Detik-Detik Menegangkan Kapal Relawan WNI Gocek Tentara Israel

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
  • Apa nan terjadi pada kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla?
  • Bagaimana kapal nan ditumpangi Herman Budianto sukses lolos?
  • Berapa banyak penduduk negara Indonesia nan ditangkap oleh militer Israel?

Baca tulisan ini 5x lebih sigap

Liputan6.com, Jakarta - Malam di Laut Mediterania Timur terasa lebih dingin dan mencekam dari biasanya. Di atas gelombang nan tenang, sekelebat gambaran tak diundang terus mengintai dari langit. Drone-drone militer Israel rupanya sudah mengunci pergerakan kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) sejak mentari tenggelam.

Nahas, firasat jelek itu menjadi realita saat fajar menyingsing, Senin (18/5/2026). Pagi itu, sekitar pukul 08.00 waktu setempat, ketegangan pecah di tengah laut. Dua kapal perang Israel tiba-tiba muncul, memburu konvoi kapal kemanusiaan nan hendak menembus blokade Gaza.

Herman Budianto, salah satu relawan Indonesia nan berada di letak kejadian, mengingat betul detik-detik mendebarkan tersebut.

"Jadi pagi, kejadiannya pagi sekitar jam 8 jam 9 waktu di sini ya. Kita lihat jika malam sih sudah terlihat drone selalu mengawasi jika turun, tapi jika ini tiba-tiba terlihat ada dua kapal perang (Israel)," kisah Herman saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/5/2026).

Suasana seketika berubah riuh penuh kepanikan. Menyadari ancaman besar mengintai, kapal-kapal dalam rombongan GSF langsung membubarkan diri, melempar arah demi menghindari kejaran. Namun, militer Israel bergerak cepat. Mereka menurunkan sejumlah perahu karet taktis berkecepatan tinggi demi menyergap kapal-kapal relawan.

"Mereka menurunkan perahu-perahu karet ya untuk mengejar target-target nan bisa dijangkau oleh mereka itu tadi," lanjut Herman.

Manuver Zig-zag Ditengah Kepungan Kapal Israel

Beruntung, Herman berada di kapal nan dipimpin oleh nakhoda andal. Di tengah kepungan perahu karet Israel, kapten kapal mengambil keputusan nekat, melakukan manuver zig-zag ekstrem di tengah laut.

"Kami salah satu kapal ini segera melakukan manuver-manuver ya, manuver-manuver lantaran kebetulan ini tim kami kapten dan lain-lainnya juga sangat berpengalamanlah dalam pengejaran-pengejaran seperti ini," ungkapnya.

Aksi kejar-kejaran bak movie laga itu berjalan tanpa bunyi letusan peluru di dekat kapal Herman. Berkat kelihaian sang kapten dan angan nan tak putus, kapal mereka sukses meloloskan diri ke area aman.

"Melakukan zig-zag saja, nan krusial tidak kembali (ke letak awal) iya tapi terus begitu dengan langkah nan dilakukan oleh tim kami. Alhamdulillah kami walaupun dengan upaya nan keras dan pertolongan dari Allah, dari doa-doa semua teman-teman semuanya, akhirnya tetap bisa lolos sampai sekarang ini," kenang Herman lega.

Pencar Posisis di Laut Lepas

Misi kemanusiaan GSF kali ini merupakan aktivitas masif nan melibatkan total 57 kapal. Herman merinci, 52 kapal berangkat dari lembaga kemanusiaan IHH Turki, sementara 5 kapal lainnya merupakan campuran dari beragam koalisi internasional.

Pasca-penyergapan, sisa armada nan sukses selamat sekarang terpaksa memecah susunan dan saling menjauh demi aspek keamanan. Dari puluhan kapal, sekarang hanya tersisa sekitar 10 kapal nan tetap nekat melanjutkan pelayaran di jalur nan berbeda.

"Jauh-jauh kita (kapal) memang ini menyebar jadi semua antar kapal sekarang jauh-jauh nan tersisa 10 kapal tadi nan terus berlayar ini," jelas Herman sembari menambahkan bahwa komunikasi antar-kapal saat ini hanya mengandalkan sambungan radio.

Nasib 5 WNI nan Berada di Kapal nan Dibajak

Jika Herman dan tiga WNI lainnya sukses lolos lewat drama manuver zig-zag, nasib berbeda menimpa lima penduduk negara Indonesia lainnya. Mereka dilaporkan ditangkap oleh militer Israel setelah kapal nan mereka tumpangi sukses dibajak.

Dari lima WNI tersebut, empat di antaranya merupakan wartawan media nasional nan sedang bertugas, dan satu orang merupakan relawan kemanusiaan.

Steering Committee Global Sumud Flotilla asal Indonesia, Maimon Herawati, mengonfirmasi identitas kelima WNI nan ditahan, ialah Toudy Badai Rifan (Jurnalis Republika), Bambang Noroyono namalain Abeng (Jurnalis Republika), Rahendro Herubowo (Jurnalis iNews), Andre Prasetyo (Jurnalis Tempo) dan Angga (Relawan Rumah Zakat)

Hingga saat ini, pihak koalisi belum bisa membuka jalur komunikasi langsung dengan kelima WNI tersebut. Kendati demikian, sinyal keselamatan muncul dari video propaganda nan dirilis oleh otoritas Israel.

“Jika memandang dari video nan dikeluarkan oleh Kemenlu Israel, kondisi teman-teman sepertinya aman. Tapi kami belum bisa menghubungi satupun di atas kapal nan sudah dikonfirmasi dibajak,” terang Maimon.

Maimon juga meluruskan kesimpangsiuran info mengenai adanya berita penembakan. Ia menegaskan bahwa kapal nan membawa rombongan WNI tidak terkena tembakan, melainkan kejadian itu terjadi di kapal koalisi lain.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita