Demo Chaos di Raksasa Nuklir Muslim: Massa Ditembak-30 Tewas

Sedang Trending 7 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kerusuhan berdarah mengguncang wilayah Kashmir nan dikelola Pakistan setelah abdi negara keamanan setempat dituduh menembak meninggal setidaknya 30 demonstran tanpa senjata dalam dua hari terakhir. Tindakan tegas pemerintah terhadap tindakan protes massal ini memicu eskalasi bentrok terburuk dalam beberapa tahun terakhir di negara bersenjata nuklir tersebut.

Mengutip laporan The Guardian, Selasa (28/07/2026), golongan masyarakat sipil lokal Joint Awami Action Committee (JAAC) melaporkan, pasukan keamanan melepaskan tembakan ke arah puluhan ribu demonstran damai. Penembakan sadis tersebut menewaskan 25 orang pada Senin dan lima orang tambahan pada Selasa.

Aksi protes massal nan telah berjalan sejak Juni ini dipicu oleh tuntutan reformasi sistem pemilu dan penghapusan 12 bangku unik pengungsi nan dinilai menjadi perangkat pemerintah pusat untuk mengontrol politik lokal. Guna meredam gejolak, pemerintah menerapkan pemadaman total jaringan komunikasi dan internet serta melakukan penangkapan massal terhadap para aktivis.

Juri Bicara JAAC, SA Khan, menuduh abdi negara keamanan Pakistan tidak hanya menembaki massa di kota Mirpur, tetapi juga sengaja menghilangkan jenazah para korban untuk menghapus bukti penembakan. Pihak keamanan dilaporkan mengunci rumah sakit setempat dan mengangkut mayat-mayat dari jalanan setelah kekerasan pecah.

"Pasukan keamanan telah membawa lari jenazah para korban dan mengunci rumah sakit di Mirpur. Kami mempunyai bukti foto dan video jenazah nan tergeletak di jalanan dalam genangan darah, tetapi abdi negara menculik jenazah tersebut demi menghapus bukti," tegas Juru Bicara JAAC, SA Khan.

Warga lokal di Mirpur mengonfirmasi bahwa bentrok meluas saat masyarakat berkumpul untuk memprotes pembunuhan hari sebelumnya, sebelum akhirnya toko-toko dipaksa tutup akibat tindakan keras petugas. Verifikasi independen mengenai jumlah total korban tewas susah dilakukan lantaran media dilarang memasuki area bentrok dan pemblokiran internet tetap berlangsung.

Pemerintah Pakistan membantah keras keterlibatan negara dalam penembakan massa demonstran sipil. Menteri Informasi Pakistan, Atta Tarar, dalam konvensi pers menuduh bahwa gelombang demonstrasi di Kashmir mendapat sokongan "dana dan instruksi" langsung dari India.

Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pihak JAAC nan menegaskan bahwa narasi keterlibatan India selalu dipakai pemerintah untuk membungkam tuntutan kewenangan politik rakyat. Sebelumnya pada Juni lalu, sekitar 40 orang dilaporkan tewas saat kekerasan pertama kali meletus, nan direspons pemerintah dengan melabeli JAAC sebagai organisasi teroris.

Eskalasi berdarah ini memicu keprihatinan internasional, di mana Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Türk mendesak dilakukannya penyelidikan independen. Amnesty International turut mendesak Islamabad untuk segera membuka kembali akses komunikasi serta menghentikan kekerasan terlarangan terhadap warga.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News