu bara. Ketiganya ialah nilai Bahan Bakar Minyak (BBM), stripping ratio (SR), dan pengelolaan overburden.
Menurut dia, nilai BBM menjadi salah satu komponen biaya nan susah dikendalikan perusahaan lantaran sangat dipengaruhi kondisi eksternal.
"Jadi jika berbincang industri batu peralatan itu sebenarnya cost kita nan mahal, nan tinggi itu ada tiga faktor. nan pertama BBM. BBM itu nan kita boleh dibilang uncontrollable," ujarnya.
Sementara itu, stripping ratio dan pengelolaan overburden merupakan aspek nan tetap dapat dikendalikan melalui perencanaan dan pengelolaan operasional tambang.
"Yang dua ini nan kita manage dengan baik. Makanya saya kepada teman-teman di PT Bukit Asam bahwa kita kudu punya planning penambangan itu jangka panjang. Jadi jangan hanya berpikir saat ini saja kelak tahun berikutnya menjadi beban. Nah itu nan selalu tekankan," kata Bambang.
Namun demikian, dia mengakui bahwa saat ini permintaan batu bara perusahaan juga meningkat. Hal ini juga merupakan salah satu pendorong peningkatan keahlian perusahaan.
"Memang situasi geopolitik tidak bisa dihindari. Itu kan ya terjadi bentrok di beberapa bagian dan itu kan pasti mempengaruhi kebutuhan daya di banyak negara. Terutama negara-negara nan memerlukan suplai batu bara. Oleh lantaran itu, sampai dengan saat ini untuk permintaan batu bara itu sangat tinggi. Jadi di PT Bukit Asam itu boleh dibilang buyer-nya itu antri. Ya, antri mau membeli batu bara dari PT Bukit Asam. Jadi untuk market tidak bakal ada isu. Jadi kita meyakinkan lantaran kita juga menjaga kualitas kita, performance kita itu kita jaga, sehingga kualitas dan kepastian itu didapatkan oleh buyer, sehingga buyer banyak nan minta batu bara dari PT Bukit Asam," jelasnya.
Terlebih, lanjutnya, dengan tren nilai batu bara nan sekarang meningkat, apalagi sempat menyentuh US$ 150 per ton pada pekan lalu, ini menjadi momentum perusahaan untuk meningkatkan keuntungan.
"Dengan kenaikan nilai batu bara berfaedah dari sisi perusahaan bakal mendapatkan untung margin nan semakin baik. Nah ini kan kesempatan untuk PT Bukit Asam dapat melakukan penjualan terutama ekspor ya sebesar-besarnya nan bisa kita lakukan agar situasi nan sangat baik ini kita bisa mengambil momentum ini. Iya, lantaran kan belum tentu momentum ini bakal seperti ini terus. Bisa suatu saat berubah kan. Ketika berubah, nah kelak kan lain lagi strategi kita. Itulah lantaran saat situasi nilai bagus, kita maksimalkan untuk kita bisa jualan semaksimal mungkin, sehingga untung perusahaan semakin meningkat," tuturnya.
Seperti diketahui, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PTBA Una Lindasari sempat menjelaskan bahwa perseroan sukses membukukan pendapatan sebesar Rp 22,03 triliun alias tumbuh 8% pada Semester I-2026 dibandingkan periode nan sama tahun lalu.
Ia menekankan bahwa strategi penjualan perusahaan dan program efisiensi menjadi kunci dalam menjaga profitabilitas di tengah dinamika pasar.
"Kinerja tersebut didukung oleh pemulihan operasional pada kuartal II, penguatan penjualan ekspor, serta perbaikan nilai jual rata-rata batu bara," ungkap Una Lindasari dalam public expose PTBA secara daring, Senin (7/9/2026).
Perusahaan mencatat, penguatan nilai batu bara dunia turut memberikan akibat positif, di mana Newcastle Index meningkat 25% dan ICI 3 naik 15% secara tahunan. Kondisi tersebut memicu kenaikan nilai jual rata-rata alias average selling price (ASP) perseroan sebesar 10% nan menjadi argumen utama penguatan margin untung bersih.
"Momentum penguatan nilai batu bara dunia kami manfaatkan melalui strategi penjualan nan adaptif disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya," ucapnya.
Dari sisi operasional, PTBA memproduksi 19,45 juta ton batu bara dengan total volume penjualan mencapai 21,1 juta ton. Penjualan ekspor tercatat tumbuh 5% menjadi 10,33 juta ton dengan negara tujuan utama seperti Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand, sementara porsi penjualan domestik mencapai 51% alias 10,77 juta ton.
"Pencapaian tersebut menjadi fondasi bagi perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan melalui penguatan upaya inti serta pengembangan sumber pertumbuhan baru," tambahnya.
(ven/wia)
[Gambas:Video CNBC]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·