Diagnosis Obesitas tak Cukup hanya dengan Indeks Massa Tubuh

Sedang Trending 1 hari yang lalu
Diagnosis Obesitas tak Cukup hanya dengan Indeks Massa Tubuh Asia-Oceania Conference on Obesity 2026 (AOCO 2026) di Jakarta, Kamis (15/10).(Dok. MI)

Diagnosis obesitas tidak cukup ditentukan berasas indeks massa tubuh (IMT). Kondisi lemak tubuh, lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang terhadap pinggul, serta kondisi klinis pasien juga perlu dipertimbangkan dalam menentukan akibat kesehatan akibat obesitas.

Hal tersebut menjadi salah satu poin dalam 25 position statements mengenai pemeriksaan dan farmakoterapi obesitas nan diperkenalkan Asia-Oceania Association for the Study of Obesity (AOASO) dalam Asia-Oceania Conference on Obesity 2026 (AOCO 2026) di Jakarta, Kamis (15/10) kemarin.

Presiden AOASO periode 2022-2026, Kyoung-Kon Kim, mengatakan 25 pernyataan posisi tersebut disusun sebagai pedoman dasar nan elastis lantaran negara-negara di area Asia-Pasifik mempunyai perbedaan karakter etnis, kondisi klinis, serta akses terhadap akomodasi kesehatan dan pengobatan.

“Dalam memahami obesitas, kita perlu kembali pada arti dasarnya, ialah kelebihan lemak tubuh, bukan sekadar kelebihan berat badan. Indeks massa tubuh (IMT) saja tidak cukup untuk menentukan kondisi seseorang,” ujar Kyoung-Kon Kim.

Menurut dia, tidak semua pasien di area Asia-Pasifik mempunyai akses terhadap akomodasi pemeriksaan seperti MRI alias DXA maupun obat-obatan obesitas nan terjangkau. Karena itu, pedoman penanganan obesitas perlu dapat disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan akomodasi kesehatan di masing-masing negara.

Ke-25 position statements tersebut mencakup sejumlah aspek penanganan obesitas, antara lain diagnosis, staging, farmakoterapi, perawatan jangka panjang, aspek peri-prosedural, support style hidup, kesenjangan penelitian, serta perawatan komprehensif.

Chairman Organizing Committee AOCO 2026, dr. Farid Kurniawan, mengatakan penggunaan obat merupakan salah satu bagian dari penanganan obesitas dan tidak dapat berdiri sendiri. Penanganan juga perlu mencakup perbaikan pola makan, aktivitas fisik, dan perubahan perilaku.

“Obesitas memerlukan penanganan jangka panjang. Keberhasilan terapi bukan semata-mata diukur dari seberapa sigap seseorang menurunkan berat badan, melainkan dari kemampuannya mempertahankan perubahan style hidup sehat secara berkelanjutan,” kata Farid.

Sementara itu, Committee Member AOCO 2026, dr. Gaga Irawan Nugraha, menilai pencegahan obesitas perlu mempertimbangkan kebiasaan dan budaya masyarakat di masing-masing negara. Menurutnya, membangun pola hidup sehat memerlukan support tidak hanya dari perseorangan dan tenaga kesehatan, tetapi juga pemerintah dan beragam pihak terkait.

“Yang perlu dilakukan adalah gimana membikin pola makan sehari-hari menjadi lebih sehat tanpa mengabaikan budaya setempat,” ujar Gaga.

Indonesia melalui Indonesian Society for the Study of Obesity (ISSOM) menjadi salah satu member society AOASO nan turut menandatangani 25 position statements tersebut.

AOCO 2026 berjalan pada 15–18 Oktober 2026 di Jakarta. Konferensi tersebut mempertemukan peneliti, klinisi, tenaga kesehatan masyarakat, dan kreator kebijakan untuk membahas beragam aspek obesitas, termasuk patofisiologi, farmakoterapi, intervensi bedah dan nonbedah, kedokteran perilaku, kesehatan digital, serta kebijakan kesehatan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑