Pernahkah Anda membayangkan sebuah kota nan berbanding terbalik dengan lingkungan normal Anda saat ini?
Sebuah kereta melintas di tengah gedung apartemen, jalan raya bertumpuk belasan hingga puluhan lapis, serta pantulan sinar neon dari gedung-gedung pencakar langit nan berdiri tegak di atas perbukitan curam memenuhi lingkungan sekitar Anda. Terdengar seperti cerita fiksi, bukan?
Bagi fans khayalan ilmiah, tentunya tampak seolah-olah movie Blade Runner dan game Cyberpunk 2077 menjadi nyata.
Namun, ini bukanlah khayalan semata. Meskipun tampak seperti hasil rekayasa digital pada latar belakang industri fiksi, tempat semacam ini betul-betul nyata dalam sebuah kota nan berjulukan Chongqing.
Chongqing bukanlah kota biasa. Kota ini dikenal sebagai salah satu megapolitan terbesar di bumi dengan akumulasi populasi sekitar 30 juta penduduk. Kota ini berada di bagian Barat Daya Tiongkok, tepatnya di atas pegunungan serta perbukitan nan diapit oleh Sungai Yangtze dan Sungai Jialing.
Kondisi geografis ini menyebabkan perkembangan Chongqing cukup berbeda dengan kebanyakan kota modern lainnya. Tidak berkembang di wilayah datar, kota ini berkembang secara vertikal. Keunikan ini pun merubah lanskap perkotaan menjadi pemandangan nan memotivasi banyak visitor menjulukinya sebagai “Kota Cyberpunk” (Chen & Luo, 2024)
Dalam beberapa tahun terakhir, Chongqing menjadi salah satu kota viral nan tren di beragam platform media sosial seperti Tiktok, Instagram, YouTube, dan X. Berbagai video mulai dari monorel Liziba nan menembus gedung apartemen, kompleks Hongyadong nan menunjukkan kemiripan dengan bumi fantasi, motorbike shoot nan menampilkan keelokan pemandangan sekitar, serta pemandangan kota bertingkat nan membingungkan pengguna GPS telah ditonton jutaan kali oleh netizen di seluruh dunia.
Popularitas ini menunjukkan akibat nyatanya pada sektor pariwisata. Chongqing Municipal Culture and Tourism Commision (2024) mencatat bahwa kota ini telah menerima sekitar 22,68 juta visitor dengan total pengeluaran nan mencapai 15,4 miliar yuan selama Hari Libur Nasional.
Transformasi singkat dari kota industri nan relatif kurang dikenal visitor internasional menjadi salah satu destinasi urban paling terkenal di Tiongkok ini menunjukkan bahwa daya tarik sebuah kota di abad ke-21 tidak lagi berjuntai pada warisan sejarah alias keelokan alam.
Keberhasilan Chongqing dalam menjual budaya cyberpunk berupa pengalaman visual futuristik melalui strategi pencitraan kota ini pun jelas menimbulkan pertanyaan kritis, gimana sebenarnya Chongqing sangat sigap sukses dalam membangun citranya dan memberi akibat nan signifikan pada sektor pariwisata? Siapa saja nan terlibat dalam strategi ini? Bagaimana gambaran kemajuan dan modernitas “kota cyberpunk” ini dibandingkan dengan realitas kehidupan masyarakat lokal?
Simak penjelasan berikut dari perspektif Pariwisata dalam Hubungan Internasional dengan Konsep Place Branding, Nation Branding dan Soft Power.
Fenomena pariwisata budaya cyberpunk di Chongqing adalah proses berjenjang nan bergerak dari level lokal menuju dunia (dari Tourism Diplomacy ke Public Diplomacy). Diawali dengan bangunan identitas melalui Place Branding, kemudian dilanjutkan dengan ekspansi gambaran menjadi Nation Branding, sehingga pada akhirnya sampai ke tahap keberhasilan Soft Power di tingkat internasional.
Untuk memahami konstelasi tersebut lebih dalam, tulisan ini menggunakan konsep Soft Power Nye sebagai fondasi dasar nan menjelaskan seluruh prosesnya. Nye (2004) mendefinisikan Soft Power sebagai keahlian suatu tokoh (khususnya negara) dalam mencapai tujuannya tanpa menggunakan paksaan seperti kekuatan militer alias ekonomi (Hard Power), melainkan melalui daya tarik nan biasanya berasal dari budaya, nilai-nilai politik, serta kebijakan luar negeri. Melalui daya tarik, diyakini bahwa pihak nan terpengaruh bakal secara sukarela mendukung kepentingan negara pemilik Soft Power ini.
Dalam konteks Chongqing, Tiongkok menggunakan Soft Diplomacy sebagai perangkat untuk mencapai keberhasilan Soft Powernya. Soft Diplomacy ini meliputi Tourism Diplomacy nan terdiri atas Place dan Nation Branding dan pada puncaknya bakal mencapai Public Diplomacy, ialah kondisi ketika Tiongkok tidak perlu bersusah payah mempromosikan Chongqing lantaran daya tarik dari budaya cyberpunk telah mendorong sasaran dunia untuk kembali mempromosikan Chongqing setelah memandang alias mengalami pengalaman wisata langsung disana.
1. Place Branding
Dimulai dengan Place Branding, upaya pembangunan identitas kota nan unik dan mudah dikenali banyak orang. Citra dari identitas ini tidak muncul secara alami, melainkan dibentuk dari campuran pengalaman ruang, kebijakan pemerintah, serta representasi visual nan dikomunikasikan terus-menerus kepada publik. Dapat dilihat dari gimana pemerintah lokal memanfaatkan kondisi geografis nan ekstrim menjadi daya tarik visual.
Dengan langkah mengembangkan prasarana vertikal ke atas melalui kebijakan pembangunannya dan penetapan ikon utama kota melalui komponen seperti Hongyadong, Liziba, dan area Jiefangbei pun semakin memperkuat representasi visual nan ada.
Didukung dengan pemberdayaan keterbatasan nan baik, inilah kenapa Chongqing terbilang mudah dalam menjual daya tariknya sebagai kota nan khas, berbeda dengan kota-kota pariwisata besar di benua lainnya.
2. Nation Branding
Tidak berakhir di level kota, daya tarik ini tersebar melampaui pemisah geografinya melalui peran krusial media sosial. Pada titik ini, Place Branding mulai bergeser menjadi bagian dari Nation Branding. Seorang master kebijakan Inggris, Anholt (2007), menjelaskan bahwa Nation Branding merupakan proses pembentukan reputasi suatu negara di mata dunia, nan tidak hanya berjuntai pada Hard Power, melainkan pada Soft Power.
Dalam konteks Chongqing, kota ini tidak lagi dipandang hanya sebagai lokasi wisata nan menarik, melainkan juga sebagai representasi Tiongkok, ialah negara nan modern, maju, dan futuristik.
Jadi, ini berbeda dengan Place Branding nan menekankan gambaran Chongqing sebagai kota cyberpunk, Nation Branding lebih menekankan pada label nan disematkan kepada negara sebagai satu kesatuan. Artinya, Chongqing menjadi wajah visual Tiongkok di mata global.
Bagi Tiongkok, label negara maju tidak hanya berkedudukan sebagai strategi pariwisata, tetapi juga mempunyai kepentingan politik dan geopolitik nan lebih luas. Dari perspektif domestik, karakter kota futuristik ini dipandang sebagai legitimasi pemerintah lantaran telah sukses dalam modernisasi dan pembangunan kota nan sebelumnya dianggap susah untuk berkembang. Sementara dari lensa geopolitik, gambaran ini berfaedah untuk menggeser persepsi dunia nan selama ini memandang Tiongkok sebagai negara industri tradisional nan dominan pada warisan budaya antik menjadi kekuatan dunia modern nan inovatif. Demikian dapat dipahami bahwa Tiongkok tidak hanya bersaing dalam aspek ekonomi dan militer, melainkan juga dalam perebutan narasi demi membentuk pengaruh dunia melawan raksasa modern lainnya seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Dari sini kerja Soft Power menjadi semakin nyata ketika Public Diplomacy mulai berjalan. Kini para wisatawanlah nan menjadi tokoh utama nan semakin memperluas penyebaran daya tarik Tiongkok, khususnya Chongqing.
Wisatawan ini tidak hanya datang dan menikmati kota begitu saja, mereka juga merekam dan menyebarkan pengalamannya dalam konten nan bakal dipublikasikan di media sosial. Inilah nan kemudian menjadi arus besar info nan semakin memperluas dan memperkuat persepsi dunia terhadap Tiongkok sebagai negara nan modern, kreatif, dan futuristik.
Meskipun Soft Power bekerja dengan baik, Chongqing menyimpan sisi lain nan tidak serta ditampilkan di layar media sosial.
Seperti nan kita ketahui, ledakan pariwisata memang betul memberikan untung ekonomi nan besar bagi negara, khususnya bagi sektor perhotelan, transportasi, kuliner, serta industri imajinatif nan tumbuh di sekitar destinasi nan viral ini.
Namun dibalik keramaian nan ditampilkan, tidak semua orang merasakan impak nan sama.
Benar bahwa sebagian masyarakat ikut menikmati kesempatan ekonomi nan timbul dari meningkatnya pariwisata Chongqing, tetapi perlu diingat juga bahwa sebagian masyarakat lainnya tidak bisa bersaing dan hanya dapat menyaksikan cepatnya transformasi kota ini. Ini terjadi lantaran struktur kekuasan sangat jelas dominan pada pemerintah daerah, developer properti, dan penanammodal (State-led Touristification).
Disini pariwisata tidak lagi hanya membahas soal sebuah kota nan menjadi terkenal dan meningkatkan gambaran serta power negara, tetapi juga membahas persoalan siapa nan sebenarnya diuntungkan dari ketenaran ini?
Kita awali dengan memahami secara kritis apa makna dibalik identitas “kota cyberpunk” nan melekat pada Chongqing.
Secara khayalan budaya populer, Cyberpunk ternyata bukan hanya persoalan teknologi canggih, gedung tinggi, dan lampu neon. Istilah ini nyatanya menekankan pada ketimpangan sosial nan hidup berdampingan dengan kemajuan (high-tech, low life). Identitas ini sejalan dengan gimana paradoks nan terjadi di Chongqing.
Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk kota dengan gambaran futuristik di media sosial, rupanya tetap terdapat realitas seperti Bangbang Army. Ini merupakan kumpulan para pekerja angkut peralatan konvensional nan tetap menggunakan tenaga bentuk dan tongkat bambu untuk mengangkut peralatan visitor melewati jalan curam di kota. Kelompok ini bukanlah bagian dari visual bagus nan sering dipromosikan, melainkan bagian dari realita dalam kehidupan di Chongqing (Chen, 2024).
Kontras ini menampilkan dua wajah Chongqing. Di satu sisi menjadi kota modern nan memukau bumi dengan penuh sinar dan prasarana ekstrem nan memanjakan kamera, sementara di sisi sebaliknya tetap menjadi kota nan berjuntai pada kerja bentuk berat dengan ketimpangan urbanisasi ekonomi.
Dengan ini, terlihat bahwa gambaran cyberpunk yang ditampilkan bukan sepenuhnya merupakan hasil buatan identitas, melainkan juga lahir dari realitas sosial nan kompleks. Chongqing juga menampilkan bahwa pariwisata tidak hanya membentuk gambaran kota, negara, dan menyukseskan proyeksi Soft Power di kancah global, melainkan membentuk pemahaman bakal realitas didalamnya lantaran apa nan viral bukanlah keseluruhan kota, melainkan bagian nan paling menjual daya tarik saja. Ini menjadi pengingat bahwa di kembali gemerlap kota megapolitan, selalu ada struktur sosial penopang nan tidak mempunyai kesempatan bercahaya serupa.
Seluruh kejadian ini menunjukkan bahwa perlu adanya keseimbangan antara pembangunan gambaran dunia dan realitas sosial lokal dalam strategi sektor pariwisata. Pemerintah wilayah Chongqing kudu memberikan konsentrasi lebih untuk memastikan bahwa untung ekonomi pariwisata berbasis budaya cyberpunk ini dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat lokal. Secara konkret ini dapat dilakukan dengan merubah model lama pengembangan pariwisata State-led Touristification yang berorientasi pada lingkaran pemerintah, investor, dan perencana kota menjadi kebijakan Community Based Tourism agar masyarakat lokal terlibat langsung dalam rantai sosial ekonomi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·