Di Balik Tempat yang Lagi Viral

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Sumber: Gemini AI

“Eh, coba ke sini deh. Tempatnya lagi viral banget, fotonya bagus semua.” Akhir pekan lalu, seorang kawan mengirimkan letak sebuah area nan sedang ramai dibicarakan di media sosial. Katanya, tempat itu baru direnovasi. Banyak kafe bermunculan, trotoarnya lebar, lampu jalannya cantik, dan setiap sudutnya cocok dijadikan latar foto.

Karena penasaran, saya akhirnya datang. Benar saja, suasananya ramai. Banyak orang sibuk berfoto, mengobrol di kafe, alias sekadar menikmati sore sembari melangkah kaki. Hampir semua orang tampak mengabadikan momen untuk diunggah ke media sosial.

Aku pun melakukan perihal nan sama. Namun, ketika duduk di salah satu bangku taman, saya mulai memperhatikan hal-hal nan sebelumnya luput dari pandanganku. Jalan nan rapi, taman nan terawat, tempat sampah nan tersedia di banyak sudut, hingga penerangan nan membikin area itu terasa nyaman meski menjelang malam.

Lalu muncul satu pertanyaan sederhana di benakku. “Kenapa area ini bisa berubah secepat ini?”Lucunya, pertanyaan itu jarang sekali muncul ketika kita menikmati sebuah tempat. Kita lebih sibuk mencari perspektif foto terbaik dibanding mencoba memahami gimana sebuah area bisa berkembang. Menurutku, di sinilah ada sisi perpajakan nan sering terlewat dari pembahasan publik.

Selama ini, pajak sering dipersepsikan sebagai urusan angka, laporan, alias tanggungjawab administrasi. Padahal, jika dilihat dari kehidupan sehari-hari, pajak juga mempunyai hubungan dengan gimana sebuah wilayah bisa membangun dan merawat ruang publik nan dinikmati masyarakat.

Sayangnya, hubungan itu sering tidak terlihat secara langsung. Akibatnya, masyarakat merasa akomodasi nan baik adalah sesuatu nan memang sudah semestinya ada, tanpa pernah memikirkan proses panjang di baliknya. Fenomena ini menarik lantaran menunjukkan sebuah paradoks. Kita sangat sigap menghargai perubahan nan tampak di depan mata, tetapi sangat lambat memahami sistem nan membikin perubahan itu mungkin terjadi.

Bahkan, ketika sebuah area menjadi lebih nyaman untuk dikunjungi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengunjung. Pelaku upaya mini ikut mendapatkan pelanggan, pedagang kaki lima memperoleh penghasilan tambahan, dan roda ekonomi lokal bergerak lebih cepat. Artinya, pembangunan dan aktivitas ekonomi saling berkaitan. Ketika keduanya melangkah dengan baik, manfaatnya menyebar ke banyak pihak.

Menurutku, persoalan perpajakan semestinya lebih sering dijelaskan melalui cerita-cerita seperti ini. Masyarakat bakal lebih mudah memahami peran pajak ketika mereka bisa menghubungkannya dengan ruang nan betul-betul mereka gunakan setiap hari, bukan hanya melalui istilah administratif nan susah dipahami.

Cara seperti ini juga dapat mengubah langkah pandang masyarakat. Pajak tidak lagi terasa sebagai sesuatu nan jauh alias hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi sebagai bagian dari ekosistem nan memungkinkan kota terus berkembang dan memberikan faedah bagi warganya.

Tentu saja, perihal ini juga kudu dibarengi dengan pengelolaan nan transparan dan akuntabel. Kepercayaan masyarakat bakal tumbuh ketika mereka memandang hasil pembangunan nan nyata, mudah diakses, dan dirasakan bersama. Transparansi inilah nan menjadi jembatan antara kontribusi masyarakat dan faedah nan kembali kepada publik.

Menurutku, edukasi perpajakan juga perlu lebih kreatif. Sekolah, media, maupun pemerintah dapat mengangkat contoh-contoh nyata dari lingkungan sekitar agar masyarakat memahami bahwa pajak bukan sekadar nomor di atas kertas, melainkan bagian dari kehidupan sosial dan pembangunan nan mereka nikmati setiap hari.

Pada akhirnya, saya tetap bakal datang ke tempat-tempat baru nan menarik, menikmati suasana, dan mengabadikan momen berbareng teman-teman. Namun sekarang, ada satu kebiasaan mini nan mau kubangun, ialah tidak hanya bertanya “Tempat ini lagi viral di mana?”, tetapi juga bertanya “Apa nan membikin area ini bisa berkembang seperti sekarang?”

Karena ketika kita mulai memahami proses di kembali sebuah perubahan, kita juga bakal lebih menghargai pentingnya tata kelola nan baik, termasuk peran perpajakan dalam mendukung pembangunan. Mungkin foto-foto bagus hanya memperkuat beberapa detik saat dilihat di media sosial. Namun, kesadaran bahwa setiap ruang publik nan nyaman lahir dari proses nan panjang adalah pemahaman nan semestinya memperkuat jauh lebih lama.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan