Ilustrasi(Dok Odoo)
PERTUMBUHAN pesat jasa pesan antar makanan dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah langkah bisnis kuliner beroperasi. Jika sebelumnya digitalisasi lebih banyak dimanfaatkan sebagai sarana memperluas kanal penjualan, sekarang pelaku industri makanan dan minuman (F&B) mulai menghadapi tantangan baru berupa kompleksitas pengelolaan operasional nan semakin tinggi.
Banyak restoran, kafe, hingga upaya kuliner skala mini dan menengah tetap mengelola pesanan dari beragam platform secara terpisah. Pesanan dari aplikasi jasa antar diterima melalui perangkat berbeda, sementara pencatatan transaksi, pengelolaan stok, dan laporan finansial dilakukan menggunakan sistem lain. Kondisi tersebut kerap memunculkan pekerjaan berulang nan menyita waktu serta meningkatkan akibat kesalahan operasional.
Ketika volume pesanan meningkat, tantangan tersebut menjadi semakin terasa. Mulai dari kesalahan input pesanan, ketidaksesuaian info inventaris, hingga proses rekonsiliasi finansial nan menyantap waktu dapat berakibat langsung terhadap efisiensi upaya maupun pengalaman pelanggan.
Situasi itu mendorong meningkatnya kebutuhan bakal sistem nan bisa mengintegrasikan beragam aktivitas operasional dalam satu platform. Pelaku upaya sekarang tidak hanya memerlukan perangkat pencatat transaksi, tetapi juga solusi nan dapat menghubungkan proses pemesanan, manajemen stok, hingga pelaporan finansial secara real time.
Menjawab kebutuhan tersebut, penyedia perangkat lunak manajemen upaya terintegrasi alias Enterprise Resource Planning (ERP), Odoo, menghadirkan fitur integrasi dengan platform jasa pesan antar makanan GrabFood dan GoFood. Melalui integrasi ini, seluruh aktivitas penjualan dari kedua platform dapat dikelola melalui satu sistem nan terhubung langsung dengan operasional bisnis.
Sebelumnya, pesanan nan masuk dari aplikasi jasa antar umumnya kudu dipantau melalui perangkat terpisah sebelum dicatat ke dalam sistem kasir alias Point of Sale (POS). Dengan integrasi berbasis Application Programming Interface (API), pesanan sekarang dapat diterima secara otomatis ke dalam sistem tanpa memerlukan input ulang dari staf.
Selain mempercepat proses pelayanan, integrasi tersebut memungkinkan pesanan langsung diteruskan ke layar dapur alias Kitchen Display System sehingga proses persiapan makanan dapat berjalan lebih sigap dan terkoordinasi.
Salah satu tantangan nan paling sering dihadapi pelaku upaya F&B adalah sinkronisasi stok. Ketika transaksi berjalan melalui beragam kanal penjualan, pembaruan inventaris nan tidak dilakukan secara real time dapat menyebabkan produk nan sebenarnya telah lenyap tetap tercantum sebagai tersedia. Akibatnya, pesanan berpotensi dibatalkan dan menurunkan kepuasan pelanggan.
Melalui integrasi terbaru ini, setiap transaksi nan terjadi melalui GoFood maupun GrabFood bakal secara otomatis memperbarui info inventaris. Dengan demikian, pelaku upaya dapat memantau kesiapan produk secara lebih jeli dan mengurangi akibat kehabisan stok nan tidak terdeteksi.
Kemudahan juga dirasakan dalam pengelolaan menu. Perubahan harga, penambahan produk baru, maupun pembaruan info produk dapat dilakukan melalui satu sistem dan diterapkan secara otomatis ke platform nan terhubung. Langkah ini dinilai bisa mengurangi beban manajemen sekaligus menjaga konsistensi info nan diterima pelanggan.
Dari sisi keuangan, integrasi membantu proses pencatatan transaksi nan selama ini sering menjadi pekerjaan tambahan bagi tim administrasi. Seluruh transaksi dari beragam kanal penjualan dapat direkam secara otomatis ke dalam sistem akuntansi sehingga memudahkan pencarian pendapatan, kalkulasi komisi platform, hingga penyusunan laporan keuangan.
Direktur Odoo Indonesia, Benny Putra Sugito, mengatakan kebutuhan bakal sistem nan terintegrasi menjadi semakin krusial seiring meningkatnya peran jasa pesan antar dalam industri kuliner.
“Di industri pesan antar, kecepatan dan kecermatan itu kunci. Ketika sistem Odoo terintegrasi langsung dengan platform on-demand, pengusaha bisa memangkas waktu operasional dan konsentrasi sepenuhnya pada prinsip upaya mereka, ialah menyajikan produk dan pengalaman pengguna nan terbaik,” ucap dia dikutip dari keterangan tertulis nan diterima, Senin (22/6).
Transformasi digital di sektor F&B sendiri terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada ekspansi kanal penjualan digital, sekarang konsentrasi mulai bergeser pada efisiensi operasional dan pemanfaatan info untuk mendukung pengambilan keputusan bisnis.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan upaya kuliner saat ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk dan strategi pemasaran, tetapi juga oleh keahlian mengelola operasional secara efektif di tengah semakin banyaknya kanal penjualan nan digunakan konsumen. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·