China Respons Iran-Israel Saling Serang

Sedang Trending 4 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - China mengatakan pihaknya "sangat prihatin" atas serangan baru antara Israel dan Iran, Senin (8/6/2026). China apalagi berambisi gencatan senjata dalam perang Timur Tengah bakal tetap dihormati.

"Melanjutkan permusuhan bukanlah kepentingan pihak mana pun," kata ahli bicara Kementerian Luar Negeri Lin Jian dalam konvensi pers, dimuat AFP.

"Diharapkan semua pihak mengenai bakal memenuhi komitmen mereka terhadap gencatan senjata," tegasnya.

Sebelumnya, Timur Tengah kembali memanas. Iran dan Israel dilaporkan saling melancarkan serangan.

Dalam pembaruan terbaru Senin siang, Israel melancarkan serangan rudal ke beberapa wilayah di Iran. Ini sebagai jawaban rentetan rudal nan ditembakkan Iran Minggu ke Israel, lantaran serangan Tel Lebanon selatan, nan dianggap Teheran pelanggaran gencatan senjata.

Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah menyerang beberapa sasaran di kompleks petrokimia di Mahshahr, di barat daya Iran. Media Iran mengonfirmasi dengan mengatakan Israel telah menyerang sebuah perusahaan petrokimia di Mahshahr di barat daya Iran. 

Eskalasi terjadi saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya untuk mengendalikan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, lantaran Israel menuduh Teheran melakukan "kesalahan besar". Kepada laman Axios dia menjelaskan gimana dirinya meminta Bibi, panggilan Netanyahu, untuk tidak membalas.

"Saya bakal menelepon Bibi sekarang juga dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas," kata Trump seperti dikutip oleh wartawan Axios, Barak Ravid, dalam sebuah wawancara telepon, menggunakan nama panggilan Netanyahu.

"Israel telah melakukan serangannya dan Iran telah melakukan serangannya. Kita tidak memerlukan serangan lain," kata Trump dilaporkan.

Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Trump juga mengatakan menyarankan ke Iran untuk tak menembak rudal. Ia meminta Iran kembali ke perundingan dengan AS.

Sebelumnya, Iran bersikeras bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen juga kudu menghentikan bentrok paralel di Lebanon. Di mana Israel sedang melakukan kampanye melawan aktivitas Hizbullah nan didukung Iran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ali Safari, mengatakan kepada televisi Al-Mayadeen bahwa serangan Teheran pada hari Minggu terjadi setelah berminggu-minggu menahan diri terhadap agresi Israel. Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut serangan itu sebagai "peringatan" setelah Israel menyerang pinggiran selatan Beirut sebelumnya pada hari itu, menakut-nakuti serangan nan lebih luas jika terjadi agresi berulang.

Serangan Iran lain juga diketahui menyerang wilayah Kurdistan, Irak, Senin. Pemerintah Iran menuduh partai-partai Kurdi bersenjata melayani kepentingan Barat alias Israel.

Sementara itu, tentara Israel juga mengatakan pada hari Senin bahwa mereka sedang berupaya mencegat rudal nan diluncurkan dari Yaman. Kelompok pro Israel, Houthi, dilaporkan mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Tak hanya itu, Houthi juga mengumumkan penutupan Laut Merah untuk kepentingan Israel. Ini meningkatkan kekhawatiran bakal kembalinya gangguan besar pada rute utama perdagangan dunia.

"Kami mendeklarasikan larangan menyeluruh dan total terhadap navigasi maritim Israel di Laut Merah," demikian pernyataan angkatan bersenjata Houthi.

"Kami menganggap semua aktivitas musuh sebagai sasaran militer nan sah bagi angkatan bersenjata kami sejak pernyataan ini dikeluarkan," tegasnya.

Kelompok Houthi mengganggu kapal-kapal kargo di jalur laut krusial tersebut selama perang Israel-Hamas, sehingga memaksa banyak perusahaan mengambil jalan memutar nan panjang di sekitar ujung Afrika bagian selatan.

Ancaman mereka muncul ketika Selat Hormuz, pintu gerbang ke Laut Teluk dan eksportir energinya, tetap diblokade oleh Iran akibat perang Timur Tengah dengan AS dan Israel.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News