Namun, ada satu keresahan mendalam nan tersirat dalam cerita Tomo. Dia bercerita, sang anak pernah sampai ke tahap wawancara akhir, namun kudu gugur hanya lantaran kalah oleh mereka nan mempunyai ‘koneksi’ alias orang dalam.
Meski pedih, Tomo tetap teguh pada prinsipnya. Dia melarang keras penggunaan jalur belakang untuk masa depan anaknya.
“Jangan pakai koneksi. Kalau kita kasih kesempatan dengan koneksi, sama saja kita memberikan pendidikan nan nggak baik. Kita kudu jujur. Kalau tidak, efeknya ya seperti sekarang, korupsi berjamaah. Saya nggak mau begitu," kata dia.
Di mata Tomo, kejujuran adalah piagam nan sesungguhnya. Dia mau sang anak, Ageng bangga lantaran mendapatkan pekerjaan atas hasil keringat dan kemampuannya sendiri, bukan lantaran ‘titipan’.
Tomo nan rupanya pernah mengajar juga menyoroti kejadian bumi pendidikan saat ini.
Dia membandingkan zamannya dulu dengan sekarang. Menurutnya, saat ini lulus sekolah alias kuliah terasa lebih mudah secara formalitas, namun seringkali tidak dibarengi dengan kesiapan kerja.
"Dulu lulus D3 saja susahnya bukan main, tapi kita betul-betul siap kerja. Sekarang, menurut saya, banyak nan hanya cari nilai saja, asal lulus, tapi belum siap kerja. Harus banyak pengalaman dulu," tutur Tomo kritis.
Dia berambisi pemerintah tidak hanya memperbanyak job fair secara kuantitas, tetapi juga memperbaiki kualitas pendidikan agar lulusannya betul-betul mempunyai skill nan dibutuhkan industri, bukan sekadar nomor di atas kertas.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·