loading...
Ilustrasi logo Huawei nan terus menggelontorkan biaya riset besar-besaran demi melepaskan diri dari jerat hukuman teknologi Amerika Serikat dan meraih lonjakan pendapatan. Foto: ist
JAKARTA - Badai hukuman Amerika Serikat rupanya tak bisa menenggelamkan raksasa teknologi China, Huawei Technologies, nan justru sukses mencetak lonjakan untung bersih hingga 8,6 persen menjadi 68 miliar Yuan (Rp159,8 triliun) sepanjang 2025.
Awal bulan ini perusahaan nan bermarkas di Shenzhen tersebut melaporkan total pendapatan penjualan tahun 2025 mencapai 880,9 miliar Yuan (Rp2.070,11 triliun).
Angka ini tumbuh 2,2 persen dari tahun sebelumnya, perlambatan tajam jika dibandingkan pertumbuhan garang 22,4 persen nan dicetak pada 2024.
Kendati melambat, hasil 2025 ini menorehkan sejarah sebagai rekor pendapatan tahunan tertinggi kedua bagi Huawei, hanya tertinggal dari rekor puncaknya sebesar 891 miliar Yuan (Rp2.093,85 triliun) pada 2020 silam.
Pencapaian ini sekaligus menandai empat tahun pertumbuhan berturut-turut sejak titik nadir pada 2021, saat pendapatan mereka ambruk 29 persen akibat hukuman pemblokiran akses cip canggih dan sistem operasi Google Android oleh AS.
Dari kacamata kajian pasar, penopang utama dan sektor paling "cuan" nan menyumbang pendapatan terbesar Huawei dipegang oleh segmen prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).
Penjualan di sektor raksasa ini sukses tumbuh 2,6 persen menjadi 375 miliar Yuan (Rp881,25 triliun).
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·