Anggota DEN Muhammad Chatib Basri.(Mi/M Ilham Ramadhan Avisena)
DEWAN Ekonomi Nasional (DEN) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai potensi kenaikan harga-harga peralatan akibat pelemahan nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian global. Meski demikian, DEN menegaskan fundamen ekonomi Indonesia saat ini tetap kokoh dan jauh lebih baik dibandingkan periode krisis 1998.
Anggota DEN, Muhammad Chatib Basri, mengungkapkan bahwa akibat inflasi nan dipicu oleh depresiasi rupiah menjadi salah satu poin krusial dalam pembahasan berbareng Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, golongan masyarakat menengah ke bawah bakal menjadi pihak nan paling terdampak jika kenaikan nilai tidak diantisipasi sejak dini.
"Kami menyampaikan bahwa salah satu rumor krusial nan kudu diperhatikan adalah kemungkinan akibat kenaikan harga-harga akibat pelemahan Rupiah," ujar Chatib Basri di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/6).
Ia menekankan pentingnya penguatan kepercayaan publik melalui kebijakan nan kredibel, termasuk efisiensi anggaran dan penyelenggaraan program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketahanan Ekonomi Lebih Baik dari 1998
Senada dengan Chatib, Anggota DEN, Mochammad Firman Hidayat, menyatakan parameter ekonomi nasional saat ini menunjukkan ketahanan nan signifikan. Sektor korporasi dinilai lebih sehat dengan utang kurs asing nan jauh lebih rendah dibandingkan tahun 1998, didukung oleh posisi kas perusahaan nan kuat.
Ketahanan sistem finansial juga tercermin dari sektor perbankan.
"Rasio permodalan perbankan alias capital ratio saat ini berada di atas 25 persen. Ini menunjukkan perbankan kita mempunyai alas kuat menghadapi akibat eksternal," jelas Firman.
Namun, DEN memberikan catatan unik mengenai tekanan biaya di tingkat produsen nan berpotensi merembet ke inflasi konsumen pada semester kedua tahun ini. Tekanan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik dunia nan mengerek nilai daya bumi serta biaya distribusi.
Sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas rupiah, DEN mengusulkan penguatan persediaan devisa melalui sektor pariwisata dan remitansi. Firman menilai Indonesia perlu mengejar ketertinggalan jumlah visitor mancanegara dari negara tetangga guna memperkuat neraca pembayaran tanpa membebani anggaran negara secara besar. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·