Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menegaskan revitalisasi sekolah bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan investasi untuk mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.(Kemendikdasmen)
PAGI itu suasana sekolah di Kabupaten Tabanan tampak berbeda. Bangunan nan sebelumnya mengalami beragam keterbatasan sekarang berdiri lebih layak dan representatif. Namun bagi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq, nan diresmikan bukan sekadar ruang kelas baru alias tembok nan diperbarui. nan sedang dibangun adalah masa depan Indonesia.
Saat meresmikan program revitalisasi sekolah di Tabanan, Kamis (4/6), Fajar menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia kudu dimulai dari penyediaan lingkungan belajar nan aman, nyaman, dan bermutu.
“Hari ini kita meresmikan gedung sekolah nan telah direvitalisasi. Namun sesungguhnya nan kita bangun bukan sekadar ruang kelas, melainkan masa depan Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan arah kebijakan pendidikan nan saat ini ditempuh pemerintah. Di bawah agenda pembangunan sumber daya manusia nan menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto, pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai ekspansi akses, melainkan juga peningkatan mutu jasa nan diterima peserta didik.
Dalam kerangka itulah revitalisasi sekolah ditempatkan sebagai investasi strategis. Pemerintah mau memastikan tidak ada lagi anak Indonesia nan kudu belajar di ruang kelas nan rusak, tidak aman, alias tidak mendukung proses pembelajaran.
Meski demikian, pembangunan bentuk hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar pendidikan nasional. Tantangan nan dihadapi Indonesia saat ini jauh lebih kompleks. Di satu sisi akses pendidikan semakin luas, tetapi di sisi lain kualitas pembelajaran tetap menjadi pekerjaan rumah bersama. Masih banyak peserta didik nan belum mencapai kompetensi dasar dalam literasi dan numerasi.
Karena itu, menurut Fajar, revitalisasi sekolah tidak boleh berakhir pada pembangunan gedung. nan lebih krusial adalah gimana ruang-ruang belajar nan lebih baik itu bisa melahirkan kualitas pembelajaran nan lebih baik pula. “Ruang kelas nan lebih baik kudu menghasilkan pembelajaran nan lebih aktif. Perpustakaan nan lebih baik kudu melahirkan budaya literasi nan lebih kuat. Laboratorium nan lebih baik kudu menghasilkan produktivitas dan penemuan nan lebih tinggi,” katanya.
Di tengah tantangan tersebut, Tabanan dinilai mempunyai modal nan cukup kuat untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan. Berdasarkan Rapor Pendidikan 2025, Kabupaten Tabanan mencatat Indeks Standar Pelayanan Minimal Pendidikan sebesar 81,46 dengan kategori Tuntas Madya. Capaian literasi, numerasi, suasana keamanan sekolah, hingga kebinekaan juga menunjukkan perkembangan nan positif.
Bagi pemerintah, capaian tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan nan baik tidak hanya diukur dari nilai akademik, melainkan juga dari keahlian sekolah membangun karakter dan ekosistem belajar nan sehat.
Namun bumi nan bakal dihadapi generasi muda Indonesia ke depan juga berbeda dengan hari ini. Perkembangan kepintaran artifisial, transformasi digital, perubahan iklim, hingga persaingan dunia menuntut sekolah menyiapkan keahlian nan lebih kompleks dibandingkan sebelumnya.
Anak-anak tidak cukup hanya dibekali pengetahuan. Mereka kudu bisa berpikir kritis, berkolaborasi, beradaptasi, dan memecahkan persoalan nan terus berubah. Karena itu penguatan literasi, numerasi, sains, teknologi, kreativitas, dan karakter menjadi fondasi utama pendidikan masa depan.
Dalam rangkaian kunjungannya di Bali, Fajar juga berjumpa dengan guru-guru Muhammadiyah se-Bali. Di hadapan para pendidik, dia mengingatkan bahwa kemajuan pendidikan tidak mungkin dicapai oleh pemerintah semata. Pendidikan adalah kerja berbareng nan melibatkan masyarakat, organisasi keagamaan, keluarga, bumi usaha, dan pemerintah secara bersamaan.
Menurut dia, semangat partisipasi semesta nan sekarang didorong Kemendikdasmen sesungguhnya telah lama dipraktikkan Muhammadiyah melalui tradisi pengelolaan pendidikan berbasis masyarakat. Negara menyediakan kebijakan dan fasilitas, tetapi kualitas pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan.
Di atas semuanya, kata Fajar, aspek nan paling menentukan tetaplah guru. Sebagus apa pun gedung sekolah nan dibangun pemerintah, pendidikan tidak bakal bergerak maju tanpa pembimbing nan bisa menginspirasi, menumbuhkan rasa mau tahu, dan membentuk karakter peserta didik.
Dari Tabanan, pemerintah mau mengirimkan pesan sederhana: membangun sekolah pada akhirnya adalah membangun manusia. Di ruang-ruang kelas nan lebih layak itulah cita-cita Indonesia Emas 2045 mulai ditanamkan hari ini. (RO/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·