Dalil Doa Makbul di Antara Dua Khutbah Jumat Menurut Empat Mazhab

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Dalil Doa Makbul di Antara Dua Khutbah Jumat Menurut Empat Mazhab Ilustrasi.(Magnific)

HARI Jumat merupakan sayyidul ayyam alias tuannya hari nan mempunyai banyak keistimewaan dalam Islam. Salah satu momen nan paling dinantikan oleh umat Muslim adalah waktu mustajab untuk berdoa. Di antara sekian banyak pendapat mengenai kapan waktu tersebut terjadi, salah satu nan paling masyhur adalah saat khatib duduk di antara dua khutbah.

Momen singkat ini dianggap sebagai waktu emas di mana pintu langit terbuka. Namun, gimana sebenarnya landasan dalil dan pandangan para ustadz dari empat ajaran besar (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) mengenai perihal ini? Berikut ulasan mendalamnya.

Dalil Utama Waktu Mustajab di Hari Jumat

Landasan utama mengenai waktu makbul pada hari Jumat berasal dari sabda sahih nan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim:

"Sesungguhnya pada hari Jumat itu ada satu waktu nan tidaklah seorang hamba Muslim berdiri shalat lampau meminta sesuatu kepada Allah, melainkan Allah bakal mengabulkan permintaannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Mengenai spesifikasi waktu saat khatib duduk, para ustadz bersandar pada sabda nan diriwayatkan oleh Abu Burdah bin Abi Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ

"Waktu tersebut antara pemimpin duduk (di bangku mimbar) sampai selesainya shalat Jumat." (HR. Muslim).

Pandangan Ulama Empat Mazhab

Meskipun sabda di atas secara tekstual menyebut rentang waktu dari duduknya pemimpin hingga shalat selesai, para ustadz mempunyai penekanan nan berbeda dalam implementasinya, terutama mengenai larangan berbincang saat khutbah berlangsung.

1. Mazhab Syafi'i

Ulama Syafi'iyyah beranggapan bahwa waktu mustajab memang terjadi sejak pemimpin duduk di mimbar hingga shalat selesai. Namun, titik paling kuat (rajih) adalah saat pemimpin duduk di antara dua khutbah. Karena pada saat khutbah, jemaah dilarang berbicara. Doa dilakukan di dalam hati tanpa mengeraskan bunyi agar tidak membatalkan pahala Jumat.

2. Mazhab Hambali

Senada dengan Syafi'iyyah, Mazhab Hambali juga menguatkan sabda riwayat Muslim tersebut. Mereka menganjurkan jemaah untuk memanfaatkan waktu duduknya pemimpin dengan bermohon secara sirr (rahasia/dalam hati). Bagi mereka, ini salah satu dari dua waktu paling mustajab di hari Jumat selain waktu setelah Ashar hingga terbenam matahari.

3. Mazhab Hanafi

Dalam pandangan Hanafi, saat khutbah berlangsung, jemaah diwajibkan untuk tak bersuara secara total (inshat). Oleh lantaran itu, mereka lebih menekankan agar jemaah tidak menyibukkan diri dengan angan lisan saat pemimpin duduk di antara dua khutbah. Doa tetap boleh dilakukan tetapi kudu betul-betul di dalam hati tanpa aktivitas bibir, demi menjaga kesempurnaan mendengarkan khutbah.

4. Mazhab Maliki

Ulama Malikiyyah mempunyai kecenderungan nan mirip dengan Hanafi dalam perihal ketegasan mendengarkan khutbah. Namun, mereka tetap mengakui ada waktu mustajab tersebut. Fokus utama mereka adalah menjaga etika khutbah, sehingga angan di antara dua khutbah dilakukan dengan sangat singkat dan tetap dalam kondisi tak bersuara (silent).

Adab Berdoa di Antara Dua Khutbah

Agar angan kita berkesempatan besar dikabulkan tanpa melanggar patokan hukum saat penyelenggaraan salat Jumat, berikut beberapa etika nan perlu diperhatikan:

  • Dilakukan dalam Hati: Hindari mengangkat tangan alias menggerakkan bibir secara mencolok lantaran kebanyakan ustadz mewajibkan tak bersuara saat khutbah (termasuk jarak khutbah).
  • Singkat dan Padat: Mengingat waktu duduk pemimpin sangat singkat (biasanya hanya beberapa detik), pilihlah angan nan paling mendesak alias gunakan angan sapu jagat.
  • Menghadirkan Hati: Fokus dan percaya bahwa Allah SWT sedang mendengar permintaan Anda di waktu nan mulia tersebut.
  • Tetap Menjaga Wudu: Pastikan dalam keadaan suci sempurna untuk menambah keberkahan doa.

Tabel Perbandingan Waktu Mustajab Jumat

Pendapat Waktu Dasar Argumen Keterangan
Antara Dua Khutbah Hadis Riwayat Muslim Sangat kuat menurut Syafi'i & Hambali.
Setelah Ashar Hadis Riwayat Abu Dawud Waktu terakhir sebelum mentari terbenam.
Saat Salat Berlangsung Hadis Riwayat Muslim Terutama saat sujud terakhir salat Jumat.

Kesimpulan

Meskipun terdapat perbedaan teknis mengenai langkah berdoa, para ustadz empat ajaran sepakat bahwa waktu di antara dua khutbah adalah waktu nan mulia. Cara terbaik bagi jemaah adalah bermohon dengan tulus di dalam hati tanpa mengganggu kekhusyukan jemaah lain alias melanggar tanggungjawab tak bersuara saat rangkaian khutbah berlangsung.

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun sebagai referensi edukasi fikih. Untuk pendalaman norma nan lebih spesifik, disarankan berkonsultasi dengan ustad alias ustaz setempat nan menguasai kitab kuning secara mendalam.

Pertanyaan Umum Seputar Doa Jumat

1. Bolehkah mengangkat tangan saat bermohon di antara dua khutbah?
Sebagian besar ustadz menganjurkan untuk tidak mengangkat tangan agar tidak mengganggu konsentrasi dan tetap menjaga etika diam saat rangkaian khutbah.

2. Apa angan nan paling utama dibaca?
Tidak ada angan unik nan diwajibkan. Namun angan memohon pembebasan (istighfar) dan kebaikan bumi alambaka (Rabbana Atina...) sangat dianjurkan.

3. Bagaimana jika saya tertidur saat pemimpin duduk di antara dua khutbah?
Jika tertidur dalam posisi duduk nan mantap (tidak berubah posisi pantat dari lantai/alas), wudu tidak batal, tetapi Anda kehilangan momen emas untuk berdoa. Jika posisi berubah, wajib berwudu kembali sebelum salat dimulai.

4. Apakah waktu mustajab ini juga bertindak bagi wanita di rumah?
Para ustadz beranggapan bahwa keistimewaan hari Jumat bertindak untuk seluruh Muslim. Wanita nan salat Zuhur di rumah dapat mengambil waktu mustajab pada saat pemimpin di masjid sedang duduk di antara dua khutbah alias pada waktu setelah Ashar.

6. Mengapa khatib sering memegang tongkat saat khutbah?
Memegang tongkat alias pedang (pada era dahulu) adalah sunnah menurut Mazhab Syafi'i dan Maliki sebagai simbol kewibawaan dan agar tangan khatib tidak bergerak-gerak secara tidak perlu, sehingga jemaah lebih konsentrasi mendengarkan.

7. Apakah angan di antara dua khutbah lebih makbul daripada angan setelah salat?
Keduanya mempunyai keutamaan. Namun, angan di antara dua khutbah mempunyai dalil spesifik sebagai sa'atul ijabah (waktu pengabulan), sementara angan setelah salat adalah waktu umum nan juga sangat baik untuk bermunajat.

8. Apa nan kudu dilakukan jika khatib duduk terlalu singkat?
Cukupkan dengan membaca satu kalimat angan nan mencakup segala keinginan, seperti: "Allahummaghfirli warhamni" (Ya Allah ampuni saya dan sayangi aku) alias "Ya Allah, kabulkanlah hajatku" di dalam hati.

Amalan Jumat untuk Mendapatkan Waktu Mustajab:

  • Datang ke masjid lebih awal sebelum khatib naik mimbar.
  • Melakukan salat sunah Tahiyatul Masjid.
  • Membaca Surat Al-Kahfi sebelum waktu Jumat berakhir.
  • Menyiapkan satu angan unik nan paling diinginkan untuk dibaca di antara dua khutbah.
  • Memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW sepanjang hari.

Referensi: Kitab Al-Majmu' (Imam Nawawi), Kitab Al-Mughni (Ibnu Qudamah), Kitab Al-Fatawa al-Hindiyyah (Mazhab Hanafi), dan Kitab Al-Mudawwanah (Mazhab Maliki).

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑