Dampak Kenaikan BI-Rate: IHSG Berpotensi Volatil, Saham Big Caps Perbankan Jadi Sorotan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
 IHSG Berpotensi Volatil, Saham Big Caps Perbankan Jadi Sorotan Ilustrasi(Antara)

PASAR modal Indonesia tengah merespons kebijakan terbaru Bank Indonesia (BI) nan meningkatkan suku kembang acuan. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, BI memutuskan meningkatkan BI-Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Selain itu, suku kembang deposit facility naik menjadi 4,25% dan lending facility menjadi 6%.

Proyeksi IHSG Pasca Kenaikan BI-Rate

Menurut pengamat pasar modal, Reydi Octa, IHSG diprediksi bakal bergerak naik turun dengan kecenderungan konsolidasi dalam jangka pendek. Meski demikian, potensi pemulihan teknikal (technical rebound) tetap terbuka lebar, khususnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps).

"Jika rupiah mulai stabil dan tekanan jual asing mereda pascakenaikan suku bunga, kesempatan technical rebound tetap terbuka terutama pada saham big caps perbankan," ujar Reydi, di Jakarta, Rabu (20/5).

Reydi menambahkan bahwa kebijakan moneter ini mempunyai dua sisi bagi pasar saham. Di satu sisi, kenaikan suku kembang membantu menahan arus keluar modal (capital outflow) dan menjaga stabilitas rupiah. Namun, di sisi lain, biaya pinjaman nan lebih mahal dapat menghalang pertumbuhan ekonomi riil.

"Namun, konsekuensinya pertumbuhan kredit, konsumsi, dan ekspansi upaya berpotensi sedikit melambat lantaran biaya pinjaman menjadi lebih tinggi," ujar Reydi.

Dampak pada Sektor dan Investor

Secara umum, pasar saham Indonesia mengalami tekanan sebagai akibat dari kenaikan suku kembang nan meningkatkan cost of fund.

"Sektor nan sensitif terhadap kembang seperti properti, teknologi, dan consumer non-primer berpotensi lebih tertekan," ujar Reydi.

Meski menjadi sentimen negatif bagi emiten tertentu, langkah BI dinilai positif oleh penanammodal asing lantaran dianggap proaktif dalam meredam volatilitas nilai tukar.

"Pasar memandang BI cukup garang merespons tekanan eksternal dan volatilitas nilai tukar, sehingga dapat membantu meredam capital outflow lebih lanjut," ujar Reydi.

Kinerja Pasar Hari Ini

Pada perdagangan Rabu (20/5) pukul 15.10 WIB, IHSG tercatat terkoreksi 76,22 poin alias 1,20% ke level 6.294,46. Total transaksi mencapai 2,18 juta kali dengan volume 35,97 miliar lembar saham, senilai Rp18,64 triliun. Sebanyak 166 saham menguat, 539 saham melemah, dan 111 saham stagnan.

Alasan BI Menaikkan Suku Bunga

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik terhadap gejolak eksternal, termasuk ketegangan di Timur Tengah.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari akibat tingginya gejolak dunia akibat perang di Timur Tengah, serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1% nan ditetapkan pemerintah," kata Gubernur BI Perry Warjiyo.

Kebijakan ini mencerminkan konsentrasi Bank Indonesia tahun 2026 nan mengedepankan stabilitas ekonomi nasional (pro-stability) di tengah ketidakpastian global. (Ant/E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia