Curhat Anker Hadapi Anomali KRL: Hari-hari Jadi 'Pepes' hingga 'Samsak' Emosi

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta -

Menjadi anak kereta namalain anker di area Jabodetabek bukan sekadar menempuh perjalanan dari rumah ke tempat kerja. Bagi anker, gerbong kereta rel listrik (KRL) adalah ruang publik nan mempertemukan beragam watak, komplit dengan adu ego, rebutan kursi, hingga situasi unik nan ditemukan khususnya di jam sibuk.

Setiap hari kerja, pemandangan berdempetan layaknya 'ikan pepes' sudah menjadi perihal biasa. Sejumlah anomali dan gesekan antar penumpang kerap mewarnai perjalanan KRL.

Seperti nan dialami oleh Azmah dan Naurah (17), pengguna KRL rute Bogor-Jakarta. Meski tidak berada di jam sibuk, mereka pernah berhadapan dengan penumpang nan bersikap di luar logika perihal tempat duduk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pas itu pernah ke stasiun mana ya, saya lupa. Itu tuh tiba-tiba ada ibu-ibu. Nah ibu-ibunya tuh nggak tahu kenapa tiba-tiba masuk ke kereta terus sembari marah-marah, terus sembari kayak, 'Mbak, permisi dong, saya mau duduk,'" cerita Azmah saat ditemui di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Padahal menurut Azmah, saat kejadian, kondisi gerbong tidak padat dan tetap terbilang lengang. "Padahal itu juga pertama tetap banyak tempat duduk kosong, terus ibu-ibunya kenapa kudu nyuruh saya untuk keluar?" katanya.

Azmah mengaku sempat mengalah. Namun bukannya berhenti, perlakuan ibu tersebut justru berulang.

"Nah terus lenyap itu udah ibu-ibunya marah-marah gitu, saya persilakan ya lantaran saya juga geser ke tempat sebelah nan kosong. Terus ibu-ibunya malah nyamperin saya lagi, nyuruh saya geser lagi. Ya udahlah, lenyap itu udah gitu aja sih," lanjut dia.

Lain perihal dengan Fian (32), pekerja nan setiap hari menggunakan KRL Green Line rute Parung Panjang menuju Palmerah alias Tanah Abang. Dia mengaku kenyang dengan situasi padat saat pagi dan sore hari.

"Jadi 'pepes' itu nyaris setiap hari. Kadang kaki nan dapat menumpu hanya satu, kadang muka nempel punggung orang, kadang bekal roti nan dibawa menjadi gepeng," ujar Fian.

Selain bentuk nan terkuras, Fian kerap menyebut banyak perilaku untuk penumpang di dalam gerbong. Salah satunya penumpang tak tidak masuk kategori prioritas, namun sengaja duduk di bangku prioritas.

"Yang paling sering dijumpai seperti banyak anak muda alias pekerja duduk dan tidur di bangku prioritas. Lansia alias ibu mengandung kadang kudu bangunin untuk meminta kursi," tuturnya.

Tak hanya itu, kebisingan dan gesekan bentuk juga sering memicu cekcok antarsesama pengguna kereta. Khususnya saat momen keluar masuk penumpang saat gerbong dalam keadaan penuh.

"Cek-cok antar penumpang lantaran terdorong alias berdempetan nyaris sering terjadi saat jam sibuk. Biasanya jika ada nan maksa masuk KRL padahal gerbong sudah penuh," lanjut Fian.

Gesekan antar penumpang juga diceritakan Janti (27), nan menaiki KRL rute Stasiun Kranji menuju Tanah Abang di lintasan Blue Line. Sebagai anker sejak masa kuliah, dia mengaku kerap mendapati pertengkaran akibat berdempetan di jam sibuk.

Pengalaman pengguna KRL di Jabodetabek penuh tantangan. (Rumondang/detikcom)Azmah dan Naurah, pengguna KRL di Jabodetabek. (Rumondang/detikcom) Foto: Pengalaman pengguna KRL di Jabodetabek penuh tantangan. (Rumondang/detikcom)

Janti menyebut apalagi pernah menegur langsung seorang penumpang di gerbong unik wanita nan enggan tersenggol.

"Aku pernah tegur mbak mbak, posisi saya lagi di gerbong unik wanita, jadi mbak itu ngedumel lantaran nggak mau kesentuh orang di sekeliling, spontan lah saya tegur 'mbak, jika nggak mau kesentuh naik mobil pribadi aja saja, nggak usah naik KRL'. Ini terjadi waktu rush hour, sekitar jam 7-8 lah seingetku," ungkap Janti.

Menurutnya toleransi antar pengguna kudu selalu dijaga di transportasi publik seperti KRL. "Aku spontan aja, soalnya menurutku ya KRL itu transport bersama, kudu saling mengerti, saling jaga," imbuh Janti.

"Selain itu juga pernah liat orang berantem di dalem gerbong KRL, mostly ya lantaran terlalu berdempetan ya, main dorong-dorongan, sikut-sikutan, apalagi ada nan sengaja nginjek kaki," sambung dia.

Tak jauh berbeda, Ira (26), pengguna rute Rawa Buntu-Tanah Abang. Dia mengaku sempat 'kena mental' saat menggunakan KRL saat rush our.

"Jadi saat itu saya lagi naik KRL dari Stasiun Rawa Buntu ke Tanah Abang dan itu di jam berangkat kerja. Kereta udah padat banget, dan orang juga udah berdesak-desakan. Tiba-tiba seorang wanita di sebelahku marah-marah dan dan bilang ke saya "dasar amatir, baru pertama kali naik kereta ya"," cerita Ira.

Ira mengaku kaget mendengar perkataan itu, karena dia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Namun, akhirnya Ira sadar sempat tak sengaja menyikut orang di sebelahnya saat kereta baru berjalan.

"Jujur awalnya saya terkejut kenapa dia marah lantaran saya tidak merasa melakukan sesuatu nan salah. Ternyata saat KRL nya mulai berjalan, saya tidak sengaja menyikut dia lantaran oleng saat belum dapat pegang di dalam kereta. Dan ya, itu memang pengalaman pertamaku naik KRL saat jam sibuk," tutur Ira.

"Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak menggunakan KRL di jam sibuk, selain memang sudah tidak ada pilihan lain lagi," lanjut dia.

Keadaan di dalam KRL saat jam sibuk kerap membikin Ira sedih. Tetapi dia juga berterima kasih tetap ada akomodasi nan bisa dimanfaatkan untuk mobilitas sehari-hari.

"Sebenernya dengan adanya pilihan transportasi KRL ini sangat membantu kehidupan sebagai perantau di Jakarta. Tetapi memang tetap banyak nan perlu diperhatikan," pungkasnya.

(ond/wnv)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑