Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkap besaran persediaan nikel dan kobalt Indonesia. Jika divaluasikan, nilainya mencapai USD 800 miliar jika dihitung dengan nilai kedua komoditas tersebut di London Metal Exchange (LME) saat ini.
Tim Ahli Pertambangan dan Mineral Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Nataneil Adhynegara menjelaskan nomor tersebut berasal dari persediaan nikel sebesar 52 juta ton dan kobalt sebesar 1,2 juta ton.
"Ini jika kita perkiraan nilainya dengan nilai pasar LME saat ini, itu valuasinya untuk cadangan, itu untuk nikel sekitar 700 miliar US dolar, jika kobalt sekitar 50-an miliar US dollar. Jadi disini bisa dilihat untuk total nikel dan kbalt itu sekitar 800 miliar US dollar," kata Nataneil dalam aktivitas CERAH Expert Panel di Jakarta pada Kamis (27/8).
Adapun nomor tersebut merupakan nomor persediaan nan artinya adalah jumlah nikel dan kobalt nan ‘mineable’ alias sudah dipastikan dapat ditambang. Maka dari itu, menurutnya krusial untuk ada pembahasan mengenai optimasi pemanfaatan kekayaan alam Indonesia tersebut.
“Kalau kita convert ke rupiah mungkin sekitar banyak, ya, Rp 15.000 triliun jika nggak salah, ya. 15.000 triliun itu APBN kita 5 tahun ya. Jadi cukup sangat besar. Makanya ini topik ini sangat krusial kita telaah sama-sama agar kita bisa mengoptimasi faedah dari kekayaan kita,” ujarnya.
Terkait produk turunan nikel, dia juga menjelaskan saat ini Indonesia juga sudah mulai bisa menghasilkan produk seperti nickel pig iron (NPI), baja, serta bahan baku baterai seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) dan mixed sulphide precipitate (MSP). Meski demikian, ke depan dia menarget Indonesia bisa memproduksi peralatan nan sifatnya lebih hilir lagi.
“Dan in the future kita berambisi bisa lebih hilir lagi ialah dalam produk baterai, lithium, dan juga kendaraan listrik,” kata Nataneil.
Terkait produksi, dia juga menjelaskan pasca kebijakan hiliriasi, jumlah smelter nikel berkembang pesat di Indonesia. Hal itu utamanya terjadi di Sulawesi. Saat ini, kapabilitas smelter nikel Indonesia sendiri sudah mencapai 1,8 juta ton Ni.
Di samping itu, nilai ekspor produk nikel Indonesia juga terus meningkat, apalagi hingga 12 kali lipat sejak 2014 sebesar USD 3 miliar per tahun menjadi USD 37 miliar per tahun pada 2025.
“Bayangkan peningkatannya 12 kali, itu dari sisi nilai. Kalau dari sisi volumenya itu meningkat lebih besar lagi, sampai 19 juta ton di tahun 2025,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, dia juga menjelaskan mengenai besaran royalti tambang dan smelter. Adapun royalti tambang memang lebih besar. Hal itu menurutnya memang dilakukan agar investasi lebih banyak masuk ke sektor hilirisasi.
"Kalau kita tujuannya untuk mendapatkan nilai royalti nan maksimal, maka kita harusnya pungut royaltinya di tambang agar revenue-nya maksimal. Tapi kita, kan, juga mau hilirisasi, jadi itulah makanya pemerintah menerapkan tarif royalti itu lebih rendah untuk di smelter lantaran untuk me-trigger investasi ke hilirisasi. Artinya royalti nan dibayarkan oleh penambang itu lebih besar daripada royalti nan dibayarkan oleh smelter. Jadi kita jangan keliru menganggap bahwa harusnya royalti itu dibayarkan di smelter saja, bukan di tambang," kata Nataneil.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·