Sebanyak 72 siswa di Pondok Kelapa, Jakarta Timur (Jaktim), diduga keracunan usai menyantap makan bergizi cuma-cuma (MBG). Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengungkap dugaan penyebab puluhan siswa keracunan lantaran jarak waktu pembuatan makanan hingga pendistribusian terlalu lama.
"Tapi dari sementara nan kita lihat, kemungkinan mungkin ada waktu nan cukup lama jaraknya antara makanan matang disiapkan sampai kemudian didistribusikan. Karena itu kan jika dilihat dari persentase korban, sebagian besar adalah nan masuk siang gitu. Itu apa namanya, analisa sementara," kata Ani kepada wartawan di Balai Kota Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ani menuturkan Dinkes Jakarta sudah turun untuk melakukan pengecekan. Dia menyebut pengecekan dilakukan sebagai bahan pertimbangan dan perbaikan pihak satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi semua tim dari sejak awal sudah turun, sudah mengecek kembali untuk memastikan masalahnya di mana agar SPPG-nya juga bisa pertimbangan dan memperbaiki," ucapnya.
Ani mengungkap pihaknya selalu membantu melakukan pengawasan terhadap SPPG nan baru dibuka. Bentuk pengawasan nan dilakukan ialah memastikan petugas SPPG mendapat training secara gratis.
"Pokoknya begitu ada SPPG baru kita langsung undang mereka untuk kita latih. Lalu kemudian mulai proses IKL (inspeksi kesehatan lingkungan) kita lihat untuk mensupervisi apakah alurnya, lokasinya, sumber airnya, itu semuanya sudah sesuai. Itu kita inspeksi, jika ada nan belum sesuai kita kasih form mana-mana nan kudu diperbaiki," ucapnya.
"Dia berproses, sampai jika semuanya sudah berproses dan dari hasil masakannya kita cek di laboratorium sudah negatif tidak terkontaminasi bakteri, baru kemudian dari situ proses SLHS-nya keluar. Sesudah sebuah SPPG punya SLHS, kita melakukan IKL lagi secara berkala, tapi tentu tidak tiap hari gitu. Karena di Jakarta jika dari info ada lebih dari 400 SLHS," lanjutnya.
Ani menyampaikan Dinkes DKI melakukan pengecekan secara berkala kepada SPPG. Pengecekan dilakukan 3 sampai 6 bulan sekali.
"Ya jika saya nggak salah 3 sampai 6 bulan kita lakukan pengecekan berkala. Tapi kan di tiap hari sebetulnya kudu ada cek organoleptik ya. Jadi di SPPG-nya maupun di sekolah sebelum dibagi, harusnya makanannya sudah dicek fisiknya, baunya, apa namanya, ada lendir nggak, ada kenyal nggak, itu harusnya sudah dicek juga gitu. Dan itu bisa dilakukan sendiri dan kita sudah latih tim SPPG bisa melakukan pengecekan itu," jelasnya.
Lebih lanjut dia menyampaikan hasil uji lab sampel makanan belum keluar. Sehingga belum diketahui secara pasti penyebab puluhan siswa keracunan.
"Belum ya, kelak kita sudah investigasi, kita kumpulkan semua, dilihat di kondisi di lapangan termasuk wawancara dengan petugasnya, dengan pemiliknya, dengan korban. Semuanya kelak kita kombinasikan dengan hasil laboratorium, kelak baru ada laporan lengkapnya," imbuhnya.
Sebelumnya, BGN memastikan bakal mendalami penyebab keracunan 72 siswa setelah menyantap menu spageti MBG di Pondok Kelapa, Jakarta Timur. BGN menyebut tetap ada 50-an siswa nan mendapat perawatan akibat kasus keracunan itu.
"Ya sudah dong (dicek), kan ada Kepala SPPG, Korwil, dan Kareg (Kepala Regional). Saya juga bakal cek," ujar Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang saat dihubungi, Minggu (5/4).
Namun, Nanik belum merinci apa saja temuan alias masalah nan ada di SPPG Pondok Kelapa. Untuk itu, BGN bakal mengambil keputusan setelah ada pengecekan menyeluruh.
"Soal suspend kelak kita lihat perkembangannya," katanya.
(dek/rfs)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·