Siswa membuka isi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) Ramadan nan diberikan sekaligus untuk tiga hari ke depan, sebelum dipindahkan ke dalam wadah nan disiapkan berdikari untuk dibawa pulang, di SMA Negeri 5 Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (2/3/2026)(Ramdani/MI)
WAKIL Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memprioritaskan pembenahan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dalam negeri daripada ekspansi untuk anak-anak Indonesia nan berguru di Jeddah, Arab Saudi. Menurutnya, pada era kepemimpinan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana, target penerima faedah di Indonesia sendiri hingga sekarang belum sepenuhnya tercapai.
Yahya menilai wacana nan disampaikan mantan kepala BGN Dadan Hindayana tersebut tidak relevan dengan tujuan utama program MBG nan selama ini difokuskan untuk meningkatkan gizi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di Indonesia.
“Pertama, saya menyayangkan wacana anak Indonesia nan sekolah di Arab Saudi mau dikasih MBG. Wacana tersebut sangat tidak relevan dengan tujuan utama program MBG untuk meningkatkan asupan gizi kepada anak-anak sekolah di dalam negeri, serta ibu hamil, ibu menyusui dan balita,” kata Yahya pada Selasa (2/7).
Ia meminta Kepala BGN nan baru lebih konsentrasi memperbaiki kualitas penyelenggaraan MBG, terutama dengan memperketat pengawasan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Nasional (SPPG). Yahya menyoroti tetap adanya kasus keracunan makanan nan terjadi dalam penyelenggaraan program tersebut.
“Kedua, saya mengingatkan kepala BGN untuk konsentrasi kepada peningkatan kualitas MBG dengan meningkatkan pengawasan nan ketat terhadap SPPG lantaran sampai sekarang tetap banyak terjadi kasus keracunan,” ujarnya.
Selain itu, Yahya mengungkapkan tetap terdapat sejumlah SPPG nan belum memenuhi standar dasar operasional, seperti belum mempunyai Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) maupun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Ia juga menegaskan bahwa sasaran penerima faedah program MBG di dalam negeri tetap jauh dari sasaran nan ditetapkan pemerintah. Karena itu, dia meminta BGN tidak mengalihkan perhatian pada rumor nan dinilai belum mendesak.
“Saya minta kepala BGN mengejar sasaran 82 juta penerima faedah pada tahun 2026. Sekarang tetap sekitar 60 juta penerima manfaat. Jangan membikin wacana nan tidak perlu dan tidak relevan untuk dilaksanakan,” tegasnya.
Yahya mempertanyakan argumen BGN lebih menyoroti anak-anak Indonesia di Arab Saudi, sementara jumlah pelajar Indonesia di negara lain justru lebih besar. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·