Daycare Aresha dan Matinya Empati

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Warga melintas di dekat penitipan anak alias daycare Little Aresha nan disegel polisi di Umbulharjo, Yogyakarta, Minggu (26/4/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO

Lebih dari seratus anak—sebagian tetap bayi—diduga menjadi korban dalam kasus Daycare Aresha di Jogja. Angka itu bukan sekadar data, melainkan juga ukuran dari sebuah kepercayaan nan runtuh.

Peristiwa ini menyisakan duka nan tak sederhana. Bukan hanya tentang apa nan dialami anak-anak, melainkan juga tentang gimana para orang tua kudu menata ulang rasa percaya, bahwa ada ruang di luar rumah nan kondusif bagi anak.

Kasus ini terungkap setelah adanya laporan dari mantan tenaga kerja nan mengaku menyaksikan dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak di tempat penitipan tersebut. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian dengan penyergapan pada April 2026. Dalam proses tersebut, ditemukan indikasi perlakuan nan tidak layak terhadap anak, nan kemudian memicu penyelidikan lebih lanjut dan perhatian luas dari publik.

Ketika kepercayaan itu retak, nan muncul bukan hanya kemarahan. Ada resah nan berlapis, penyesalan nan datang terlambat, dan tanya nan berulang tanpa jawaban nan betul-betul menenangkan.

Dalam situasi seperti itu, publik semestinya menjadi ruang nan meneduhkan, tempat di mana kesedihan tidak bertambah berat oleh penilaian. Namun, nan terjadi sering kali berbeda.

Ilustrasi komentar. Foto: SrideeStudio/Shutterstock

Di tengah empati nan diharapkan, muncul komentar nan bersuara menghakimi. Kalimat seperti “seharusnya lebih hati-hati” alias “jangan sembarangan menitipkan anak” beredar tanpa banyak jeda. nan mengusik, sebagian bunyi itu datang dari sesama ibu.

Fenomena ini membujuk kita merenung: Bagaimana empati bisa berubah arah?

Dalam ilmu jiwa sosial, dikenal konsep just world hypothesis, kepercayaan bahwa bumi pada dasarnya adil. Keyakinan ini memberi rasa aman: selama seseorang berhati-hati, dia merasa dapat menghindari perihal buruk.

Masalahnya muncul ketika realita tidak melangkah sejalan. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa apalagi di ruang nan dipercaya, akibat tetap ada. Dan bagi banyak orang, kesadaran itu tidak mudah diterima begitu saja.

Di titik itulah, pikiran mencari jalan pintas. Persoalan nan kompleks disederhanakan. Ketidakpastian dipersempit.

Dan tanpa disadari, kesalahan diarahkan kepada mereka nan justru sedang menanggung dampak. Dengan langkah itu, rasa kondusif nan sempat goyah perlahan dipulihkan, meski hanya di dalam pikiran sendiri.

Namun, penjelasan tidak berakhir di sana.

Ilustrasi anak-anak sedang beraktivitas di daycare. Foto: Shutterstock

Di kembali reaksi nan tampak tegas, sering tersembunyi kegamangan nan lebih sunyi. Banyak orang tua pernah berada dalam situasi serupa, menitipkan anak di tengah keterbatasan pilihan. Ketika kasus ini mencuat, nan muncul bukan hanya empati, melainkan juga bayangan: Bagaimana jika itu terjadi pada anakku?

Bayangan ini tidak nyaman. Ia membawa kekhawatiran nan susah diolah. Dalam kondisi demikian, menjaga jarak sering terasa lebih mudah daripada mendekat.

Padahal, beragam kajian menunjukkan bahwa empati merupakan fondasi dari perilaku saling mendukung dalam masyarakat. Ketika empati melemah, nan muncul bukan lagi dorongan untuk membantu, melainkan kecenderungan untuk menilai.

Media sosial mempercepat perubahan ini. Tanpa tatap muka, tanpa jeda, respons menjadi lebih sigap daripada refleksi. Sebuah kajian tentang kesenjangan empati digital menunjukkan bahwa intensitas komunikasi daring tidak selalu diiringi dengan kedalaman pemahaman emosional.

Akibatnya, ruang publik menjadi lebih sigap bereaksi, tetapi tidak selalu lebih bijak. Memahami sistem ini bukan berfaedah membenarkan sikap menghakimi. Sebaliknya, dia mengingatkan bahwa empati perlu dirawat secara sadar.

Ilustrasi anak-anak. Foto: bayu pamungkas/Shutterstock

Dalam konteks perlindungan anak, perhatian semestinya diarahkan pada perihal nan lebih mendasar: gimana sistem pengawasan diperkuat, gimana standar pengasuhan ditegakkan, dan gimana tanggung jawab kelembagaan dijalankan secara konsisten.

Kritik tetap diperlukan. Bahkan, itu penting. Namun, arah kritik menentukan dampaknya. Kritik nan menguatkan sistem mendorong perbaikan. Sebaliknya, penilaian terhadap korban hanya memperpanjang luka.

Pada akhirnya, peristiwa ini bukan hanya tentang satu kasus. Ia adalah cermin tentang gimana kita merespons kerentanan.

Kita mungkin tidak selalu bisa memilih reaksi pertama: takut, cemas, alias dorongan untuk menilai. Namun kita selalu mempunyai ruang untuk memilih reaksi berikutnya.

Apakah kita bakal menambah beban, alias meringankan? Dan mungkin, pertanyaan nan paling jujur adalah ini: Apakah kita betul-betul mau memahami alias hanya mau merasa lebih kondusif dengan langkah merasa benar?

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan