Cimory Buka-bukaan Cara Jaga Kualitas Sosis Kanzler

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Industri makanan olahan sering disorot mengenai aspek kualitas produk hingga akibat terhadap kesehatan. Namun nan seringkali luput adalah proses kontrol ketat (quality control/QC) nan dilakukan secara konsisten oleh produsen, mulai dari pemilihan bahan baku hingga standar proses produksi untuk memastikan keamanan dan kesehatan makanan olahan untuk dikonsumsi.

Secara sederhana, pengolahan pangan merupakan proses mengubah bahan pangan dari corak asalnya menjadi produk nan lebih aman, tahan disimpan, praktis dan alias siap untuk dikonsumsi. Proses termasuk memasak, pembekuan, fermentasi hingga melakukan pasteurisasi pada dasarnya merupakan corak pengolahan pangan nan telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, memahami sebuah produk pangan tidak cukup hanya dengan memandang apakah produk tersebut termasuk makanan olahan. Bahan baku nan digunakan hingga proses produksi, kandungan nutrisi, metode penyimpanan, hingga gimana produk tersebut dikonsumsi menjadi aspek nan juga perlu diperhatikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam industri pangan modern, kualitas produk apalagi sudah dimulai jauh sebelum makanan sampai ke konsumen akhir. Bahan baku dipilih dan proses produksi menjadi bagian krusial untuk menjaga keamanan sekaligus konsistensi kualitas makanan.

Prinsip tersebut menjadi pendekatan utama nan diterapkan dalam produksi makanan konsumen. CEO Consumer Food Cimory Group, Axel Sutantio nan membawahi upaya makanan konsumen termasuk sosis dengan merek Kanzler.

"Bahan bakunya kudu benar, kemudian prosesnya kudu benar, baru bisa menghasilkan produk nan baik," kata CEO Consumer Food Cimory Group, Axel Sutantio nan membawahi upaya makanan konsumen termasuk sosis dengan merek Kanzler dalam keterangan tertulis, Senin (21/9/2026).

Bagi Axel, titik awalnya adalah memastikan bahan baku nan digunakan sesuai dengan standar produk nan mau dihasilkan. Dalam produk berbasis daging, misalnya, jenis dan kualitas daging menjadi salah satu aspek nan menentukan karakter produk akhir.

Ia menjelaskan bahwa daging nan digunakan untuk produksi sosis Kanzler merupakan 100% fillet ayam tanpa tulang dan kulit, bukan mechanically deboned meat (MDM).

"Untuk daging, kami betul-betul memakai 100% daging fillet, boneless, dan skinless," katanya.

Setelah bahan baku, proses produksi menjadi tahapan berikutnya nan juga sangat penting. Menurutnya, perkembangan teknologi pangan memungkinkan produsen menjaga keamanan dan kualitas makanan melalui pengendalian suhu, proses pemasakan, pembekuan, serta penyimpanan nan semakin presisi, salah satu teknologi nan digunakan adalah individual quick freezing (IQF).

Setelah matang, produk dibekukan dengan sigap sehingga suhu produk turun dalam waktu relatif singkat dibandingkan metode pembekuan konvensional. Pembekuan sigap membantu produk melewati rentang suhu nan mendukung pertumbuhan mikroorganisme seperti kuman dengan lebih sigap sehingga aspek higienis dan kesehatan tetap dipertahankan.

Pada saat nan sama, proses pembekuan nan sigap menghasilkan kristal es berukuran lebih mini sehingga dapat membantu menjaga karakter tekstur produk dibandingkan proses pembekuan nan berjalan lebih lambat.

Teknologi seperti ini menunjukkan bahwa daya simpan suatu makanan tidak selalu berjuntai pada satu pendekatan. Pengendalian suhu dan cold chain juga dapat memainkan peran krusial dalam menjaga produk selama pengedaran dan penyimpanan.

"Kita percaya jika sigap busuk itu lebih baik. Artinya, memang tidak memakai pengawet," ujar Axel, nan merupakan lulusan Food Science & Technology dari Curtin University of Technology, Australia. Pendekatan tersebut menempatkan kontrol bahan baku, proses produksi, dan penyimpanan sebagai bagian krusial dalam menjaga kualitas produk.

Pada akhirnya, obrolan mengenai makanan olahan perlu ditempatkan dalam konteks nan lebih luas. Konsumen dapat memperhatikan komposisi produk, info nilai gizi, porsi konsumsi, serta gimana suatu makanan menjadi bagian dari keseluruhan pola makan sehari-hari.

Tidak hanya dari sisi produknya saja, tetapi konsumen juga bisa memandang siapa produsennya. Apakah sudah berizin, mempunyai sertifikasi nan relevan dan transparan dalam mencantumkan nilai gizi hingga petunjuk konsumsi.

Bagaimanapun juga industri pangan olahan adalah industri nan besar. Apalagi untuk negara seperti Indonesia dengan konsumsi domestic nan menjadi tulang punggung ekonomi. Proses pengolahan makanan juga melibatkan pengetahuan dan teknologi nan terus mendukung peningkatan mutu, keamanan dan kesehatan konsumen.

Saksikan Live DetikPagi:

(ang/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance
↑