Ilustrasi--Dokter ahli penyakit dalam memeriksa kondisi kesehatan seorang pasien kandas ginjal di klinik hemodialisa di RSUD dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur.(ANTARA/Destyan Sujarwoko)
PROSUDER hemodialisis alias terapi cuci darah dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis. Terapi ini berfaedah menggantikan kegunaan ginjal untuk mengeluarkan racun dan sisa metabolisme nan menumpuk di dalam tubuh.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr. Anindia Larasati, Sp.PD, FINASIM, menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis kerap dijuluki sebagai silent killer. Sebutan ini disematkan lantaran penyakit tersebut sering kali tidak memunculkan indikasi hingga kondisinya sudah masuk dalam kategori berat.
Menurut Anindia, hemodialisis sangat diperlukan untuk mengurangi indikasi klinis nan mengganggu kenyamanan pasien, seperti kelelahan, mual, muntah, hingga pembengkakan di bagian tubuh.
"Yang tadinya misalkan pasien mengalami keluhan sigap lelah, mual muntah dan bengkak (awalnya di kaki, perut hingga seluruh tubuh), diharapkan setelah pasien menjalani hemodialisis rutin, keluhan itu bakal berkurang, kualitas hidup meningkat, dan komplikasi pasien di masa depan juga bakal berkurang," ujar Anindia di Jakarta, Senin (22/6).
Mekanisme Kerja Hemodialisis
Secara teknis, hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan darah pasien ke dalam mesin khusus. Di dalam mesin tersebut, darah disaring menggunakan perangkat nan disebut dialiser untuk membersihkan racun.
Setelah proses penyaringan selesai, darah nan telah bersih dialirkan kembali ke dalam tubuh pasien.
Anindia menambahkan, lama alias kebutuhan jangka panjang terapi ini sangat berjuntai pada pemicu kerusakan ginjal pasien.
"Bila aspek nan menyebabkan penurunan kegunaan ginjal adalah proses nan berjalan sudah lama seperti hipertensi, glukosuria melitus alias obesitas nan berkepanjangan, maka mungkin pasien bakal memerlukan hemodialisis berkepanjangan,” tuturnya.
Kedisiplinan Pascaterapi dan Alternatif Pengobatan
Meski telah menjalani cuci darah secara rutin, pasien kandas ginjal kronis tetap diwajibkan untuk melakukan kontrol berkala ke master dan menjalani sejumlah terapi pendukung.
Selain itu, kedisiplinan dalam mengatur pola hidup sehari-hari juga memegang peranan krulial.
"Jangan lupa untuk membatasi (asupan) cairan agar tidak terjadi komplikasi seperti sesak nafas alias bengkak," tambah Anindia.
Di samping hemodialisis menggunakan mesin, Anindia menyebut ada metode penanganan lain nan bisa menjadi opsi bagi pasien, ialah Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) alias dialisis peritoneal nan memanfaatkan rongga perut (peritoneum).
Selain metode dialisis, pilihan terapi definitif lainnya adalah tindakan transplantasi alias pencangkokan ginjal dari pendonor. (Ant/Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·