Komposer Andi Rianto mengungkap hubungan musik dengan memori kehidupan, mengenang penampilannya di markas besar PBB saat usia 15 tahun hingga pandangannya soal berkarya.(Instagram)
BAGI seorang musisi, lagu sering kali bukan sekadar rangkaian nada terdapat ribuan memori, pengalaman, hingga potongan perjalanan hidup nan ikut tersimpan nan menyertainya. Hal itu pula nan menjadi benang merah dalam perjalanan bermusik seorang komposer dan penata musik, Andi Rianto.
Dalam sesi wawancara eksklusif, Andi Rianto bercerita musik selalu mempunyai hubungan dengan kenangan tertentu dalam hidup seseorang. Menurutnya, nyaris setiap orang pasti pernah mengalami momen ketika sebuah lagu tiba-tiba membawa mereka kembali pada situasi tertentu di masa lalu.
“Kalau kita mendengar suatu lagu, apalagi nan pernah kita dengar sebelumnya, pasti kita mengasosiasikan dengan momen pertama kali mendengarnya alias momen apa nan terjadi saat kita mendengar lagu itu,” ujar Andi Rianto.
Ia mengatakan setiap lagu seperti mempunyai rekaman memorinya sendiri. Karena itu, musik baginya bukan hanya soal aransemen alias melodi, tetapi juga tentang pengalaman emosional nan tersimpan di dalamnya.
“Lagu itu kayak merekam memori tersendiri di hati kita dan tiap lagu pastinya memorinya berbeda-beda,” lanjutnya.
Pandangan tersebut nan kemudian membentuk langkah Andi Rianto memandang musik selama puluhan tahun berkarier sebagai komposer dan penata musik. Bagi Andi, kekuatan sebuah lagu bukan hanya pada teknis musikal, tetapi juga pada kedekatan emosional nan bisa tercipta dengan pendengarnya.
Kenangan Manggung Di PBB
Di tengah perbincangan soal perjalanan kariernya, Andi Rianto juga mengenang salah satu momen nan paling membekas dalam hidupnya, ialah ketika tampil di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 1987. Saat itu usianya baru 15 tahun.
Ia tampil membawakan karya cipta berjudul “Phinisi Nusantara” dalam sebuah konser di markas besar PBB. Meski sudah berjalan puluhan tahun lalu, pengalaman tersebut tetap terus diingatnya hingga sekarang.
“Saya pernah berkonser di markas besar PBB di New York untuk karya saya judulnya Phinisi Nusantara. Itu tahun 1987 ketika saya umur 15 tahun,” kata Andi Rianto.
Kesempatan tampil di panggung internasional pada usia nan sangat muda menjadi pengalaman krusial dalam perjalanan hidupnya sebagai musisi. Apalagi saat itu dia membawakan karya buatan sendiri di hadapan audiens internasional.
Meski begitu, Andi mengaku pengarsipan dari momen tersebut sangat terbatas. Ia apalagi mengatakan sebagian besar foto dari konser itu sudah tidak tersimpan dengan baik lantaran saat itu belum ada media sosial maupun pengarsipan digital seperti sekarang.
“Foto-fotonya aja saya sudah nggak ada, ada lah tapi nggak bagus,” ujarnya sembari tertawa.
Pandangan Soal Berkarya
Pengalaman panjang di bumi musik membikin Andi Rianto mempunyai pandangan tersendiri mengenai proses menciptakan karya. Ia mengaku tidak pernah membikin lagu dengan tujuan agar menjadi karya nan kekal alias mengikuti tren tertentu.
“Aku jika berkarya itu tidak ada tujuan kudu everlasting alias evergreen. Tapi lebih ke karya ini kudu betul-betul honest, betul-betul dari hati kita,” katanya.
Menurut Andi, karya nan lahir dari kejujuran bakal selalu menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepada pendengar. Ia percaya musik nan dibuat dengan tulus bakal tetap relevan meski didengar bertahun-tahun kemudian.
“Kalau itu sudah betul-betul keluar dari hati kita, Insyaallah bakal sampai ke orang nan mendengarnya. Kadang-kadang bisa 10 tahun lagi, bisa 20 tahun lagi,” ujar Andi.
Kini, setelah puluhan tahun berkarya, Andi Rianto memandang perjalanan musiknya sebagai kumpulan pengalaman dan kenangan nan terus hidup. Dari tampil di markas besar PBB saat remaja hingga menjadi salah satu komposer Indonesia nan karyanya dikenal lintas generasi, musik bagi Andi selalu mempunyai hubungan erat dengan memori manusia.
Kini, Andi Rianto juga tengah menyiapkan kerjasama besar berbareng sejumlah musisi lintas generasi seperti Tulus, Krisdayanti, Nadhif Basalamah, Anggi Marito, serta Didiie Shazry. (Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·