Liputan6.com, Jakarta - Program Sekolah Rakyat nan menjamin pendidikan cuma-cuma bagi para pesertanya memberikan angan baru bagi mereka nan sempat putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Salah satunya adalah penjual tahu bulat.
Daifulloh Afif (19), siswa asal Bekasi nan berkawan disapa Dai. Ia sekarang kembali melanjutkan pendidikan di kelas 1 SRMA 13 Bekasi, meski usianya lebih tua dibandingkan teman-teman sekelasnya.
Sebelumnya, Dai sempat putus sekolah selama kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali mengenyam pendidikan.
“Dulu saya pernah sekolah SMA sampai kelas 10, tapi tidak sampai lulus. Saya sekolah hanya sekitar tujuh bulan,” cerita Dai, ditulis (16/4).
“Karena orang tua kurang biaya,” imbuhnya.
Orang tua Dai diketahui berdagang jajanan menggunakan gerobak di Bekasi. Kondisi tersebut membikin Dai berupaya untuk tidak membebani ekonomi keluarganya.
Pada usia 16 tahun, Dai mulai berdagang tahu bulat. Selain itu, dia juga pernah bekerja di bengkel mobil, menjadi kurir shopping daring, hingga kurir jasa ekspedisi.
Meski telah mempunyai penghasilan sendiri, Dai mengaku tetap mau kembali bersekolah.
“Karena dari dulu sebenarnya saya mau sekolah SMA,” kata Dai, nan mempunyai minat di bagian pemrograman alias coding.
Keinginan tersebut akhirnya terwujud ketika dia mengetahui bahwa Sekolah Rakyat menerima siswa nan sempat putus sekolah tanpa dipungut biaya.
“Menurut saya, Sekolah Rakyat sangat membantu. Karena di luar sana tetap banyak orang nan putus sekolah lantaran biaya,” kata Dai.
“Dengan adanya Sekolah Rakyat ini, orang-orang tetap bisa punya angan baru untuk meraih cita-cita ke depannya tanpa kudu pusing memikirkan biaya,” tambahnya.
Seluruh akomodasi pendidikan hingga kebutuhan sehari-hari siswa, seperti perlengkapan mandi, sepatu, kaos kaki, tas sekolah, hingga pakaian, disediakan secara cuma-cuma oleh Sekolah Rakyat.
Dai juga mengaku berterima kasih lantaran mendapatkan makan bergizi tiga kali sehari di asrama. Selain itu, sistem pendidikan di Sekolah Rakyat membentuk kedisiplinannya dan mengembalikannya pada rutinitas sebagai pelajar.
“Sejak di SR, saya jadi bisa bangun pagi. Waktu tetap berdagang, saya sering sampai pagi, apalagi sampai jam 2 alias 3 pagi. Jadi biasanya baru bangun sekitar jam 10. Sekarang, saya selalu bangun pagi,” jelas Dai.
Ketika ditanya mengenai cita-citanya, Dai mengaku mau menjadi pengusaha. Minat tersebut tidak hanya terbentuk dari pengalamannya berdagang tahu bulat, tetapi juga dikembangkan melalui aktivitas ekstrakurikuler kewirausahaan di sekolah.
Salah satu aktivitas kewirausahaan di SRMA 13 Bekasi adalah budidaya tanaman sayuran. Hasil panen nan dirawat langsung oleh siswa nantinya bakal dijual, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh para siswa.
“Untuk Bapak Presiden, terima kasih lantaran sudah mengadakan program Sekolah Rakyat. Kami nan kekurangan biaya jadi bisa punya angan lagi untuk meraih cita-cita. nan tadinya sudah putus di tengah jalan, tidak punya biaya, dan tidak tahu kudu bagaimana, sejak ada Sekolah Rakyat, kami jadi punya angan lagi, Pak,” pungkas Dai.
Kisah Dai ini menjadi bukti bahwa kehadiran Sekolah Rakyat tidak hanya sekedar mendidik tentang kedisiplinan, melainkan juga menjadi angan masa depan mereka nan kurang mampu.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·