Ilustrasi(Dok Istimewa)
DUTA Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, menekankan pentingnya Indonesia dan Tiongkok membangun ketahanan berbareng (shared resilience) dalam menghadapi beragam transformasi global, mulai dari kepintaran artifisial (AI), transisi energi, perubahan iklim, hingga ketidakpastian geopolitik.
Pesan tersebut disampaikan dalam Ambassador Forum, RDCY Forum for Area Studies No. 18 berjudul “A New Stage and New Vision for China-Indonesia Relations”, nan diselenggarakan Chongyang Institute for Financial Studies (RDCY) dan School of Global Leadership, Renmin University of China,Kamis (4/6)
Kehadiran Dubes RI disambut Wakil Presiden Renmin University of China, Prof. Zheng Xinye, serta Dekan RDCY sekaligus Dekan School of Global Leadership, Prof. Wang Wen. Forum juga menghadirkan sejumlah master Tiongkok, antara lain Liu Zhiqin dan Luo Yongkun.
Forum sesi kuliah umum dan tanya jawab interaktif dihadiri sekitar 100 peserta nan terdiri dari akademisi, mahasiswa, peneliti, pelaku usaha, serta perwakilan beragam lembaga di Tiongkok, termasuk Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Beijing. Delapan media turut datang meliput aktivitas tersebut, termasuk The Economist.
Dalam paparannya, Dubes Djauhari menyampaikan bahwa Indonesia dan Tiongkok mempunyai peran nan semakin krusial dalam membentuk masa depan area dan dunia.
“Tiongkok merupakan ekonomi terbesar kedua dunia, sementara Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN. Bersama-sama, kedua negara mewakili lebih dari 20 persen populasi bumi dan berkontribusi nyaris 20 persen terhadap perekonomian global,” ujarnya melalui keterangan resmi nan diterima hari ini.
Dubes Djauhari juga menyoroti kuatnya perkembangan hubungan ekonomi kedua negara. Tiongkok telah menjadi mitra jual beli terbesar Indonesia selama lebih dari satu dasawarsa dan secara konsisten berada di antara tiga penanammodal terbesar di Indonesia. Pada tahun 2025, nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar USD 167 miliar, sementara investasi Tiongkok di Indonesia mencapai sekitar USD 7,5 miliar.
Menurut Djauhari, fase berikutnya hubungan Indonesia–Tiongkok perlu berfokus pada empat bagian utama, ialah AI for Development, ketahanan dan transisi energi, ketahanan pangan, serta pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan, penelitian, pertukaran mahasiswa, dan training vokasi.
Warisan Terbesar
Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan mengenai warisan terbesar nan mau ditinggalkan Dubes Djauhari setelah nyaris 8 tahun bekerja di Tiongkok.
“Namun jika ada satu kontribusi nan saya banggakan, mungkin adalah membantu memperkuat habit of dialogue antara para pemimpin kedua negara. Karena saya percaya, sekuat apa pun tantangan nan bakal kita hadapi di masa depan, selama perbincangan tetap menjadi kebiasaan, hubungan Indonesia dan Tiongkok bakal tetap logis dalam perbedaan, konstruktif dalam tantangan, dan optimistis terhadap masa depan,” ujar Dubes Djauhari.
Menutup paparannya, Djauhari menegaskan bahwa tujuan utama kerja sama Indonesia–Tiongkok bukan sekadar pertumbuhan ekonomi maupun kemajuan teknologi, melainkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Teknologi mempunyai nilai ketika bisa memperbaiki kehidupan manusia. Pembangunan mempunyai makna ketika bisa memperluas kesempatan. Dan kerja sama bakal sukses ketika bisa melayani kemanusiaan,” pungkas Dubes Djauhari.(H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·