Calon Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyiapkan sejumlah langkah strategis jika dipercaya memimpin bank sentral, salah satunya merefokus dan merevitalisasi kebijakan Lalu Lintas Devisa alias LLD.
Destry menilai kebijakan LLD krusial untuk menghadapi tantangan sektor eksternal sesuai mandat undang-undang.
“Kebijakan lampau lintas devisa bakal menjadi perhatian serius kami, sesuai dengan mandat BI berasas undang-undang. Dengan beragam tantangan mengenai sektor eksternal, baik dari sisi makro dan prasarana LLD, kami ke depan bakal melakukan refocusing dan revitalisasi kebijakan LLD, khususnya mengenai dengan pengawasan berbasis digital dan subtech,” kata Destry dalam uji kepantasan dan kepatutan berbareng Komisi XI DPR RI, Rabu (26/8).
Penguatan LLD ditujukan untuk menekan akibat under invoicing dan transfer pricing. Namun, pelaksanaannya memerlukan kerjasama lintas lembaga lantaran info LLD tersebar di banyak pihak.
“Hal ini krusial mengingat potensi under invoicing nan cukup besar, namun kami tidak bisa sendirian lantaran info mengenai LLD melibatkan banyak pihak,” ungkapnya.
Selain LLD, Destry berkomitmen memperkuat sistem finansial nan inklusif dan berkepanjangan guna mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi 8 persen. BI juga bakal melanjutkan pengembangan instrumen dan metode penghitungan emisi karbon bagi perbankan dan korporasi, serta memperkuat tata kelola kelembagaan bank sentral.
Disinggung Fundamental Rupiah
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Komisi XI DPR Dolfie OFP, menanyakan pandangan Destry mengenai nilai esensial rupiah nan dalam dugaan APBN 2026 ditetapkan Rp 16.500 per dolar AS.
“Ibu sepakat dengan pandangan itu?” tanya Dolfie di ruang rapat.
Destry menjelaskan bahwa nilai esensial rupiah berjuntai pada rentang pertumbuhan ekonomi.
“Tergantung dari range. Jadi, kami mempunyai range pertumbuhan ekonomi 4,9-5,7 persen,” kata Destry.
Ia menambahkan, jika perekonomian melangkah sangat baik, nilai esensial rupiah dapat berada di level Rp 16.500 per dolar AS.
“Tapi, kan tentunya situasinya tergantung keadaan nan terjadi,” ucap Destry.
Menanggapi perihal itu, Dolfie menyebut pemulihan rupiah dari kisaran Rp 17.700 per dolar AS menuju Rp 16.500 per dolar AS bakal menjadi tantangan utama Destry jika terpilih.
“Jadi, tantangan Ibu adalah mengembalikan nilai tukar rupiah dari Rp 17.700 per dolar AS itu kudu kembali sesuai dengan esensial ekonomi ialah Rp 16.500 per dolar,” ujar Dolfie.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·