DEN Jamin Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Rohman Wibowo , Jurnalis-Rabu, 03 Juni 2026 |08:09 WIB

DEN Jamin Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah

Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini memicu kekhawatiran publik mengenai stabilitas ekonomi nasional. (Foto: Okezone.com/Freepik)

JAKARTA - Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini memicu kekhawatiran publik mengenai stabilitas ekonomi nasional. Meski tekanan eksternal terus membayangi, pemerintah menjamin kondisi esensial ekonomi Indonesia saat ini tidak berada dalam posisi nan rapuh.

Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional, Luthfi Ridho, menegaskan kedaulatan ekonomi tetap terjaga meskipun rupiah mengalami pelemahan. Salah satu indikatornya terlihat dari komposisi kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) nan sekarang tinggal 12 persen alias setara Rp866 triliun.

Walaupun nomor tersebut berpotensi menambah tekanan dolar di pasar domestik jika terjadi arus modal keluar, beragam parameter akibat lainnya tetap menunjukkan sinyal positif.

Pemerintah terus memantau pergerakan pasar melalui beragam instrumen ukur nan akurat. Kepastian mengenai keahlian negara dalam mengelola tanggungjawab finansial menjadi prioritas utama guna menjaga kepercayaan penanammodal internasional.

“Sovereign Risk Premium dan currency series tetap menunjukkan kondisi nan aman. Ini menandakan kita tetap bisa bayar utang luar negeri dan mengelola tanggungjawab finansial,” ujar Luthfi dalam siaran langsung aktivitas Rakyat Bersuara iNews TV di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Terkait kebijakan subsidi, Luthfi menjelaskan posisi anggaran negara tetap cukup kondusif selama nilai minyak dunia, khususnya Brent, tidak melampaui pemisah tertentu. Saat ini, nilai minyak Brent berada di kisaran 93 dolar AS per barel, nan secara historis tetap mendekati patokan Indonesia Crude Price (ICP).

Berdasarkan hasil simulasi internal, tantangan berat baru bakal muncul jika nilai Brent menyentuh level 120 dolar AS per barel dalam kurun waktu enam bulan ke depan. Jika kondisi ekstrem tersebut terjadi, pemerintah kudu mencari langkah agar nilai bahan bakar minyak (BBM) tetap stabil guna menjaga daya beli masyarakat, terutama kelas menengah.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com