Ilustrasi(MI/Ardi Teristi)
Sekumpulan rumah budaya beratap jerami menyambut setiap visitor nan datang. Rumah budaya ini berada di Dusun Ende, sebuah permukiman budaya suku Sasak nan tersembunyi di Lombok Tengah.
Lokasi Desa Wisata Sasak Ende nan terletak di Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Letaknya hanya sekitar 20 menit Sirkuit Internasional Mandalika nan modern,
Selain menawarkan keelokan tradisi lokal, desa ini memegang peranan krusial sebagai ruang hidup sekaligus pusat pelestarian budaya dan budaya suku Sasak. Abdurrahim, (39 tahun) penduduk lokal nan menjadi pemandu wisata memaparkan makna mendalam di kembali nama "Ende" serta kegunaan utama dari kampung budaya tersebut.
"Kampung mini namanya Sasak Ende. Jadi Ende artinya adalah pelindung. Kampung ini memang disiapkan sebagai tempat untuk melindungi budaya budaya nan ada di Lombok pada umumnya dan Sasak pada khususnya," papar dia gerbang utama desa wisata, Rabu (9/11).
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa Sasak Ende bukan sekadar destinasi lokasi wisata nan dikunjungi saat jam operasional saja, melainkan sebuah pemukiman aktif tempat penduduk masyarakat Sasak menjalani kehidupan sehari-hari.
"Kampung ini bukan sekadar sebagai tempat destinasi, tapi merupakan tempat tinggal. Jadi masing-masing rumah itu ada (penghuninya) di situ," tambahnya sebelum membujuk para visitor berkeliling memandang gedung ikonik serta rumah-rumah budaya di dalam kampung.
Ketika tiba di Bale Tani beratap alang-alang dan berlantai tanah. Ia menceritakan, lantai tanah itu dilumuri kotoran sapi secara berkala—sebuah tradisi leluhur untuk memperkuat gedung dan mengusir serangga—suara irama kayu perangkat tenun bersahut-sahutan dengan tawa anak-anak desa.
Ia mengaku, banyak visitor nan berjamu ke Desa Wisata Adat Ende. Setiap harinya paling tidak ada 300 orang nan berkunjung. Selain kehidupan warganya, visitor juga dapat menyaksikan atraksi seni dan membeli jenis cindera mata unik Sasak Ende, seperti tenuh ataupun jenis makanan.
Seni Tradisi
Di sebuah tanah lapang, atraksi kesenian tari-tarian tradisional diperagakan warga. Salah satu kekayaan budaya nan sangat terkenal di wilayah tersebut adalah tarian tradisional Gendang Beleq, nan menjadi bagian krusial dari tradisi masyarakat suku Sasak.
Abdurrahim menjelaskan pentingnya peranan tarian Gendang Beleq dalam seremoni pernikahan budaya Sasak.
"Tarian Gendang Beleq ini dipergunakan adalah sebagai untuk selebrasi wedding party alias pesta pernikahan," ujarnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa tarian ini biasanya menjadi puncak alias penutup dari seluruh rangkaian prosesi pernikahan budaya Sasak, di mana kedua mempelai diarak menuju kediaman pihak perempuan.
"Merupakan bagian ending dari prosesi budaya pernikahan orang Sasak nan diarak dua sejoli ini menuju rumah sang gadis menggunakan Tarian Gendang Beleq," tambahnya.
Tarian Gendang Beleq sendiri terus dilestarikan sebagai warisan kebudayaan unik Pulau Lombok nan sarat bakal nilai sejarah dan budaya istiadat setempat.
Selanjutnya, ada tradisi Peresean, adu ketangkasan berkompetisi unik Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Permainan ini mempunyai patokan main unik nan sarat bakal nilai budaya. Peresean pada dasarnya melibatkan tiga orang pria.
"Di situ ada tiga lelaki, dua di antaranya petarung, satu wasit," ujarnya. Petarung original dalam seni pagelaran Peresean tidak diperkenankan memakai baju saat bertanding. Selain itu, serangan nan mengenai bagian tubuh tidak serta-merta memberikan nilai kemenangan.
Misalnya, alaupun kelak kena di bagian badan, pundak, alias perut misalnya, memar merah alias membiru, itu tidak mendapatkan poin. Penentuan kemenangan absolut (KO) dalam pertarungan tradisional ini diukur dari fatalnya pukulan nan mengenai area kepala.
"Akan tetapi fatalnya jika misalkan kena di kepala kemudian bocor, itu kategorinya KO," imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, penduduk mendemonstrasikan tradisi Peresean. Meski melibatkan kekuatan bentuk nan intens, pagelaran nan disajikan saat demonstrasi budaya dibuat lebih kondusif dan amanah sebagai sarana intermezo serta pelestarian budaya.
"No body's be happy (tidak ada nan dirugikan) lantaran kita di sini bakal show nan sekadar demonstrasi saja," terang dia.
Bagi Giri, salah seorang visitor dari Yogyakarta, mengaku kagum dengan tradisi di Sasak Ende nan terus dipelihara dan dilestarikan hingga sekarang.
Desa Adat Sasak Ende menawarkan wajah Lombok nan sepenuhnya berbeda: sunyi, bersahaja, dan teguh memegang tradisi. Aktivitas pariwisata di desa budaya ini membuatnya tidak lagi terisolasi dari roda ekonomi modern. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·