Dagang AS-Tiongkok Membaik, Beijing Terima Kenaikan Tarif Terbatas

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Dagang AS-Tiongkok Membaik, Beijing Terima Kenaikan Tarif Terbatas Ilustrasi.(Magnific)

HUBUNGAN antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), menunjukkan sinyal stabilisasi nan semakin kuat. Pemerintah Tiongkok mengindikasikan kesediaannya untuk menerima kenaikan tarif AS hingga level tertentu nan disepakati tahun lalu, sembari melanjutkan pembicaraan untuk memperpanjang masa gencatan senjata perdagangan.

Kementerian Perdagangan Tiongkok dalam pernyataan resminya pada Rabu (20/5/2026) menyatakan angan agar AS menghormati komitmen nan dibuat. Beijing menegaskan bahwa tingkat tarif AS terhadap produk Tiongkok tidak boleh melampaui level nan disepakati dalam negosiasi di Kuala Lumpur pada Oktober tahun lalu.

Upaya Memperpanjang Gencatan Senjata

Tim perdagangan dari kedua negara saat ini mendiskusikan perpanjangan kesepakatan satu tahun nan sebelumnya diresmikan dalam KTT Busan, Korea Selatan. Pakta tersebut mencakup penangguhan sejumlah tarif, pembatasan mineral tanah jarang (rare earth), serta penghentian investigasi terhadap industri galangan kapal Tiongkok hingga November tahun ini.

Komentar kementerian ini memberikan optimisme hati-hati bahwa penghentian permusuhan jual beli nan dicapai oleh Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bakal tetap berlaku. Meskipun kunjungan Trump ke Beijing pekan lampau diwarnai peringatan keras mengenai rumor Taiwan, kedua pemimpin sepakat untuk membangun hubungan nan berpusat pada stabilitas.

Poin Utama Kesepakatan:

  • Beijing menerima tarif efektif di kisaran 30% (sesuai kesepakatan Malaysia).
  • Tiongkok berkomitmen membeli 200 pesawat Boeing.
  • Pembelian produk pertanian AS minimal senilai US$17 miliar per tahun hingga 2028.
  • Pembentukan sistem institusional untuk obrolan perdagangan dan investasi bilateral.

Tantangan di Juli

Meskipun ada sinyal positif, tantangan tetap ada. Pemerintahan Trump melalui Menteri Keuangan Scott Bessent mengisyaratkan kemungkinan pemulihan tarif melalui investigasi Section 301 pada Juli mendatang. Langkah ini bermaksud mengembalikan tarif ke level sebelum putusan Mahkamah Agung AS nan sempat menurunkan tarif efektif menjadi sekitar 21%.

Menteri Perdagangan Tiongkok, Wang Wentao, sebelumnya menyatakan kekhawatiran serius atas penyelidikan tersebut. Namun, Beijing tetap membuka pintu kerja sama dengan mengirimkan tim teknis ke AS untuk memeriksa pabrik daging sapi dan memulai komunikasi mengenai bioteknologi pertanian.

Dampak Pasar dan Proyeksi Ekonomi

Indeks saham CSI 300 Tiongkok merespons berita ini dengan stabil, menghapus kerugian awal perdagangan, dan ditutup nyaris tidak berubah. Analis dari Bloomberg Economics, Chang Shu dan David Qu, menilai bahwa perpanjangan gencatan senjata dan keringanan tarif pada peralatan senilai US$30 miliar bakal membantu menstabilkan prospek ekspor Tiongkok.

Namun, mereka memperingatkan bahwa latar belakang ekonomi dunia tetap menantang akibat meningkatnya inflasi, lonjakan imbal hasil obligasi, dan penurunan tajam permintaan domestik. Sebagai catatan, ekspor pertanian AS ke Tiongkok sempat merosot tajam menjadi US$8,3 miliar pada 2025 akibat sengketa dagang, jauh di bawah nomor tahun 2024 nan mencapai US$24 miliar.

Dengan adanya komitmen baru ini, kedua negara berambisi dapat menciptakan kondisi nan menguntungkan bagi ekspansi kerja sama ekonomi dan perdagangan di masa depan. (Bloomberg/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia