Belajar tidak selalu kudu dimulai dari kitab dan meja di ruang kelas. Di Omah Sinau, Kota Jambi, masyarakat belajar dari sampah nan mereka bawa, ikan lele nan mereka budidayakan, hingga listrik nan mengalir dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Matahari terbit setiap hari, tetapi di Omah Sinau, sinar tersebut tidak hanya berakhir di halaman. Ia ditangkap panel surya, diubah menjadi energi, lampau mengalir ke beragam perspektif aktivitas warga, menghidupkan aerator di kolam lele, membantu mesin pengolahan sampah, hingga menopang aktivitas UMKM.
Adalah Suminah, pengelola Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Omah Sinau. Semua penemuan itu berasal dari kegelisahan, bahwa sampah terus bertambah, ekonomi penduduk belum kuat, potensi lingkungan belum sepenuhnya dimanfaatkan, dan anak-anak butuh ruang belajar serta tumbuh.
“Omah Sinau konsepnya kita pemberdayaan, jadi kita ada bank sampah, ada perpustakaan, ada training center nan itu memang mengedukasi masyarakat untuk lebih ramah lingkungan,” katanya saat berbincang berbareng kumparan.
Suminah menjelaskan aktivitas utama dari DEB Omah Sinau mencakup bank sampah, nan menjadi pintu masuk edukasi lingkungan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Berkatnya, total sampah nan dikelola mencapai 1.000 hingga 5.000 kilogram per bulan.
Sampah bukan lagi menjadi masalah, namun menjadi sumber daya. Edukasi nan dilakukan mencakup gimana langkah memilah sampah hingga konsep 3R, reuse, reduce, dan recycle bagi masyarakat setempat. Hasil konkretnya berupa budidaya maggot hingga produk daur ulang nan bisa dijual kembali.
“Mereka mulai diedukasi untuk memilah baik nan organik maupun anorganik, dan gimana kemudian bisa diolah misalkan pembuatan pupuk, kemudian kita juga ada maggot, kemudian dijadikan pakan kembali untuk kolam ikan lele sehingga ekonomi sirkularnya berputar,” tutur Suminah.
Ekonomi sirkular nan tercipta dari aktivitas budidaya maggot dari sampah organik dan produksi pakan ternak lele berbobot tinggi tersebut menciptakan pendapatan bagi masyarakat, potensinya mencapai Rp 2-5 juta per bulan untuk setiap grupnya.
Edukasi itu juga menyasar anak sekolahan, dari jenjang TK hingga perkuliahan. Salah satu paket eduwisata nan dihadirkan mencakup program Jadi Bijak Sampah Sejak Dini. Harga Tiket Masuk (HTM) dari paket itu bisa ditukar dengan souvenir hasil produksi UMKM.
“Anak-anak bisa belajar dari situ, menari, kemudian kumpul bareng berdiskusi, pelatihan-pelatihan misalkan kayak bioflok (budidaya ikan) kan orang perlu belajar sistemnya, sistem bioflok itu seperti apa,” ucap Suminah.
Tidak hanya pengolahan sampah, aktivitas di Omah Sinau juga berdasarkan daya bersih. PLTS dengan kapabilitas 4,6 kWp dimanfaatkan untuk mendukung beragam aktivitas produktif seperti pembelajaran, aktivitas upaya Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), budidaya dan peralatan produktif, hingga pengembangan ekosistem DEB.
“Di PLTS itu kita mengedukasi bahwa listrik itu enggak bisa seterusnya kondusif lantaran itu menggunakan fosil, misalnya dengan beberapa opsi daya lain,” tutur Suminah.
Dampak penghematan pun muncul dari adanya PLTS. Operasional kantor, mesin pencacah sampah, hingga mesin jahit untuk merajut produk daur ulang di UMKM memerlukan biaya nan cukup besar, hingga Rp 600-700 ribu per bulan.
“Kalau nan sebelumnya kan sekitaran Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu, setelah ada PLTS paling Rp 350 ribu-an, 50 persen-an kurang lebih itu penurunannya,” ungkapnya.
Apalagi di tengah tantangan kondisi daya di wilayahnya nan terkadang pasokan listrik tidak tersalurkan dengan andal sehingga menakut-nakuti kualitas peralatan seperti mesin aerator hingga sistem penerangan, PLTS menjadi tulang punggung nan sangat diandalkan penduduk setempat.
Suminah menggarisbawahi pengaruh paling signifikan dari aktivitas Omah Sinau adalah edukasi. Dengan support bimbingan Pertamina Trans Kontinental, dia menjelma sebagai Local Hero nan berfaedah bagi sekitar. Latar belakangnya nan merupakan ketua RT dan bekerja di sebuah organisasi sosial melancarkan niatnya membangun pola pikir masyarakat nan lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kegiatan di sana itu semuanya lebih ada memunculkan kepedulian di masyarakat, mereka lebih aware misalkan untuk energi, bisa lebih hemat, gimana juga sebenarnya bahwa alam itu bisa digunakan untuk daya terbarukan,” tuturnya.
Omah Sinau tidak berakhir pada aktivitas mengumpulkan sampah. Masyarakat diberi pengetahuan, wadah, hingga kesempatan untuk mengubah sampah menjadi sumber nilai ekonomi. Produk daur ulang dapat dipasarkan, sementara program edukasi memberikan warisan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
Melalui program DEB, Pertamina membantu memperkuat langkah tersebut, menjadikan daya bersih sebagai salah satu fondasi agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam membangun kemandirian di lingkungannya sendiri.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron, kehadiran DEB menjadi salah satu solusi untuk membantu mengatasi masalah nan ada di masyarakat.
"Desa Energi Berdikari bukan hanya menghadirkan daya terbarukan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi, sosial, dan lingkungan masyarakat secara berkelanjutan," ujar Baron.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·